04 Desember 2016

opini musri nauli : AKU MEMILIH MUNDUR

                       
Tiba-tiba “Keislaman”ku dipertanyakan, digugat, dipersoalkan. Tiba-tiba keislamanku disalahkan. Tiba-tiba kemudian aku ngeri mendengkar kata”kafir” terhadap mereka yang berbeda paham



Karena memang ilmu agamaku dangkal. Atau memang aku yang bodoh kemudian “wiridan”, qunud, jilbab, atau kata “insya allah” kemudian kehilangan makna.

Namun jangan pula kemudian aku dikatakan “sesat” apabila aku kemudian melakukan wiridan, qunud ataupun nyekar di makam para Kiyai. Ataupun aku memilih mengadakan yasinan 3 hari, 7 hari ataupun 40 hari. Walaupun aku bukan juga nahdiyin. Walaupun aku lebih suka mengikuti awal Ramadhan dan awal Syawal dengan penghitungan waktu (hisab). Biarlah itu menjadi amalan yang Tuhan pasti tahu yang sebenarnya.

Dari siang tadi, kegelisahanku menemukan puncaknya malam ini. Dalam diskusi di group alumni sekolah, aku sudah sampaikan. Agar di group Wattapp tidak perlu diskusi agama. Terlepas diskusi agama Islam, agama yang kuanut, namun di group sebaiknya cerita-cerita ringan sesame atau suasana waktu sekolah. Aku butuh suasana kebersamaan waktu sekolah. Tidak mau diskusi berat-berat. Ataupun aku coba tawarkan silahkan buat diskusi group WA. Tanpa mengundangku.

Tidak perlu persoalkan agamaku. Ajaran islam yang diwariskan oleh nenekku, diwajibkan oleh orang tua. Tidak perlu itu.

Sampai sekarang aku masih memilih dan menetapkan itu ajaran dan pilihanku sendiri. Menganut agama Islam.

Tidak perlu “direcoki” dengan persoalan bid’ah. Persoalan sesat ataupun pernyataan kafir. Biarlah aku belajar dan menemukan sumber yang kupercaya.

Tidak perlu juga bilang sesat dan masuk neraka. Karena aku juga tahu “siapa yang masuk neraka. Dan siapa yang masuk surge.

Dan tidak perlu juga persoalkan keyakinanku. Biarlah keyakinanku mampu memberikan kenyamanan dan ketentraman kepada teman-temanku. Walaupun berbeda keyakinan.

Di Sekolah dulu, kita tidak pernah berdebat tentang agama. Biarlah suasana itu ingin kurasakan..

Maaf. Teman. Aku memilih mundur dari group ini.

Karena aku percaya. Persahabatan tanpa sekat adalah persahabatan sejati.

Dan aku percaya, masih banyak teman-teman yang rela bersahabat denganku tanpa harus mempersoalkan ataupun mendiskusikan agama. Kami bertemu dengan ikrar waktu sekolah dulu. Ikrar yang tidak mudah lapuk oleh pergantian waktu.