02 Desember 2016

opini musri nauli : KITA DAN HANTU


Selama dua tahun ini, kita disuguhkan berita-berita hoax, caci maki, berita pelintiran, tidak nyambung, saling menyalahkan, memperkeruh keadaan, logika tidak jalan hingga berbagai issu yang bikin suasana bikin kisruh.

Jokowi dan Ahok dijadikan sasaran tembak. Entah betul atau tidak berita yang dishare, tapi Jokowi dan Ahok sering disalahkan dan dan menjadi penyebab kekisruahan.

Entah pengguna medsos, masyarakat bahkan pejabat yang mendiskusikan tentang berita dari medsos. Dan untuk membantu alur  memahami, maka saya akan beberapa contoh bagaimana logika tidak jalan.
MENGHINA ULAMA

Entah koplok atau “sok tahu”, berbagai medsos “menghajar” ulama-ulama sepuh yang kadar keilmuannya tidak diragukan lagi. Gus Mus, Buya Syafie, Quraish Shihab, Said Agil Siroj.

Medsos kemudian “memborbardir” issu bid’ah dari seorang artis yang enteng ngomong di televisi. Artis yang datang entah darimana, “seakan-akan” fasih bercerita tentang bid’ah.

Bagaimana saya percaya. Jangankan Menafsirkan. Tajwid aja tidak lurus. Jadi. Bagaimana pula saya percaya dengan omongannya.

Namun medsos kemudian tidak henti-hentinya mempersoalkan bid’ah dan meragukan keulamaan dari Gus Mus, Quraish Shihab maupun Said Aqil Siroj. 

BERITA BOHONG

Issu komunis dan issu Syiah merupakan issu sensitive dan memancing kemarahanan rakyat. Entah koplok atau memang hendak mengail di air keruh, berita ini menggelinding “bak salju”.

Dalam suasana pilres, Jokowi sering dipelintir dengan berita komunis. Dan entah darimana sumbernya, berita ini kemudian mempengaruhi pemilih pilres. 2 tahun kemudian penyebar berita “Obor Rakya” disidangkan dan kita mengetahui, hukuman pidana telah menyatakan bersalah.

Tidak cukup dengan Jokowi. Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj bahkan mantan Menteri Agama, Quraish Shihab, ahli tafsir kemudian disebut Syiah. Issu sensitive yang bikin heboh negeri.

Namun entah “terlalu” bersemangat, bahkan ada juga yang jurnalis, disatu sisi menyelesaikan beritanya  namun juga share berita hoax.

Ah. Bikin geleng-geleng kepala saja.

JOKOWI DAN AHOH

Entah nyambung atau tidak, atau disambung-sambung, setiap permasalahan di negeri ini haruslah disalahkan Jokowi atau Ahok.

Diangkatnya Setya Novanto, Ketua DPR-RI yang pasti dipilih oleh anggota DPR, malah meme beterbangan pernyataan Jokowi dalam issu “papa minta saham”. Coba hayo. Yang dipilih Ketua DPR, kok Presiden dijadikan meme.

Bahkan seorang pembesar dengan “enteng” menuduh masuknya 10 juta pekerja dari Tiongkok. Sayapun geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin pembesar yang menyandang gelar berteret, sering tampil di media tapi kok percaya berita hoax.

Emangnya mudah memasukkan pekerja 10 juta orang. Lha wong menarik minat mendatangkan turis 10 juta, Negara sibuk promosi di berbagai dunia.

Banjir di daerah Jawa Barat,  Gubernur cuma meminta berdoa dan bersabar. Banjir di Bandung, Ahok kena getahnya.

BERITA PELINTIRAN

Nah. Kalo berita pelintiran jangan disebutkan jumlahnya. Situs-situs abal-abal sering menyampaikan berita pelintiran. Berita sebenarnya “discreenshoot”, diedit ditambahkan nada provokatif dan kemudian dishare.

Tidak cukup tukang sate ataupun penjaga warnet yang melakukan. Bahkan yang mengaku dari kampus, mengajar ilmu jurnalistik, sedang mengambil gelar Doktor di Belanda kemudian dengan enteng kemudian menyebarkannya dan membikin “degup” jantung negeri sedang dipertaruhkan.

Berita ini kemudian menjadi berita paling panas tahun 2016. Bahkan berita paling panas setelah pilpres.

Lalu mengapa “gonjang-ganjing” ini sedang menggema di dunia ini.

Pertama. Manusia yang percaya berita dari hantu kemudian mendiskusikannya dan kemudian menjadikan kebenaran, maka ada sesuatu yang salah dari informasi yang diterimanya.

Mengapa ada nada kebencian terhadap NU, Muhammadiyah, ulama sepuh, Jokowi dan Ahok ?

Terlepas dari kasus Ahok, issu ini terus menggelinding dan memakan korban saling berjatuhan.

Ulama sepuh seperti Gus Musa tau Said Aqil Siroj tidak terlepas dari issu panas dan terus berhadapan dengan medsos.

Tidak cukup dengan perdebatan panas bahkan issu penggulinggan sebagai Ketua Umum PBNU terus disuarakan. Ah. Benteng terus digempur hingga NU tidak menjadi benteng mengawal kebenaran.

Kedua. Penegakkan Hukum terhadap pelaku penyebar berita medsos yang kurang maksimal.

Iss Rush money yang dilakukan oleh seorang guru SMK di Jakarta, seorang pendidik yang menyampaikan pendidikan yang baik kepada muridnya, justru terjebak dengan issu sensitive. Rush Money. Sebuah isu tidak main-main. Bahkan dapat dikategorikan sebagai “issu bom”.

Selain itu praktis, terhadap penyebar berita hoax tidak terdengar lagi kabarnya.

Ketiga. Meruntuhkan symbol-simbol pengawal kebenaran.

Menghajar NU namun tidak berhasil. NU kemudian menjadi benteng kokoh mengawal kebenaran. Islam, Kebangsaan dan kemanusiaan dalam satu tarikan nafas merupakan “sikap patriotic” NU yang handal didalam mengawal Keindonesiaan.

NU kemudian dianggap sebagai benteng yang harus dirobohkan. Dari ranah ini, kemudian NU menjadi “sasaran” tembak yang terus menerus disasar.

Begitu juga Quraish Shihab sebagai ahli tafsir. Dalam berbagai tema penting, tausiah Quraish Shihab mampu menjernihkan persoalan dan mengembalikan makna Islam sebagai agama bagi semua umat manusia. Rahmatan lil Alamin.

Kesulitan berargumentasi dengan Quraish Shihab kemudian menyebabkan, serangan kepada Quraish Shihab menjadi personal. Quraish Shihab kemudian dituduh Syiah. Bahkan putri Quraish Shihab, Najwa Shihab sebagai pembaca acara “Mata Najwa” dipersoalkan tidak memakai jilbab.

Upaya menghajar dari segi personal dilakukan selain meruntuhkan integritasnya juga bertujuan agar “tausiah” tidak menjadi bahan pembanding dari serangan dari dunia maya.

Keempat. Mengalihkan persoalan

Dengan serangan sistematis , cyber war ketika kehilangan issu, mulai mengalihkan persoalan.

Masih ingat ketika paska Pilpres, tiba-tiba berita kemudian digiring ke persoalan Palestina. Namun entah dukungan apa yang diberikan kepada Palestina, namun persoalan kemanusiaan Palestina tidak mendapatkan porsi yang cukup dari dukungan yang diberikan oleh Indonesia.

Atau masih ingat dengan ditetapkan Ahok sebagai tersangka. Tiba-tiba konsentrasi kemudian diberikan kepada Rohingya. Sembari menunggu tanggal 2 Desember, Issu Rohingya dijadikan sebagai issu perekat.

Membaca suasana gaduh di negeri ini,  maka kemudian tidak salah, hantu terus berkeliaran menghinggapi pikiran kita. Hantu terus menebar teror, menciptakan permusuhan, mempersoalkan aqidah, mengusung issu agama menjadi trending politik di kancah negeri.

Kita tidak lagi dibebani berfikir mengenai kebangsaan, pluralism, masalah pangan, masalah banjir, masalah tanah atapun masalah kesehatan yang tidak diurus oleh Negara.

Hantu kemudian mengelilingi pikiran kita dan menciptakan teror baru yang lebih dahsyat dampaknya dari alam bawah sadar.

Hantu kemudian menempatkan sebagai manusia dungu. Percaya kepada hantu yang memberikan kabar namun kemudian kabur tidak bertanggungjawab.

Sudah saatnya manusialah yang menjadi pengendali. Mengusir hantu dari pikiran kita agar bisa tetap berfikir jernih.