04 Januari 2017

opini musri nauli : MAS GIE


Namanya Sugianto. Kami biasa memanggilnya “Mas Gie”. Pendeta yang berada di lingkaran perlawanan Jambi awal tahun 2000-an.
Saya sengaja “mempertebal” makna “Pendeta” di tengah “kegalauan” public ketika memberikan materi Pancasila di kampus islam ternama di Jambi.

Riuh dan polemic mewarnai paska pertemuan. Sahabat-sahabat saya yang mengundang kemudian “disidangkan” oleh kampus. Berbagai isu kemudian meruyak. Dianggap membawa aliran. Dianggap membawa pengaruh buruk kepada mahasiswa.

Ah. Entahlah. Yang kutahu pasti, para pengundang menceritakan kepada saya sambil tertawa. Tentu tidak lupa mengisap rokok Sampoerna putih khas mahasiswa.

Gerejanyapun kemudian menjadi “sarang” berkumpul aktivis mahasiswa. Termasuk aktivis buruh dan aktivis petani yang sedang sibuk mempersiapkan berbagai aksi-aksi.

Pergaulan lintas agama membuat Mas Gie menjadi familiar di berbagai generasi. Menjadi tempat “oase” membicarakan berbagai gagasan. Termasuk menyebarkan berbagai buku yang bagi kami adalah “harta karun”.

Dari sana, saya menemukan tempat bertemu. Setelah berpetualang di berbagai tempat seperti Palembang, Lampung, Bandung Jakarta, sosok seperti Romo Sandyan begitu melekat (Pada saat itu, sosok Romo Sandiyan merupakan sosok idola di kalangan gerakan).

Sebagai teman, Mas Gie adalah “tempat” bertemunya berbagai teman yang terpisah oleh gagasan. Sebagai Abang, Mas Gie “memanggil” saya ketika ditemukan kekeliruan. Menjaga saya dari “fitnah” namun menegur keras ketika bertemu berdua.

Dalam berbagai pertemuan, suasana kemanusiaan begitu terasa. Kami tidka pernah berdiskusi agama. Bagi kami tidak pernah mendiskusikan tema-tema yang begitu sensitive.

Sebagai pendeta, saya juga mendengarkan, Mas Gie dipersoalkan oleh jemaatnya. Tempat kediamannya yang selalu ramai pasti memantik perhatian. Namun jawaban sama juga saya temukan. Bercerita sambil tertawa.

Setelah meninggalkan Jambi, hampir praktis saya bertegur sapa di dunia maya. Saling mengirimkan kabar sembari menceritakan issu politik dengan tertawa.

Menjelang akhir tahun, saya mendapatkan kabar. Beliau ditangkap di sebuah secretariat di Jakarta.

Saya tidak peduli kasus apa yang menimpanya. Namun yang saya tahu pasti. Berada di lingkaran masyarakat tertindas merupakan sebuah konsekwensi dari sebuah pilihan. Pilihan yang tidak perlu saya pertanyakan kepadanya. Hingga hari ini saya tidak pernah menanyakan kronologis ataupun peristiwa sesungguhnya. Biarlah itu menjadi misteri yang bisa dijawab dimuka persidangan.

Dan saya kemudian menetapkan pilihan.

Dengan jubah, Mas Gie menyebarkan perdamaian. Dan dengan jubah pula, saya berada disampingnya. Berada di pusaran masyarakat terpinggirkan.