23 Maret 2017

opini musri nauli : BU PATMI – MELAWAN DENGAN DIAM


Bu Patmi. Namanya pendek. Tanpa dialek. Tenang, teduh, tanpa suara. Berdiam di depan istana. Semua mengharu-biru ketika sendok semen pertama kali kemudian dituangkan kedalam kotak yang berisi kaki. Air mata kemudian tidak sadar menetes. Dari kejauhan, rasa sesak tidak dapat disembunyikan.


Ya. Bu Patmi adalah barisan 9 orang perempuan kendeng. Melawan tanpa suara. Bersenandung. Tapi tetap kukuh bertahan. Mengajarkan arti perlawanan. Melawan berbagai kekuatan Negara yang mengepungnya.

Kampus terkenal, akademisi, birokrat yang bandel, bahkan “keras kepala” kepala Negara dan berbagai macam tuduhan bahkan meragukan ketulusan arti perjuangan dilawan dengan senyuman, diam bahkan kadang bersenandung.

Bu Patmi bukan penggemar Hollywood. Bukan juga penggemar film laga memperebutkan air. Mungkin bu Patmi tidak kenal Alvin Anson, Beau Ballinger, Monica Leigh yang membintangi film Water Wars (2014). Atau Kevin Costner, Dennis Hooper, Jeanne Tripplehorn, Tina Majorino yang membintangi Film “Water World (1995).  Kedua film yang kemudian mengingatkan pentingnya air melebihi pentingnya emas, senjata bahkan kekuasaan.

Lihatlah kedua film laga memperebutkan wilayah, memperebutkan air setelah peradaban besar dunia kemudian hancur oleh perang.

Berbeda dengan kedua film yang mendapatkan air, kehidupan dengan senjata, kekuasaan, bu Patmi “mempertahankan” dengan senyuman, diam dan bersenandung.

Bu Patmi kemudian mengajarkan perlawanan dengna sabar, tekun, kukuh mempertahankan keyakinan. Keyakinan terhadap ibu bumi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Alam bawah sadar kemudian mengajarkan arti pentingnya air. Sebuah ajaran leluhur yang tetap bergema di abad modern.

Bu Patmi kemudian melawan tanpa berteriak. Tanpa protes terhadap ketidakadilan. Namun melawan dengan bertahan. Mempertahankan bumi dan air tanpa banyak memberikan penjelasan.

Bu Patmi kemudian meladeni “kebawelan” kelas menengah Indonesia. Yang meragukan perjuangannya. Yang menuduh penyiksaan terhadap tubuh perempuan sebagai symbol perlawanan. Yang menyediakan dirinya untuk bertahan tanpa harus mengatakan.

Teringat dalam sebuah pertemuan di kampus di Jakarta ketika 9 perempuan Kendeng bersenandung di tengah pertemuan. Sambil diterjemahkan bait-bait senandung, sang penembang kemudian menawarkan arti. Menawarkan tema perlawanan dengan senandung. Sembari mengingatkan Negara akan makna perlawanan.

Senandung itu kemudian bergema di ruangan. Senyap namun kaya makna.

Bu Patmi kemudian menyadarkan. Membuka mata semua orang yang bicara air dari gallon atau air kemasan. Ataupun membicarakan air dari gedung nyaman di ruang pendingin kemudian tertawa terbahak-bahak.
Bu Patmi membawa peradaban tanpa harus meninggalkan makna air. Menyadarkan dan membuka mata semuanya.

Bu Patmi mengajarkan arti perlawanan dengan diam. Perlawanan dengan senandung. Mengingatkan tanpa mengajarkan. Mengajak tanpa menggurui. Membawa barisan panjang tanpa harus berteriak di terik matahari.

Selamat Jalan, bu Patmi. Tubuhmu yang kemudian engkau sediakan kemudian membawa arti.