22 April 2017

opini musri nauli : JAMBI DARURAT PANGAN



Sejarah Jambi sebagai penghasil merica[1] dan karet[2] telah dikenal didalam perdagangan Asia Tenggara. Sebagai penghasil merica di Abad XVII – XVIII dan karet sebagai penghasil nomor 2 hindia Belanda, jalur pantai timur Sumatra dilalui oleh para pedagang- pedagang Muslim yang berasal dari Arab, Gujarat, Persia, China, dan India. Sehingga tidak salah kemudian Jambi dikenal sebagai daerah yang kaya.
Namun disatu sisi, berbanding terbalik dengan penghasil merica dan karet. Jambi juga dikenal sebagai daerah “importer” Padi. Perang berkecamuk terus menerus antara Jambi dengan Palembang, Jambi dengan Johor, putusnya suplai beras dari Siam dan Mataram[3] mendorong Jambi untuk menanam Padi. Di Muara Siau kemudian diubah dari perkebunan Merica menjadi padi. Dan denda 10 rijksdaalder apabila menolak.
Sejarah padi tidak dapat dilepaskan dari teknologi dibawa migrasi yang berasal dari India[4]. Diduga kuat padi dibawa masuk ke Jawa dan kepulauan Asia Tenggara lainnya oleh bangsa Austronesia yang pertama kali dibudidayakan di China Tengah. Diperkirakan bahwa padi padi mulai dibudidayakan di Pulau Jawa sejak sekitar 4000 tahun yang lalu[5]. Anthony Reid menjelaskan bahwa beras merupakan bahan makanan utama masyarakat Asia Tenggara. Bahan tersebut diperoleh dengan menggunakan teknologi yang agak primitif[6].
Menurut data arkeologi, migrasi telah terjadi setidaknya sejak 2 juta tahun yang lalu sejak Kala Plestosen, dimana Homo Erectus mengembara keluar dari Benua Afrika (menurut teori Out of Africa) menuju Benua Eropa kemudian menuju Benua Asia. Di Indonesia jejak-jejak Homo Erectus[7].

Zaman Protosejarah diperkirakan dimulai di sekitar awal-awal Masehi dan berakhir ketika pengaruh Hindu memasuki Nusantara hingga terbentuknya kerajaan-kerajaan yang pertama di sekitar abad ke-4/5 Masehi. Pertanggalan tempayan kubur di Renah Kemumu, Jambi dari ca. 1100 BP (Bonatz 2009) menunjukkan budaya ini berlanjut hingga jauh memasuki zaman sejarah[8].
Berdasarkan temuan artefaknya, dapat ditafsirkan bahwa antara abad ke-5 SM hingga abad ke-2 M, terdapat bentuk kebudayaan yang didasarkan kepada kepandaian seni tuang perunggu, dinamakan Kebudayaan Dong-son. Keterampilan ditandai dengan Mengembangkan seni hias ornament, Mengenal pengecoran logam, Melaksanakan perdagangan barter, Mengenal instrumen music, Memahami astronomi, Menguasai teknik navigasi dan pelayaran, Menggunakan tradisi lisan dalam menyampaikan pengetahuan,. Menguasai teknik irigasi
dan Telah mengenal tata masyarakat yang teratur[9].
Di Jambi dikenal istilah seperti ngambil arin dan baleh arin” atau “narin” atau “pelarian”[10], Gerebuh[11], Nyerayo[12], “Nigoi sawah” [13], “Nugal[14]. Penanaman padi ladang mengunakan alat dari kayu yang diruncingkan untuk membuat lobang tanam yang dinamakan “tugal[15]
Di daerah gambut, juga dikenal seperti “peumoan, pematang,”, tradisi membersihkan lahan seperti pelarian, beselang maupun tata cara membuka lahan seperti melaras, menebang, mereda, melarat, membakar dan memerun[16]maupun teknik mengelola wilayah “peumoan” seperti “mengorot, ngaur, ngiri, menampi sudah dikenal masyarakat.
Sejarah panjang tentang padi juga ditandai dengan benih-benih local padi. Setiap desa-desa di Jambi mengenal padi benih local dengan penamaan yang masih dirawat hingga sekarang. Misalnya Renik Kanal, Pulut Mantung, Silang Jambu, Silang Kudung, Pulut Turun Daun (Desa Tanjung Alam), Seringin Tinggi, Kuning Besar, Pulut Putih, Pulut Hitam (Desa Gedang), Padi rias, Padi Sunggut, Padi Dayang, Padi Lumut, Padi Seribu Naik, Padi Kasar (Lubuk Mandarsyah) adalah nama-nama padi local yang tetap dirawat hingga sekarang. Tentu masih banyak nama-nama setiap desa yang mengenal benih local. Bahkan saya pernah mencatat, ada satu desa hingga mempunyai benih local hingga 15 padi local.
Masyarakat di Jambi juga mengenal alat tradisional seperti Tajak, Luci, galah, Tuai, jangki, bilik sebagai alat bantu untuk padi.[17] Fungsi alat-alat pertanian tradisional digunakan untuk memanen dan memelihara padi baik sebelum atau sesudah pane.
Dengan dirawatnya padi oleh rakyat di Jambi, maka ujaran seperti Padi Menjadi. Airnyo jernih, ikan jinak. Rumput hijau. Kerbo gepuk. Ke aek cemeti keno. Ke darat durian gugu’, merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran di Jambi. Tanda alam bersahabat dan memberikan kemakmuran kepada manusia di sekitarnya.
Penghormatan terhadap padi sering juga diujar didalam makna filosofi seperti “Ilmu padi. Semakin berisi semakin menunduk”. Atau “Menanam padi pasti tumbuh rumput. Tapi menanam rumput tidak mungkin tumbuh padi”.
Kalimat pertama mengisyaratkan agar setiap diri kita mempunyai refleksi terhadap “keagungan” terhadap ilmu. Semakin tinggi ilmu yang didapatkan justru bersikap rendah hati. Dengan rendah hati, maka ketinggian ilmu kemudian dihormati.

Sedangkan kalimat kedua mengisyaratkan, bagaimanapun kebaikan ditebar dimuka bumi, maka tetap ada yang membalaskannya dengan kejahatan. Namun apabila kita menyebarkan kejahatan, maka tidak mungkin akan timbul kebaikan. Dengan demikian, maka sudah seharusnya, tetap menyebarkan kebaikan. Terhadap kejahatan yang dibalas dari kebaikan, maka kejahatan (rumput) tetap harus disiangi (dibuang).

Namun “padi” sebagai warisan leluhur Nenek moyang Jambi kemudian terus tergerus. Dengan jumlah penduduk Jambi 1,06 juta (1971), melonjak terus mencapai 2,02 juta jiwa (1990). Terus naik mencapai 2,4 juta jiwa (2000) dan mencapai 3,09 juta jiwa (2013) dan mencapai 3,3 juta jiwa (2015). BPS menyebutkan lonjakan penduduk hingga 3 x lipat selama 39 tahun.

Tingkat pertumbuhan penduduk ternyata tidak diimbangi dengan hasil produksi pertanian. Dari hasil padi 607 ribu ton (1993) berkurang tinggal 541 ribu ha (2015).

Angka terbalik juga terjadi dengan semakin berkurangnya luas sawah. 120 ribu ha (2003) menurun menjadi 113 ribu ha (2013). Angka ini belum ditambah 12 ribu ha yang dikonversi ke lahan tambang emas.

Berkurangnya luas sawah disebabkan semakin bertambahnya luas kebun sawit yang sudah mencapai 657 ribu ha (2013). Walaupun BPN sendiri sudah mensinyalir mencapai 1,2 juta ha. namun baru 487 ribu ha yang sudah menjadi HGU.

Sawit juga menggerus tanaman karet dari 450 ribu ha (2003) berkurang menjadi 384 ribu ha (2013).

Bahkan luas perkebunan kelapa sawit saat ini sudah 819.237 hektar, 8 kali lipat luas lahan sawah yang tinggal 143,034 hektar. Pada periode 2008-2010 terjadi alih fungsi lahan pangan seluas 75.560 hektar di propinsi ini, alih fungsi terbesar terjadi di wilayah transmigrasi (Trans-PIR) dimana lahan peruntukan tanaman pangan seluas 60.000 hektar seluruhnya diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Hal ini menempatkan Jambi sebagai titik rawan pangan prioritas pertama[18].

Akibat alih fungsi lahan sawah ini Propinsi Jambi hanya mampu memenuhi 11,7 persen kebutuhan berasnya sendiri atau sebesar 350 ton per tahun dari kebutuhan minimal 3.000 ton per tahun[19]
Angka ini belum seberapa ditambah dengan luas pertambangan batubara yang mencapai 1,09 juta ha. Ditambah dengan “kerumitan” kawasan hutan dengan luas 2,1 juta ha yang sulit diakses dan digunakan untuk pertanian. Sehingga praktis, areal pertambangan dan kawasan hutan yang tidak bisa dijadikan lahan pertanian akan mengurangi areal pertanian dari luas wilayah Jambi daratan 4,8 juta ha.

Dengan kalkulasi sederhana 2,1 juta ha kawasan hutan ditambah 1,09 juta areal pertambangan batubara dan 1,2 juta ha sawit, praktis tinggal menyisakan 800 ribu ha yang dapat digunakan.

Padahal dengan kalkulasi rumus konsumsi beras/orang = 0,5 kg/tahun atau (menurut Menteri Pertanian, 2010) konsumsi beras perkapita/ton = 140 kg, maka konsumsi beras yang harus dipenuhi dari Jambi 0,46 juta ton.

Dengan kalkulasi penduduk Jambi 3,3 juta jiwa dengan kalkulasi areal untuk pertanian tinggal 800 ribu dan produksi padi cuma 541 ribu ton/tahun, maka ancaman terhadap pangan sudah didepan mata.



[1] Barbara Watson Andaya, Hidup Bersaudara – Sumatera Tengah Pada Abad XVII – XVIII,Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2016, Hal. 79. Bahkan tahun 1615, Coen memperkirakan setiap tahunnya 2 atau 3 jung besar asal China merapat ke Jambi. Mereka membeli 5.500 pikul merica.
[2] Elsbeth Locher-Scholten, Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial: Hubungan Jambi- Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme Belanda, terj. Noor Cholis, (Jakarta: KITLV dan Banana, 2008). hal 39
[3] Barbara, Op.cit. Hal. 273
[4] Seperti dikemukakan Purseglove dalam karyanya berjudul Tropical Crops.
[5] Christie, Jan Wisseman, “Water and Rice in Early Java and Bali”, dalam Peter Boomgaard (ed.), A World of Water: Rain, Rivers and Seas in Southeast Asian History. Leiden: KITLV Press, 2007, Hal. 235-236
[6] Lihat Onghokham dalam pengantar bukunya Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450- 1680; Jilid 1, Tanah di Bawah Angin (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011), xix.
[7] Simanjuntak, Truman, dkk. Daerah Kaki Gunung Berbagai Tahap Zaman Batu dalam Menyelusuri Sungai, Merunut Waktu. IRD (Lembaga Penelitian Perancis untuk Pembangunan). 2006.
[8] Bonatz, Dominik. 2009. “The Neolithic in the Highlands of Sumatra: Problems of Defenition”, From Distant Tales: Archaeology and Ethnohistory in the Highland of Sumatra, hlm. 43-74. Cambridge Scholars Publishing.
[9] WAGNER, FRIZT A., 1995, Indonesia: Kesenian Suatu Daerah Kepulauan. Tranlated by Hildawati Sidharta. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.
[10]  Petani bekerja di lahan petani yang lain secara bergantian berdasarkan hitungan jumlah hari kerja. Riset Walhi Jambi, 2011
[11]  Jika ada keluarga yang mendapat musibah (misalnya kematian, kecelakaan atau musibah besar lainnya) maka anggota keluarga terdekat atau bisa penduduk dusun secara suka rela membantu menyelesaikan pekerjaan yang mendesak seperti panen padi (nuai), nebas jerami, merumput (membersihkan gulma/rerumputan pada areal ladang tempat menanam padi ladang).
[12] meminta bantu kepada keluarga, tetangga atau dalam skala besar kepada seluruh penduduk (isi alam isi negeri, anak jantan anak betino) untuk membantu meyelesaikan pekerjaan yang mendesak seperti panen padi (nuai).
[13] Mengelola sawah orang lain dengan sistem bagi tiga.  
[14] Bersama-sama dengan petani-petani yang bedekatan lokasi ladang (kelompok talang) menanam padi ladang.
[15] Riset Walhi Jambi, 2011
[16] Bahkan dalam tradisi “merun”, dikenal mantra  hantu tanah, jumblang tanah, Betak biuto, Tembu Beriang, Dibatasi lahan kayu, lahan rempai, Keluarlah dari sini.  Kalau dak mau keluar, lukah dak kami pampah. Mati dak kami bangun.  Kami membakar yang layu yang rengah. Jin Api. Jin Angin bakarlah yang layu yang rengah. Dengan pembacaan mantra, maka api tidak menjalar dan dapat dikendalikan hingga masa menugal.
[17] Bujang Ibrahim, Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya di Daerah Jambi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jambi, Jambi, 1990, hal.
[18] Kompas, 19 Juli 2010
[19] Bulog Divisi Jambi, 2010 dalam Hearing Bersama Komisi III DPRD Prov. Jambi