17 Juni 2017

opini musri nauli : MAJAPAHIT RASA GURIH

Buyar sudah bacaan tentang Negarakertagama karya masterpiece Empu Prapanca. Kronik sejarah yang paling lengkap dituliskan di masa Majapahit lengkap dengan detail waktu perjalanan sang Maharaja Hayam Wuruk dalam periode emas Majapahit. Entah apa yang ada didalam pikiran Slamet Muljana yang tekun menterjemahkan puputan dari daun lontar dari Kronik Majapahit dari bahasa dan sastra Jawi Kuno.


Entah apa pula yang ada didalam pikiran TH Pigeaude yang sudah menerjemahkan kedalam bahasa Inggeris. TH Pigeaude akan uring-uringan setelah menyesal menerjemahkannya.
Atau bahkan J. Ensink tidak tenang di alam kubur ketika sedang melihat kedatangan tahun 60-an kemudian dibantah 50 tahun kemudian. Bahkan Disertasi Suwito Santosa akan dibongkar dari arsip di Universitas Canberra, Australia yang sudah ngendon sejak 1969. Bahkan Kern akan “menghantui” diskusi sejarah yang sudah terkubur sejak tahun 1875.

Bahkan A. Teeuw (tokoh sastra Indonesia) menyesal membuat judul “Sriwaratrikalpa dan Pati Brata” tentang Majapahit.

Pelajaran Sejarah kemudian harus diperbaiki. Kurikulum kemudian harus mengubah tentang sejarah Indonesia kontemporer. Buku-buku klasik sejarah Indonesia karya M. C. Ricklefs harus ditarik dari peredaran karena dianggap karya asing. Ricklefs dianggap telah menyebarkan “pemikiran” dari Negara-negara liberal. Ricklefs tidak mendukung nasionalisme “ala” Indonesia.

J. Ensink, TH Pigeaude, Kern, M. C. Ricklefs, dianggap bangsa kafir. Kafir harus diperangi.

Sedangkan Slamet Muljana, Suwito Santosa dianggap tidak nasionalis. Dan nasionalis harus dikembalikan kepada Indonesia.

Para ahli kemudian berkumpul. Rapat diadakan untuk meluruskan sejarah. Mengembalikan sejarah sebagai jatidiri bangsa Indonesia yang berdaulat.

Instruksi harus dilaksanakan. Indonesia harus berdaulat.

“MARI, BUNG.. REBUT KEMBALI !!!