17 Oktober 2019

opini musri nauli : Paradigma ala Capra




Akhir-akhir ini, pertarungan pemikiran didalam memandang alam memantik polemik panjang. Satu sisi, pemikiran yang menempatkan “alam’ adalah ciptaan dari Sang Pencipta. Ciptaan kepada manusia. Pemikiran ini dikenal sebagai “antrosentris”.

Disisi lain, adanya analisis lingkungan yang kemudian menempatkan alam harus ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Baik dari pendekatan lingkungan, pentingnya lingkungan hidup maupun berbagai aspek-aspek lingkungna lainnya. Pemikiran ini kemudian dikenal sebagai “bio-sentris’.
Kedua pemikiran ini kemudian “bertarung” dan kemudian menguasai wacana public didalam memandang alam.

Cara pandang ini kemudian ditentang dalam aliran biosentrisme. Bagi biosentrisme Manusia tidak boleh hanya dipandang sebagai makhluk sosial ansich (zoon politicon). Manusia juga harus dipandang sebagai makhluk biologis. Dengan menempatkan manusia sebagai makhluk biologis, maka aliran ini kemudian menempatkan manusia sebagai nilai universal sebagai jaringan kehidupan. Bagian dari siklus ekosistem.

Fritjof Capra (Capra), seorang Filsuf dengan teropongnya kemudian memotret pemikiran dan perilaku manusia yang memandang alam. Capra kemudian “menggugat” paradigma yang sering dipergunakan oleh ilmu pengetahuan barat yang berangkat dari Cartesian Mekanistis-reduksionistis. Manusia kemudian tidak memberikan tempat yang seharusnya bagi perasaan atau intuisi manusia didalam memahami alam semesta.

Capra kemudian menggunakan kerangka berfikir Thomas Kuhn mengenai filsafat tentang alam dan filsafat ilmu pengetahuan telah mengalami dua fase sepanjang sejarah filsafat dan ilmu pengetahuan.

Cara berfikir yang berangkat baik Aristotelian maupun Thomas Kuhn menempatkan pemisahan antara “mikro-kosmos” dan “makro-kosmos”. Makro-kosmos juga sering menggunakan istilah “misteri alam yang tidak terpecahkan.

Sedangkan cara pandang Capra justru “melompat jauh”. Manusia adalah kesatuan dengan alam. Alam kosmopolitan menempatkan manusia adalah bagian dari alam.

 Filsafat Tiongkok menyebutkan “tian he yan zai. Si shi xing yan. Bai wu sheng yan. Tian he yan zai. (Apakah Tuhan pernah bicara ? Lihat saja. Empat musim selalu berlangsung silih berganti. Semua ciptaannya hidup berkembang bebas. Apakah Tuhan pernah bicara ?”
Atau “wei tian ming” (menghormati takdir Tuhan).
Makna selaras dengan alam ditandai dengan “Bangau” dan “burung gagak”.

Islam sendiri menempatkan “Al-awalin” (alam)” sebagai tanda” dari ciptaan-Nya (Ibnu Katsir). Sehingga hubungan antara “alam” sebagai tanda dari ciptaan-Nya dengan Sang Pencipta (khalik) adalah dengan cara menghargai ciptaan-Nya untuk mengenal Sang Khalik.

Sehingga manusia adalah bagian dari cosmopolitan. Makna yang kemudian tidak dapat dipisahkan antara mikro-kosmos dan makro-kosmos.

Dengan demikian maka cara berfikir timur kemudian menempatkan “keserasian” dan keseimbangan”.

Makna “keserasian” atau “kerukunan” juga hidup dipemikiran masyarakat Jawa. Makna seperti “rukun” sering dituturkan “negara ingkang panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tenteram tur rajaharja”. Negara yang terkenal, banyak dibicarakan orang, tinggi marbabatnya, luhur budinya dan amat berwibawa.

Dalam serat Negarakertagama Mpu Prapanca, mitologi “rukun” adalah “masihi samasta bhuwana”. Berbuat dan mengasihi sesama. Manifestasinya diwujudkan “memayu hayuning bawana”. Harus menjaga ketentraman, kesejahteraaan dan keseimbangan dunia.

Makna keserasian” atau “kerukunan” atau “rukun” inilah yang kemudian dalam paradigma tentang alam sering disebut sebagai “Ecosentris”. Dimana alam adalah “pusat” dari alam cosmopolitan.

Lompatan besar dipemikiran barat. Namun praktek yang sudah lama dilakukan dalam alam pemikiran Timur.

Lalu ? Siapakah yang bijaksana mengelola alam ?