01 Januari 2019

Opini musri nauli : PANDANGAN KONSTITUSI TERHADAP NOTARIS




PANDANGAN KONSTITUSI TERHADAP NOTARIS
(Studi Kasus Putusan MK terhadap Notaris)

Abstrak

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia membatalkan Pasal 66 UU No 30 Tahun 2004, Undang-Undang Notaris. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menyatakan Pasal 66 UU Notaris bertentangan dengan prinsip kesetaraan di depan hukum. Pertimbangan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menarik untuk ditelaah bagaimana konfigurasi hak untuk menolak mengikuti keputusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Katakunci: notaris, konstitusi, putusan MK Abstract

The Constitutional Court of the Republic of Indonesian cancel article 66 Law No. 30 of 2004, Act of Notary. The Constitutional Court of the Republic of Indonesian declare article 66 act of Notary contrary to the principle equality before the law. Consideration The Constitutional Court of the Republic of Indonesian interesting to view to how configuration right to refuse following the decision the Constitutional Court of the Republic of Indonesian.

Keyword: notaris, constitution, MK decision

29 Desember 2018

opini musri nauli : Teluk Harimau – Kesaktian wilayah Desa Sungai Rambut


 Desa Sungai Rambut adalah Desa yang termasuk kedalam Kecamatan Berbak Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Terletak diseberang sungai Berbak Kecamatan Rantau Rasau. Desa yang telah berdiri sejak tahun 1932.

25 Desember 2018

opini musri nauli : Pahlawan



 

Akhir-akhir ini, kecendrungan kepemimpinan yang bertindak kepahlawanan menjadi ukuran melihat kepemimpinan. Entah menggunakan atribut kebangsaan, menampilkan lambang-lambang kebesaran hingga cerita-cerita epos yang mengiringi perjalanannya.

opini musri nauli : Kontrakan

“Pak Nauli, yang punya rumah berpesan.. Rumah kontrakan ini sudah mau dijual ?”, kata Pak RT yang datang sore hari ke kantor.



“Berapa, pak ?”, kata saya penasaran. Kepo.

“Entahlah. Katanya sudah ada yang berminat. 3,5 milyar”, kata Pak RT. Ketus dan sambil tidak percaya.

“Masa tanah cuma 10 tumbuk, mau dibelikan 3,5 milyar !!, Siapa yang berminat, pak “, lagi-lagi kepo.

Kamipun tertawa.

Demikian dialog singkat kedatangan Pak RT yang datang menjelang habis kontrakan.

Akupun cuma tersenyum. Tanah cuma 10 tumbuk dihargai sampai 3,5 milyar bagiku mengada-ada.

Kalo  1 tumbuk sampai 350 juta, wah. Wah. Wah.. Tidak salah nih. Selain rumah peninggalan lama, yang kupastikan sang pembeli pasti cuma berminat dengan tanah. Lalu apakah sesuai dengan harga 3,5 milyar atau 350 juta setumbuk.

Terletak didalam lorong (jalan kecil), kupastikan, paling tinggi kisaran tanah cuma Rp 50 juta setumbuk. Itupun pasti negosiasi masih bisa kurang.

Di Jambi, pembelian tanah masih mengenal cara penghitungan “Tumbuk”. Tumbuk adalah istilah “tombak”. Satu tombak adalah daya kemampuan orang untuk melemparnya. Ukuranya kemudian diperkirakan 10 meter. Jadi satu tumbuk berarti 10 m x 10 m. Dan lazim masih menggunakan penghitungan.

Akupun tertarik dengan harga tanah dipasaran dipinggir jalan raya. Setahuku, paling tinggi hanya mencapai Rp 200 juta/tumbuk. Itu dipinggir jalan. Lha, kalo masuk, so pasti lebih murah. Dan tidak mungkin mencapai Rp 350 juta/tumbuk.

Pernah satu kali, omku yang merupakan kontraktor pernah menaksir tanah disini. Dengan enteng dia menjawab “Kalau dia mau jual Rp 300 juta. Ambillah”. Waduh, malah lebih murah. Berarti kisaran tanah cuma Rp 30 juta/tumbuk.

Akupun berfikir. Apakah ini cara “pemilik rumah” hendak mengusirku. Ah. Akupun membuang pikiran jauh-jauh. Mungkin dia kebelet dengan luas tanah. Maklum anak pemilik rumah semuanya tinggal di Jakarta.

Kamipun bergegas mencari informasi kontrakan rumah. Dan setelah mendapatkan rumah yang lebih menjanjikan, kamipun pindah.

Lha, apakah ketika kontrakan rumah habis, kemudian seluruh barang-barang kemudian menjadi pemilik rumah.

Enak aja. Ya, Kami angkutlah. Seluruhnya. Seluruh barang milik kami tentu saja kami angkut. Belum lagi seluruh dokumen, poster-poster, peta, lukisan, buku-buku, selebaran, spanduk sisa aksi, alat-alat di kamar mandi seperti sikat lantai, tempat sabun, rak piring, meja tempat aqua, seluruh kursi-kursi, meja, kabel colokan.

Termasuk botol-botol aqua yang digunakan untuk menanam sayur-sayuran, polybag, koran bekas,

Yang tinggal cuma satu bola lampu untuk diluar rumah dan satu bola lampu untuk didalam rumah.

Memerlukan 3 x angkutan mobil back pick up untuk mengangkutnya.

Akupun tidak mengerti dengan pikiran orang yang gampang mengatakan “kalo kontrakan habis, maka barang kemudian menjadi pemilik rumah”.

Sambil menonton youtube, aku cuma tersenyum. Menikmati kantor baru yang kebetulan pemilik rumahnya bersebelahan.

Ramah dan tidak lupa berpesan. “Nanti kalo ada teman-teman yang mau rambutan, ambil saja”.

Alhamdulilah. Rejeki anak sholeh.. 


18 Desember 2018

Konflik Lahan 17 tahun Tuntas Melalui Forum KKSR




Jambi, Gatra.com – Anggota Kelompok Tani (Koptan) Agro Jaya III kini mulai bernapas lega. Konflik lahan mereka selama 17 tahun dengan PT Wira Karya Sakti akhirnya pada Senin (17/12) selesai lewat perundingan.

opini musri nauli : KRITIS


“Yah, ayah ikutkan demo Soeharto dulu ?“, tanya putra keduaku.. Mahasiswa akhir yang mulai kritis. Entah mendapatkan cerita dari sang ibu. Atau punya memori waktu kecil.

17 Desember 2018

opini musri nauli : DUKA HATI JALANAN RUSAK



Mendapatkan kabar jembatan putus Jalur Padang – Padang Panjang – Bukittinggi di Kayutanam membuat hati menjadi duka. Jalur penting dan urat nadi ekonomi di Sumatera Barat.

14 Desember 2018

opini musri nauli : BAHAGIA



“Bang, berapa orang anak ?”. Setiap pertanyaan yang kadangkala membuat jengah.

Ya. Urusan pribadi atau urusan keluarga selalu memulai pembicaraan. Biasanya di kampong-kampung.

13 Desember 2018

Aroma Kongkalikong Menyengat di BWSS IV - Pengamat Hukum : Apa tidak takut KPK



SERUJAMBI.COM, Jambi – Balai Wilayah Sungai Sumatera VI (BWSS VI) akhir-akhir ini “gaduh”. Kegaduhan mulai muncul sejak Oktober 2018 lalu. Ketika itu, beberapa sumber menyebut bahwa oknum-oknum di BWSS VI mulai bagi-bagi paket kegiatan APBN 2019. Aroma kongkalikong sangat menyengat.

08 Desember 2018

opini musri nauli : Kisah Evalia




2 Minggu setelah saya terpilih menjadi Direktur Walhi Jambi, September 2012, saya kemudian membelikan mobil Nissan Evalia (Evalia). Mobil baru pertama. Ya. Sebelumnya cuma mampu membeli mobil bekas. Itupun kredit. Kredit hingga 4 tahun.

Sempat dengar bisik-bisik tetangga. “Waduh. Baru jadi Direktur Walhi, sudah beli mobil”. Akupun tertawa. Senang sekali mendengar gossip dan bisik-bisik tetangga.

Hampir 2 bulan saya terlibat “merapikan SOP” Walhi Jambi. Salah satu tugas mendesak “merapikan” keuangna dan adm. Menguatkan struktur Manager Program dan Manager Keuangan. Sehingga memastikan, seorang Direktur tidak dibenarkan “mengelola uang”. Tidak memegang uang. Sehingga intrik ataupun gossip tentang penyimpangan anggaran dapat diminimalisir.

Praktis selama 2 bulan, keuangan Walhi Jambi masih “nyangkut” di Bank. Belum boleh digunakan. “Pikiran saya cuma satu”. Saya tidak mau dituduh “segala sesuatu” yang saya dapatkan, justru dari Walhi Jambi. Itu yang saya hindarkan.

Makanya, ketika 2 minggu menjadi Direktur Walhi, mobil yang dibelikan benar-benar hasil keringat dari saya sebagai Advokat. Perjalanan panjang sebelum menjadi Direktur Walhi Jambi.

2 bulan menjelang PDLH Walhi Jambi, saya mendapatkan “rejeki’. Perkara yang memuaskan klien ternyata mampu memberikan rejeki berlebih. Rejeki yang dapat digunakan untuk menambah modal kredit mobil.

Prosesnya cukup panjang. Selain memeriksa segala administrasi, proses selanjutnya adalah “memastikan” kemampuan membayar sehingga tidak bermasalah dikemudian hari.

Pada saat PDLH Walhi Jambi, saat menjelang penyampaian visi-misi calon Direktur, saya kemudian ditelephone pihak Dealer. Proses pengajuan kredit mobil disetujui. Dan saya segera ke dealer untuk mengambil mobilnya.

Pikiran berkecamuk. Serasa pengen terbang ke dealer. Membeli mobil impian. Kata orang Jambi “baru buka plastic”. Namun PDLH sedang berlangsung. Dan saya harus mengikuti seluruh tahap-tahap yang telah ditentukan panitia.

Keesokan harinya barulah saya memenuhi impian saya. Menikmati impian yang sudah lama.

Pilihan menggunakan Evalia cuma satu. Mampu untuk mengangkut keluarga besar. Termasuk arus mudik atau menemui putri saya yang sedang kuliah di Palembang. Dan itu saya lakukan selama 4 tahun mengunjungi putri saya.

Termasuk juga menemani perjalanan sidang diluar kota.

Jangan tanya entah berapa KM jarak yang sudah ditempuh. Jangan tanya kisah kisah-kisah perjalanannya. Di Sumatera, cuma Aceh yang belum dijalani.

“Bang, kayak naik alphard’, komentar teman-teman yang pernah merasakannya.
“Iya, Alphard KW”, kataku sembari tersenyum.

Ah. Biarlah KW. Yang penting tidak disita. Seperti Alphard yang kemudian disita.
Itu tuh. Yang didalam berita TV.

Akupun teringat perkataan istriku. “Jangan begaya. Yang penting hasil keringat dewek”.

Akupun kemudian meneguk kopi. Entah mengapa kopi terasa nikmat sekali.


Rumah Perlawanan, 8 Desember 2018