28 September 2013

opini musri nauli : GAYA SERANGAN JOKOWI DAN AHOK



Saran Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi (GF) untuk meminta mundur Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli dicopot dari jabatannya dengan alasan lurah tersebut beragama Kristen menimbulkan reaksi dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Dengan lantang, Ahok menolak permintaan dari Mendagri.

Membicarakan Jakarta tidak dapat dilepaskan dari Jokowi dan Ahok. Dua pasangan serasi yang dengan gaya khas masing-masing, saling mengisi namun tetap kukuh dengan prinsipnya.

Masih ingat serangan Rhoma Irama dalam Pilkada DKI mengenai persoalan agama. Tanpa berapi-api, santai bahkan mengaku sebagai pengagum Rhoma Irama, tentu saja dengan menyanyikan Lagu Rhoma Irama “Begadang”, Jokowi “mempersilahkan” datang ke Solo. Liputan media massa yang melihat keseharian Ibu Joko yang ternyata sudah menunaikan haji, membuat Rhoma Irama “kalah telak”.  Isu ini kemudian redup. Rhoma Irama sempat nangis mengakui kekalahan.

Begitu juga dengan issu Mobil Murah. Jokowi justru menawarkan konsep “angkutan public murah”. Tidak melawan memang. Tapi ketika Jokowi menawarkan konsep “angkutan public murah”, Menteri Perindustrian kebakaran jenggot. Dan “ketahuan” Menteri Perindustrian mendukung industri besar.

Padahal konsep mobil murah harus berangkat dari industry nasional. Bukan mendukung konsep mobil murah yang dihasilkan industry besar yang sudah mapan.

Berbanding terbalik dengan Jokowi. Ahok lebih sering menggunakan “serangan langsung”, menyerang lawan bicara, berdebat dengan stamina tinggi. Meladeni debat hingga lawannya keok

Ketika issu agama “coba dimainkan” dalam Pilkada DKI, Ahok dengan lantang, berujar. Ini Negara Pancasila. Dan saya akan tunduk kepada Pancasila dan Konstitusi.

Pihak-pihak yang keberatan terhadap keberadaan Ahok, tidak bersua lagi.

Begitu juga ketika “menyelesaikan” Tanah Abang, Ahok keluar dengan gagah “meladeni” tantangan dari “penguasa Tanah Abang. Berbagai tawaran untuk menyelesaikan (namun pasti mau melindungi kepentingan ekonomi) tidak digubris Ahok. Ahok tetap kukuh dan menolak tawaran.

Tipikal Jokowi meladeni isu-isu biasanya tersenyum, cengengesan namun dapat memutar balik serangan. Dalam teknik olahraga beladiri Ju jitsu, teknik ini sering diperagakan Jet Lee. Tanpa memulai serangan, Jet Lee mampu “meminjam” tenaga lawan untuk melumpuhkan lawannya. Semakin kuat serangan, maka semakin kuat pula “kemampuan” melumpuhkan lawan.

Kemampuan jujitsu dari Jet Lee dapat kita lihat dalam film-film klasik di televise. Indah sekali cara Jet Lee “menundukkan musuhnya”. Dalam serial komik Wiro Sableng, mempelajari teknik ini sampai tujuh purnama.

Steven Seagal juga mempunyai kemampuan menguasai jujitsu.

Teknik jujitsu lebih “mementingkan insting, kelenturan badan, membaca serangan lawan dan tentu saja “mengggunakan kekuatan lawan” justru melumpuhkan lawan. Teknik ini memerlukan waktu yang cukup lama menguasainya. Sehingga hampir praktis, di kalangan para pendekar persilatan, teknik ini berhasil dikuasai justru ketika usia sudah matang, tenang, stabil emosi dan mempunyai bathin yang suci.

Teknik jujitsu dengan baik diperagakan oleh Jokowi. Dengan tenang, sambil melihat serangan lawan, jawaban Jokowi sering membuat kita mendapatkan pencerahan, namun sebenarnya jawaban dari Jokowi “memutar serangan balik” kepada lawan.

Berbeda dengan Jokowi, Ahok menguasai teknik pertarungan terbuka. Dia akan meladeni pertarungan terbuka. Namun kekuatan Ahok justru di “hock’. Serangan Ahok di “hock” perut lawan, membuat lawan tidak sempat bernapas. Kekuatan stamina dari petarung ini, selain memang mengeluarkan serangan langsung menuju ulu hati dengan teknik hock sering membuat lawan terbengong.

Kita masih ingat dengan Mike Tyson yang hanya “membutuhkan” waktu 91 detik “mengkanvaskanMichael Spinks. Dari 43 kemenangan KO sebelumnya, dia memukul KO lawan di ronde 1 sebanyak 23 kali. Korban KO singkat itu antara lain Hector Mercedes, Trent Singleton, Rick Spain, John Anderson, Lorenzo Canady, Mark Johnson, Dony Long, Robert Colay, Sterling Benjamin, Eddy Richardson, Sammy Scaf, dan Mark Young. Itu dilakukan Tyson pada 1985 dalam usia 19 tahun

Menguasai teknik hock” memang diperlukan Insting yang luar biasa, stamina yang kuat dan tentu saja detail kekuatan lawan. Dalam berbagai tayangan youtube, kekuatan Ahok menghitung lawan cukup cermat diperhatikan oleh AHok. Tayangan seperti “menghock” penguasa Tanah Abang, berhadapan dengan mahasiswa, meladeni supir metromini membuat lawan-lawannya harus “berhitung’ ulang berhadapan dengan Ahok. Ketika lawan berhitung ulang, Ahok pergi dengan senyum kemenangan.

Teknik ini memang “dikuasai” Ahok. Hampir setiap detail kekuatan dan kelemahan lawan dipelajarinya. Sehingga argumentasi Ahok sering ‘hock” dan langsung ke ulu hati lawan. Lawan tidak berkutik ketika berargumentasi berhadapan dengan Ahok yang menguasai data-data. Ahok sering menggunakan litetatur ketatanegaraan untuk menangkis serangan lawan. Jawaban cerdas dari Ahok “menangkis” serangan dari Mendagri sebagai contoh.

Bagaimana dengan Indonesia. Kita mengenal Wiro Sableng yang mempunyai teknik jurus Dewa Mabuk dan pukulan matahari. Teknik jurus Dewa Mabuk sering dimainkan oleh Wiro Sableng. Lawan tidak mudah membaca langkah dan strategi yang akan dimainkan oleh Wiro Sableng.

Sedangkan Pukulan Matahari jarang dipergunakan oleh Wiro Sableng. Selain pukulan itu sangat berbahaya, pukulan Matahari hanya dipergunakan terhadap lawan-lawan yang sulit dikalahkan.

Bagaimana dengna gaya serangan penguasa yang lain ?.. Ha.. ha.. So pasti, gaya serangan yang mereka mainkan sering tidak jelas. Dikatakan menggunakan jurus mabuk seperti Wiro Sableng tidak tepat. Dikatakan teknik jujitsu juga tidak bisa. Dikatakan serangan terbuka “hock” juga tidak bisa.

Lalu apa ya.. Ha.. ha.. Mungkin perpaduan ketiganya. Kadang-kadang  Jurus Dewa Mabuk, kadang-kadang teknik jujitsu, kadang-kadang serangan “hock”.

Tapi mengapa lawan-lawan sering tidak dapat dikalahkan ?. Nah. Itu dia. Karena masing-masing jurus dan teknik dipergunakan tidak tepat untuk lawan, sehingga teknik itu menjadi tidak berguna.

Ya. Para penguasa  menggunakan pukulan hock, namun lawan mempunyai stamina yang kuat. Kemudian menggunakan teknik jujitsu. Tapi serangan lawan tidak bisa dibaca. Kelenturan badan lawan mudah ditangkis. Setelah terdesak barulah digunakan jurus “Dewa mabuk”.

Bisa dibantu saya, ketika Menteri Perindustrian tetap ngotot isu “mobil murah’, atau Mendagri tentang Lurah Lenteng Agung ?  

Baca : LAGI-LAGI JOKOWI