02 April 2015

opini musri nauli : MAKASSAR - PINTU GERBANG TIMUR INDONESIA




Akhirnya sampai juga saya keinginan menginjakkan tanah di Celebes. Negeri masyur yang lebih sering disebut-sebut dalam buku. Mengunjungi Makassar sebagai pintu gerbang timur Indonesia.

Yang terbayang ketika membicarakan negeri Makassar adalah perahu phinisi, pelaut, Suku Bugis, pakaian bodo, penyebaran islam, badik, Sultan Hasanuddin, Jusuf Kalla dan tentu saja dialek yang khas. Berbicara cepat dan tegas. Persis dialek orang Medan.

Sebagai pintu gerbang timur Indonesia, Makassar pintu menuju ke berbagai propinsi di Sulawesi seperti Kendari (Sulawesi Tenggara), Palu (sulawesi Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat), Manado (Sulawesi Utara), Gorontalo, Maluku dan Maluku Utara. Bahkan pintu sebelum menuju ke Papua (Sorong atau Merauke). Walaupun ada penerbangan langsung menuju Jakarta – Manado, Jakarta – Palu, Jakarta -Merauke, namun pilihan melalui Makassar merupakan pilihan utama sebelum menuju ke daerah-daerah timur.

Sebelum ke Makassar, hampir praktis, keinginan ke Sulawesi merupakan keinginan untuk mampir ke negeri-negeri Timur Indonesia. Keinginan untuk mengetahui wilayah timur Indonesia selain terkenal dengan rempah-rempah, catatan perjalanan petualang dunia membuat keinginan semakin kuat ke Sulawesi. Hingga mendapatkan kesempatan menghadiri acara di Sulawesi, kesempatan tidak disia-siakan. Kesempatan inilah sekaligus untuk membuktikan cerita tentang negeri masyur dari Timur Indonesia.

Berbeda dengan perjalanan yang sering dilakukan pelancong seperti menikmati kuliner, membawa oleh-oleh khas lokal, berfoto di maskot daerah-daerah tertentu, saya berkeinginan untuk melihat dari sudut pandang lain. Saya ingin merasakan “aura” denyut dan nafas dalam proses interaksi proses perubahan sosial yang tengah terjadi. Keinginan itu kemudian saya mulai dengan melihat benteng panyua (Belanda memelintir menjadi Benteng Rotherdam).

Sebelum “dikuasai” Belanda, benteng berfungsi sebagai pertahanan Kerajaan Gowa. Dengan bentuknya memanjang seperti “penyu” yang kemudian disebut dalam dialek Makassar “Pannyuwa”, dibangun oleh Raja Gowa IX yang bernama Daeng Matanre Karang Manguntungi Tumaparisi Kallona dan diselesaikan putranya Manriwa Gau Daeng Bonto Karaeng Laklung Tunipallanga Ulaweng.

Dalam brosur disebutkan Benteng sebagai benteng pengawal untuk melindungi benteng Induk Sompu Opu dan juga sebagai tempat tinggal pembesar Raja.

Masa Sultan Hasanuddin justru dipergunakan sebaga pusat persiapan perang dan upacara membasuh panji-panji dengan darah dalam menghadapi Belanda. Sejarah kemudian mencatat, Benteng berhasil dikuasai dengan perjanjian Bungaya tahun 1667 dengan mengganti bentuk fisik khas tradisional Makassar yang bertiang tinggi dengan banggunan gaya Eropa abad 17.

Kekaguman saya terhadap bangunan bukan karena dibangun pada abad 15, tapi proses politik selama 6 abad di bangunan ini. Dengan memperhatikan proses 6 abad, maka dipastikan, proses politik mengalami pasang surut di negeri Makassar. Bangunan ini menjadi saksi dalam setiap perubahan politik di Makassar.

Sayapun kemudian berkeliling mengitari bangunan benteng yang terdiri 15 bangunan yang luasnya mencapai 11 ribu m. Didalam benteng terdapat Tempat kediaman pembesar, kantor, gudang senjata, Gedung perkantoran, perumahan, menara pengintai, Jembatan, tembok pertahanan, Istana di bawah tanah bahkan penjara. Tempat diasingkan Raja Jawa Pangeran Diponegoro. Bahkan ada cerita Tuanku Imam Bonjol sempat dipenjara di Benteng. Terhadap kebenaran tentang Tuanku Imam Bonjol belum dapat saya konfirmasikan kebenarannya.

Khayalanpun melayang membayangkan bagaimana suasana benteng. Persis saya rasakan ketika mengitari Candi Muara Jambi yang terdiri dari 82 candi yang masih menjadi polemik. Yang masih misteri apakah Candi Muara Jambi merupakan pusat Sriwijaya atau Kerajaan Melayu Jambi. Namun yang pasti Candi Muara Jambi merupakan pusat tempat belajar Agama Budha salah satu terbesar pada abad VI.

Sejarah

Membicarakan Makassar tidak dapat dilepaskan dari negeri yang menguasai kerajaan-kerajaan di Timur Indonesia. Kerajaan Gowa.

Abdul Razak Daeng Patunru menyebutkan “Kerajaan Gowa” maka tidak dapat dilepaskan dari Kerajaan Tallo. Hubungna keduanya sangat erat dan menguasai di Timur Indonesia. Di tengah masyarakat kemudian dikenal peribahasa “Ruwa Kareng Serre Ata. Dua Raja satu rakyat. Kata ini bermakna “Barang siapa yang hendak memperselisihkan Gowa dengan Tallo, maka dikutuk Dewata. Belanda menyebutkan “zusterstaten”. Dua kerajaan bersaudara.

Masa Raja Gowa IX, berhasil menaklukan negeri seperti Garassik, Kantingang, Parigi, Siang, Sidenreng, Lembangang, Bulukumba, Selayar, Marusu.

Raja Gowa juga mengadakan perjanjian dengan Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu (Bone Selatan), bahkan memperluas negeri Wajo, Mandar, hingga Toli-toli (Sulteng). Bahkan dengan simbol Kerajaan Gowa, berhasil membangun kekuatan di laut dengan imperium hingga, ke Kalimantan Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua. Mereka juga membangun hubungan dengan Bali, Malaka dan Banten.

Namun yang unik adalah Suku Kajang (Bulukumba). Mereka menghormati adat yang dikenal dengan istilah “Pasang”. Pasang yang paling dijaga oleh masyarakat adat Kajang Ammatoa yaitu “Parakai Lino A’rurung Bonena. Kammaya Tompa Langika. Siagang Rupa Taua. Siagang Boronga (Peliharalah bumi beserta isinya. Demikian pula langit. Demikian pula manusia. Demikian pula hutan).

Mereka mempunyai hutan Karanjang. Anjo boronga anre nakkulle nipanraki. Punna nipanraki boronga, nupanraki kalennu” artinya (Hutan tidak boleh dirusak. Jika engkau merusaknya, maka sama halnya engkau merusak dirimu sendiri).

Anjo natahang ri boronga karana pasang. Rettopi tanayya rettoi ada” artinya (Hutan bisa lestari karena dijaga oleh adat. Bila bumi hancur, maka hancur pula adat).

Pemimpin adat (Ammatoa) membagi hutan menjadi 3 bagian, yaitu Borong Karamaka (Hutan Keramat), tempat kediaman leluhur (Pammantanganna singkamma Tau Riolonta), Borong Batasayya (Hutan Perbatasan), Borong Luara’ (Hutan Rakyat). Di Jambi sendiri dalam Margo Bathin Pengambang biasa dikenal “Teluk Sakti Rantu betuah, gunung bedewo.

Menjaga hutan agar Naparanakkang Juku. Napaloliko Raung Kuju. Nahambangiko Allo. Nabatuiko Ere Bosi. Napalolo Rang Ere Tua. Nakajariangko Tinanang. (Ikan bersibak. Pohon - pohon bersemi. Matahari bersinar. Hujan turun. Air tuak menetes. Segala tanaman menjadi tumbuh). Istilah ini mirip dengan seloko “Negeri aman padi menjadi. Air bening ikannya jinak. Rumput mudo kerbaunya gemuk. Ke aek cemeti keno. Ke darat durian gugur

Suku Kajang melengkapi suku-suku di Sulawesi selatan seperti Suku Bentong (Maros dan Bone), Suku
Tulumpanuae/Tasing (Majene), Suku Duri (Enrekang), Suku Konjo (Pegunungan dan Pesisir), Suku Luwu (Luwu), Suku Mamuju (Pantai Timur Sulawesi), Suku Mandar (Majene) dan Toraja (Tana Toraja), Suku Bone, Suku Toraja dan Suku Bugis, Suku Wajo.

Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua, terbesar, dan terluas di Sulawesi Selatan yang wilayahnya mencakup Tana Luwu, Tana Toraja, Kolaka, dan Poso. Mereka dapat disejajarkan dengan Kerajaan di China

Sedangkan Suku Toala atau suku Pannei (Pangkep dan Maros) merupakan suku tertua di Sulsel. Telah hadir di bumi Sulawesi sejak zaman Mezolithicum, yaitu zaman batu muda, sekitar 5000 tahun yang lalu (bahkan nenek moyang suku Toala telah ada sekitar 8000 tahun Sebelum Masehi.). Ada juga menyebutkan Suku Toraja sebagai suku tertua dan suku asli dari bangsa protomalayan (proto malayo) sekitar 7000 tahun yang lalu. Toraja dikenal dengan tradisi “pemakaman”

Sementara ada juga menganggap Masyarakat adat Kajang merupakan salah satu suku tertua yang sangat terkenal di Sulawesi selatan. Hmm. Entahlah. Namun yang pasti ketiga suku itu termasuk tertua di Sulawesi

Sementara ada juga menganggap Masyarakat adat Kajang merupakan salah satu suku tertua yang sangat terkenal di Sulawesi selatan.


Membicarakan Gowa tidak bisa dilepaskan dari sastra Lontar “ I La Galigo”.

I La Galigo merupakan karya ini dianggap sebagai salah satu karya agung dunia. Naskah I La Galigo panjangnya mengalahkan Mahabharata karya Valmiki dan India, Odyssey karya Homeros dari Yunani.

Isinya sebagian berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epos ini menceritakan tentang penciptaan alam semesta oleh raja dunia atas atau raja langit bernama La Patiganna. Disebutkan pula bahwa epos ini bercerita tentang Sawerigading, seorang perantau juga pahlawan yang gagah berani.

Melihat kejayaan negeri Gowa dengan perjalanan panjangnya, berbagai suku tua yang kukuh memegang tradisi, masih didokumentasi berbagai artefak peninggalan sejarah, peperangan dan kegigihan melawan Belanda, membuat perjalanan saya ke Makassar “seakan-akan” terlalu singkat. Masih banyak cerita yang mesti digali. Dan cerita saya yang sudah saya sampaikan masih memerlukan kajian lebih mendalam. Mesti banyak pelajaran yang belum saya temukan. Masih banyak pertanyaan yang belum dijawab.

Namun. Sekilas cerita yang baru saya dapatkan membuat saya kagum dengan sejarah panjang di Makassar.