21 Maret 2016

opini musri nauli : Puyang Orang Jambi



Dalam setiap perjalanan turun ke lapangan, pertanyaan yang paling sering disodorkan adalah siapa nenek moyang (masyarakat menyebutkan “puyang”) yang pertama mendiami di dusunnya.

Sebagian menolak menyebutkan nama langsung. Namun sebagian menyebutkan dengan lantang. Namun banyak pula ketika menyebutkan nama puyang harus menunggu hari  dan waktu yang baik. Ada juga harus “memantrai” agar tidak dikutuk oleh “puyang” karena telah menyebutkan namanya.
Kedatanganpun beragam. Ada yang menyebutkan dari Pagaruyung[1], Jawa Mataram, Jawa Majapahit, Arab atau Turki, Indrapura dan Kerinci. Seloko seperti  Jika mengadap ia ke hilir, jadilah beraja ke Jambi. Jika menghadap hulu maka Beraja ke Pagaruyung atau Tegak Tajur, Ilir ke Jambi. Lipat Pandan Ke Minangkabau membuktikan hubungan kekerabatan yang kuat antara masyarakat di hulu Sungai Batanghari dengan Pagaruyung.

Begitu juga Marga didalam Luak XVI (Marga Serampas, Marga Sungai Tenang, Marga Peratin Tuo, Marga Tiang Pumpung, Marga Renah pembarap dan Marga Senggrahan) yang mengaku sebagai ”kerinci rendah”. Perumpamaan kata Kerinci Rendah menunjukkan ”hubungan kekerabatan dengan Kerinci” namun berada di dataran di bawah wilayah Kerinci.

Sedangkan Marga Tiang pumpung, Marga Renah Pembarap dan Marga Senggrahan mengaku ”serampas rendah”. Menunjukkan hubungan kekerabatan dengan Marga Serampas dan mendiami di daerah Tiang Pumpung, Renah Pembarap dan Senggrahan. Makna ini kemudian ditandai dengan Seloko ”tanah pembarap”. Masyarakat yang tinggal di serampas namun kemudian mendiami di wilayah dibawahnya berdasarkan anjuran ”Raja Tanah Pilih”. Tanah Pilih adalah ”kerajaan di Jambi” sebelum menunjukkan kerajaan Jambi.

Di Marga Sumay mereka menyebutkan “Datuk Perpatih Penyiang Rantau”. Sedangkan di Semambu mereka menyebutkan “Datuk Perpatih Tumenggung Penyiang Rantau[2]”. Di Suo-suo mereka mengenal “Pangeran Singo[3]

Di Marga Batin Pengambang menyebutkan “nenek semula Jadi”. Nama ini hidup di berbagai desa didalam Marga Batin Pengambang.

Sedangkan di Marga Sungai Tenang ada yang menyebutkan sebagai keturunan “Sutan Geremung[4]. Nama ini juga hidup di Renah Pelaan yang mengaku sebagai keturunan dari adik Sutan Geremung yaitu Siti Berek.[5]. Di Koto 10, mereka menyebutkan “Tumenggung Mulo Jadi[6]. Sedangkan di Tanjung Alam mereka mengaku keturunan “raja Tiangso[7]”. Rajo Tiangso dan Depati Pamuncak dianggap sebagai “pemangku” dari keturunan di Pungguk 9. Sedangkan di Tanjung Benuang mereka mengaku keturunan dari “Nenek Malano Kuning[8]”. Sedangkan Di Dusun Kotobaru berasal dari “Depati Suka Derajo[9]

Penyebutan “Datuk Perpatih Penyiang Rantau” atau “Datuk Perpatih Tumenggung Penyiang Rantau” mengingatkan sejarah Minangkabau yang didalam Tambonya selalu menyebutkan “Datuk Perpatih Nan Sebatang[10], sebagai “puyang” dari Minangkabau.  Istilah Datuk juga dikenal dari masyarakat sebagai keturunan “Datuk Domang Muncak Komarhusin[11]

Di Marga Tiang Pumpung, Marga Renah pembarap dan marga Senggrahan selain ikrar dari keturunan Serampas rendah, juga menyebutkan sebagai keturunan dari “Syech Raja” di Renah Pembarap, Syech Saidi Malin Samad di Senggrahan dan Siti Baiti di Tiang Pumpung.

Ikrar hubungan kekeratan Tiang Pumpung, Renah Pembarap dan Senggrahan ditandai dengan seloko “gedung di Pembarap. Pasak di tiang pumping. Kunci di senggrahan’. Maknanya jelas. Dalam rapat adat di Marga Tiang Pumpung, Renah pembarap dan Senggrahan, ketiganya mempunyai posisi penting. Rapat bisa diadakan apabila ketiga Marga telah hadir.

Di daerah Ilir Jambi, di didalam Marga Kumpeh Ilir mereka menyebutkan berbeda-beda. Di Sungai Bungur mereka menyebutkan “Tumenggung Bujang Pejantan[12]”. Di Dusun Pulau Tigo mereka menyebutkan sebagai keturunan “Rajo Sari”[13].  Bahkan dari cerita rakyat, Marga Tungkal mengaku keturunan dari “Datuk Kadinding”.

Namun yang unik, masyarakat Desa Muara Sekalo mengaku keturunan dari “Tumenggung Gamo[14]”. Padahal Muara Sekalo termasuk kedalam Marga Sumay yang terletak di hulu Sungai Batanghari. Nama “datuk Perpatih Penyiang Rantau” tidak dikenal di kalangan masyarakat Muara Sekalo.

Kesemuanya tidak perlu kita bantah[15]. Karena pengetahuan tentang “puyang” merupakan cerita tutur yang diwariskan turun temurun. Sebagaimana seloko “Dari puyang turun ke datuk. Dari datuk turun ke bapak. Dan dari bapak turun ke sayo”.

Penyebutan “Datuk”, Rajo, Nenek, Tumenggung, Pangeran, Depati, Syech dan Sutan” merupakan bentuk keragaman asal keturunan masyarakat di Jambi. Kata-kata seperti Syech dan Sutan melambangkan masyarakat yang mengaku keturunan dari Arab/Turki atau Jawa mataram. Sedangkan Datuk, Rajo, Pangeran, nenek maupun tumenggung merupakan bentuk masyarakat yang mengaku dari “puyang” sebelum masuknya agama islam. Jauh kedatangan “puyang” mereka sebelum kedatangan penyebaran Islam.

Melihat berbagai penamaan “puyang” asal kedatangan nenek moyang maka menarik dijadikan pembahasan. Penamaan “puyang dan sejarah kedatangan “puyang” di tengah masyarakat masih hidup dan terus dituturkan di tengah masyarakat.



[1] Hampir semuanya mengaku keturunan dari Pagaruyung. Baik dari Marga Sungai Tenang, Marga Batin Pengambang, Marga Sumay, Marga Serampas.
[2] Desa Semambu, 18 Maret 2013
[3] Desa Suo-suo, 13 Maret 2013
[4] Pulau Tengah, 14 Maret 2016. Nama Sutan Geremung juga ditemukan di Dusun Renah Pelaan, 15 maret 2016
[5] Desa Renah Pelaan, 15 Maret 2016
[6] Perdes Tanjung Mudo Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Piagam Rio Penganggun Jago Bayo
[7] Peraturan Desa Tanjung Alam Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Piagam Depati Dua Menggalo.
[8] Peraturan Desa Tanjung Benuang Nomor 9 Tahun 2011 Tentang Keputusan Depati Suko Menggalo
[9] Perdes Kotabaru No. 1 Tahun 2011
[10] MINANGKABAU – DARI DINASTI ISKANDAR ZULKARNAIN SAMPAI TUANKU IMAM BONJOL, Amir Sjarifoedin, PT. Gria Media Prima, Jakarta, 2014, Hal 66.
[11] Perdes Pemayungan Nomor    tahun 2012
[12] Sungai Bungur, 26 Februari 2016
[13] Pulau Tigo, 27 Februari 2016
[14] Desa Muara Sekalo, 21 Maret 2013
[15] Menurut seorang sejarahwan asal Belanda, yaitu Von Heine Geldern, Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa dari daratan Yunan di China Selatan. Pendapat Von Heine Geldern ini dilatarbelakangi oleh penemuan banyak peralatan manusia purba masa lampau yang berupa batu beliung berbentuk persegi di seluruh wilayah Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Pendapat Von Heine Geldern juga didukung oleh hasil penelitian Dr. H. Kern di tahun 1899 yang membahas seputar 113 bahasa daerah di Indonesia.