07 Mei 2016

LEICESTER CITY – MIMPI ANAK MUDA



Sebelum dimulai kompetisi sepakbola paling bergengsi, Liga Inggeris, tidak ada satupun yang menduga “laju arah” klub papan bawah Leicester City. Semua mata berpaling ke klub papan atas (Mancester City, MU, Arsenal, Liverpool, Chelsea). Kalaupun ada selain mereka “paling-paling” disebut “Tottenham Hotspur.

 Dengan hitung matematika, kelima klub papan atas yang saling mendominasi dan menjuara Liga Inggeris akan meraih supremasi. Dalam dua decade, public hanya “terpesona” dengan gaya permainan khas Inggeris, hit and run. Dan sama sekali tidak memberikan perhatian penuh kepada klub-klub yang terancam “degradasi”.

Bahkan pelatih Leicester Citypun hanya mematok target. Tidak terlempar dari Liga Inggeris ke divisi dua. Target yang tidak muluk-muluk. Ya. Maklum. Sebagai klub papan bawah yang “sibuk” menyelamatkan diri dari ancaman “degradasi”, klub yang lahir dan dianggap dari negeri antah berantah (walaupun usianya sudah mencapai 123 tahun), bertahan di divisi utama liga Inggeris merupakan kebanggaan tersendiri.

Namun filosofi sepakbola mulai dihidupkan oleh tim papan bawah. Slogan “bola itu bundar”, “selama pluit terakhir belum dibunyikan”, merupakan filosofi sepakbola yang dua decade sempat “tenggelam” dengan hiruk pikuk klub elite sepakbola. Dua decade kita hanya menyaksikan sang “megabintang” yang bayarannya melebihi APBD Propinsi Jambi atau bisa memperbaiki sebanyak 270 ribu sekolah.

Selama itu pula, filosofi sepakbola kemudian digantikan “tim bayaran mahal”, “strategi ciamik sang pelatih” hingga berbagai atribut kemewahan bintang sepakbobla. Mimpi anak muda Indonesia kemudian terkubur melihat gaya permainan bintang yang tidak mungkin bisa dipenuhi.

Dengan tenang, Leicester City kemudian mulai memainkan sepakbola dengan tim yang terpadu.Ditambah tidak ada beban main di liga Eropa (Champion maupun UEFA Cup), tim bisa berkonsentrasi penuh dengan dukungan pemain bugar dan tidak dihantui cedera. Pertandingan demi pertandingan terus dilakoni dengan meraih hasil sempurna. Dengan hanya tiga kekalahan semusim (Arsenal dan Liverpool), membuat Leicester City meraup angka yang mengantarkan juara liga paling bergengsi.

Tentu banyak catatan yang ditorehkan oleh tim debutan ini. Namun dengan diraihnya juara oleh tim sekelas sekelas Leicester City akan membangkitkan motivasi anak-anak muda penggemar sepakbola. Mimpi menjuarai pertandingan tanpa harus ‘silau” dengan kebesaran tim lawan akan mudah diraih. Selain itu, filosofi sepakbola akan kembali bergema. Bola akan terus bergulir tanpa harus terjebak dengan tetek bengek dunia diluar sepakbola yang menyilaukan dan mengacaukan irama permainan.

Anak muda akan kembali “berlatih” sepakbola dan terus meraih mimpinya. Memainkan sepakboola sebagai olahraga yang sportif tanpa harus “dijejali” berbagai ornament “kemewahan” sepakbola yang justru mengganggu permainan itu sendiri.

Hayo. Mainkan sepakbola sebagai “kekuatan tim”. Bukan “silau” dengan permainan bintang.