21 November 2017

opini musri nauli : MAKNA MAJAS BENTUK HIDUNG



Akhir-akhir ini jagat dunia maya dihebohkan issu bentuk hidung. Entah mengapa tokoh agama kemudian menyampaikan ceramahnya tidak lupa membicarakan bentuk hidung. Yang pesek itu? Saya kalau artis-artis jelek kurang berminat saya mengamati. Apa kelebihan dia? Pesek, buruk itu lho. Sebuah ucapan yang disampaikan di public yang menimbulkan reaksi beragam.

Terlepas dari bentuk hidung yang dibicarakan, reaksi netizen sungguh mencengangkan. Menempatkan bentuk hidung sebagai sebuah pembahasan melambangkan alam pikiran dari berbagai generasi.

Membela tokoh agama dengan membenarkan pernyataan bentuk hidung berhadapan dengan tuduhan bentuk hidung sebagai ciptaan-Nya disatu sisi dengan penolakan pernyataannya menggambarkan perbedaan nilai-nilai.

Reaksi dari artis sungguh “mengejutkan’. “Saya memang jelek, pesek, buruk dan tidak memiliki kelebihan apa-apa. Saya sudah tau sebelum anda mengatakannya. Tapi dengan segala keterbatasan dan kelemahan ilmu saya, saya tidak sampai hati mengatakan hal buruk tentang orang lain”.

Makna “memang jelek”, “tidak memiliki kelebihan apa-apa” adalah sebuah sikap “kerendahan hati” tanpa harus menggurui dan menertawakan diri sendiri. Kata “memang jelek”, “tidak memiliki kelebihan apa-apa” kemudian disambung dengan kata “Tapi dengan segala keterbatasan dan kelemahan ilmu saya, saya tidak sampai hati mengatakan hal buruk tentang orang lain” adalah makna “majas’. Sindiran telak.

Majas adalah bentuk cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Penggunaan majas diperlukan agar mampu memberikan kesan yang diharapkan secara maksimal kepada orang lain. Efek yang diharapkan dapat membuat sang penerima pesan “tertekun’, menerima maksud dengan baik, mampu memberikan kesan yang mendalam dari sang penutur.

Dengan menggunakan kata “Tapi dengan segala keterbatasan dan kelemahan ilmu saya, saya tidak sampai hati mengatakan hal buruk tentang orang lain”, sang penutur hendak menyampaikan pesan. Sang penutur mempunyai “keterbatasan” dan “kelemahan ilmu” sehingga “tidak mau membicarakan hal buruk”.

Di tengah masyarakat, makna majas sering digunakan didalam tata sopan untuk menghormati “orang tua” atau “orang dihormati’. Datang terlambatnya seorang pejabat sering disampaikan “Alhamdulilah. Akhirnya bapak datang juga. Kami khawatir ada hambatan di jalan’. Atau kita tidak bisa datang memenuhi janji ke tempat pertemuan disampaikan “Mungkin kali ini kami belum rejeki. Bapak belum datang. Semoga bisa datang lain hari”.

Pemilihan kalimat dari makna majas membuktikan sebuah proses yang dalam didalam menangkap makna dari sebuah pergaulan. Dalam ranah tertentu, majas diperlukan sebagai “pemecah kebuntuan” sekaligus menyampaikan pesan agar sang penerima pesan dapat menangkap pesan yang ditangkapnya.

Dengan menggunakan kata “Tapi dengan segala keterbatasan dan kelemahan ilmu saya, saya tidak sampai hati mengatakan hal buruk tentang orang lain”, pesan sang penutur jelas. Hanya orang yang mempunyai kemampuan “berlebih’ atau mempunyai kedalaman ilmu” sehingga “sampai hati” boleh membicarakan keburukan orang lain.

Dan yang sungguh mengagetkan saya. Majas disampaikan generasi milenial yang menguasai “struktur” Bahasa sekaligus mengirimkan “serangan balik (counter attack)” yang telak. Sehingga tidak salah kemudian “kiper” sering bengong dari serangan balik.

2 – 0 untuk sang penutur Majas.