21 Desember 2020

opini musri nauli : catatan tercecer (3)

 


Akhir-akhir ini, publik jagat raya dihebohkan kemenangan Gibran – anak Jokowi dan Bobby Nasution – Menantu Jokowi. 


Gibran berhasil mendulang suara mencapai 225 ribu (86,1 %). Mengalahkan lawannya yang cuma mendapatkan 36.298 (13,87 %). Gibran kemudian berhasil menjadi Walikota Solo. 


Sedangkan Bobby Nasution berhasil mendulang suara 393 ribu (55%). Bobby juga berhasil menjadi Walikota Medan. 


Seketika gemuruh suara kemudian menggema. Berbalik arah kemudian menyatakan Jokowi kemudian membangun dinasti baru. Sebuah proses yang jauh dari harapan public. 


Namun berbeda dengan di Jambi. Entah itu istri Bupati (aktif), anak-anak Bupati, anak Walikota (aktif), adik Bupati (aktif) dan istri mantan Gubernur justru tidak berhasil untuk menjadi champion. Menjadi Kepala Daerah. 


Yang sering dilupakan oleh publik adalah “proses” pertarungan politik dibalik layar. 


Merekalah yang berhasil menjadi proses politik kemudian berhasil memenangkan Pilkada. 


Lalu dimanakah mereka yang berteriak ketika proses politik yang disebut sebagai politik dinasti. 


Apakah mereka membangun kerja-kerja politik. Membangun kesadaran masyarakat untuk tidak memilih kandidat yang cenderung dibangun dari dinasti. 


Tidak. 


Mereka sama sekali tidak berkeringat. 


Mereka mengurung diruangan. Dikamar. Paling banter cuma teriak di medsos. Berapi-api. Seakan-akan hendak revolusi. 


Padahal meminjam istilah temanku. Mereka cuma aktivis “klik”. 


Perumpaan yang paling tepat. Cuma sekedar “klik” kemudian dengan cara klik “bak” pejuang telah berjuang. 


Payah.. 


Ya. 


Mereka tidak berkeringat untuk bertarung politik. Menawarkan gagasan untuk melawan politik dinasti. 


Berbeda dengan teman-temanku yang menjadi bagian dari proses politik di Jambi. Mereka bekerja dengan senyap. Bergerilya. Dari pintu ke pintu. 


Bukan menceritakan tentang menolak dinasti. Tapi mereka menjelaskan gagasan untuk mengusung kandidat yang mereka. 


Mereka sibuk ke lapangan. Mereka tidak bekerja dan sibuk tenggelam dunia medsos. 


Saya mengumpamakan sebagai kerja-kerja politik. 


Ya. Kerja-kerja politik lebih berarti daripada cuma mengomel didunia maya. 


Bagaimanapun politik adalah perjuangan politik. Riil di lapangan. 


Slogan ataupun teriakkan hore cuma sekedar momentum. Bahkan mampu menutup kenyataan sebenarnya. 


Meminjam pepatah lama. “Lebih baik menyalakan lilin. Daripada mengutuk kegelapan”. 


Baca : catatan tercecer (2)