29 September 2012

opini musri nauli : MEMPERSOALKAN GELAR AKADEMIK

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, tulisan Saudara Bahren Nurdin berjudul ”DOKTOR MUMPUNG ; KETIKA GELAR AKADEMIK KEHILANGAN MAKNA menggelitik penulis untuk bersikap. Terlepas dari substansi yang hendak dipaparkan, ada beberapa kritik yang hendak disampaikan untuk ”memperkuat” tulisan.


Pertama. Sebagaimana telah disampaikan oleh saudara Bahren Nurdin, harus diakui ”gelar akademik” telah memberikan entitas tersendiri. Dalam struktur masyarakat Melayu, struktur ini ditempatkan dalam istilah ”cerdik pandai”. Sebuah struktur masyarakat yang diajak ”rembuk” dalam membicarakan berbagai persoalan sosial dalam rapat-rapat adat. Struktur ini sejajar dengan struktur lain seperti ”tuo tengganai”, ”alim ulama” dan sebagainya.
Dalam struktur sosial masyarakat Melayu, posisi ini cukup dihormati. Berbagai persoalan pelik sering kali mampu diterangkan dengan ”jernih”, ”tuntas”,
to the point”, sehingga dalam berbagai persoalan cepat tuntas diselesaikan.

Dengan mengikuti alur struktur masyarakat Melayu, maka kita akan mudah mengidentifikasikan, apakah gelar akademik telah menunaikan tugasnya ?

Ukurannya sangat jelas. Apakah tulisan di berbagai media massa lokal sering diisi oleh orang ”gelar akademik”. Apakah berbagai persoalan pelik dalam persoalan sosial di tengah masyarakat mampu dengna ”jernih” bisa dijelaskan dan diselesaikan oleh ”gelar akademik” ?

Berapa banyak buletin, jurnal, makalah atau buku yang telah dihasilkan oleh ”gelar akademik ”. Pertanyaan menggugat sudah sepantasnya terus disuarakan. Agar ”gelar akademik’ tidak menjadi barisan ”penggembira” mengisi panjang barisan. Antonio Gramsi telah menyindir. Kalangan ini lebih tepat dikategorikan sebagai ”intelektual mekanik”.

Kedua. Apakah kelompok ”gelar akademik” terus melakukan ”Pengembaraan pemikiran”, ”menggugat sebuah kebenaran”, ”mempertanyakan ilmu”, ”melakukan riset sosial”, ”mempersoalkan nurani” dan berbagai kegiatan intelektual yang berpihak kepada masyarakat.

Ketiga. Apakah ”gelar akademik” membutuhkan simbol, tanda, arah sehingga menjadi kelompok elitis yang ”jauh dari persoalan sebenarnya” yang terjadi di tengah masyarakat.

Keempat. Apakah ”gelar akademik” sudah ”memperjuangkan  nilai” yang terus berkembang di tengah masyarakat. Jangan-jangan ”gelar akademik” telah menjadi kelas sosial yang pragmatis, menjadi tukang dari penguasa yang lalim, menjadi ”speaker” dari rezim yang menindas.

Kelima. Apakah ”gelar akademik” senantiasa berangkat dari ”nurani dan suara hati” yang menjunjung nilai-nilai universal.

Beberapa penjelasan yang telah disampaikan, tentu saja membutuhkan jawaban yang cukup serius. Namun yang menjadi titik perhatian dari tulisan ini, menggugat ”gelar akademik” merupakan pertanggungjawaban kaum intelektual agar selalu berpihak kepada kebenaran, menjunjung tinggi nilai sosial di tengah masyarakat, ”mengembara” dari pemikiran, ”gelisah terhadap ketidakadilan”.