19 Desember 2014

opini musri nauli : SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU




Ya. Untuk sahabat-sahabatku yang akan merayakan Natal dan Tahun baru, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan Selamat natal dan Tahun baru. Semoga cahaya kristus menerangi bumi dan memberikan kedamaian di bumi.

Ucapan ini saya sampaikan disaat issu dan diskusi klasik perdebatan polemik mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru. Saya merasakan “keanehan” diskusi ini selalu muncul setiap menjelang natal dan tahun baru. Entah siapa yang memulai diskusi ini, kata-kata rasial muncul dan kemudian “memproteksi” diri dari berbagai perdebatan.

Seakan-akan “koor', situs abal-abal dan kata-kata mulai muncul di medsos. Entah bertujuan jangka pendek, pragmatis dan cenderung mengkerdilkan logika, ditambah dengan pendapat “yang katanya ustadz” namun pendek pemikirannya. Untuk memperkuat ditambah ayat-ayat dari Al Qur'an yang penafsiran sempit. Sesak nafas rasanya.

Sayapun kaget ketika diskusi menabrak disana-sini. Saya kemudian teringat tokoh-tokoh Islam yang plural, ormas keagamaan yang memberikan ruang untuk mendiskusikannya. Quraish Shihab, Hamka, Gusdur. Bahkan Banser NU menyiagakan pasukannya menjaga gereja-gereja. Dari merekalah, saya menemukan inspirasi bagaimana Islam memandang toleransi beragama di Indonesia.

Untuk merangkai cerita saya, saya memulai dengan pertemuan Ustadz muda dari Karawang.

Kami bertemu dalam pertemuan nasional membicarakan DAS (Daerah aliran Sungai) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan beberapa waktu yang lalu.

Sebagai tokoh NU dari Karawang, pembicaraan tentang Lingkungan hidup membuat darah saya mendidih. Dia dengan runut mengeluarkan ayat-ayat yang memberikan makna “kewajiban” orang Islam untuk menjaga Lingkungan hidup. “amanah”. Itu kesan tegasnya. Manusia sebagai kalifah (pemimpin) dimuka bumi “berkewajiban” untuk menjaga bumi. Wuih. Keren.

Kata-kata yang masih sangat saya ingat. “Kita adalah penduduk Indonesia yang beragama Islam”. Kalimat pendek yang menegaskan posisi dan sikap dia tentang Islam dan keindonesiaan.

Ya. Ada kata “islam” dan Indonesia'. Dia memulai dengan pengungkapan “penduduk Indonesia” dan Islam. Kesan yang hendak dibangun. Identitas “orang Indonesia” harus diutamakan daripada “berkesan Islam” dari budaya. Sambil meletakkan kopiah dan menyeruput kopi kental hitam, dia berkata. Nih. Kopiah adalah budaya kita. Untuk perempuan, pakai selendang.

Betul kita memang orang islam. Tapi kita tidak boleh meninggalkan identitas kita sebagai orang Indonesia. Kita tetap berbudaya Indonesia.

Saya mengangguk sambil melihat kopiah hitam.

Kata-kata itu kemudian teringat dengan kata-kata Gusdur “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya arab. Bukan untuk “aku” menjadi “ana”. Bukan sampeyan” jadi “antum”, sedhulur jadi “akhi”. Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya arabnya.

Sayapun teringat kepada Gusdur yang kukuh mempertahankan Islam sebagai agama yang menghargai pluralisme. “Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

Tidak ada satupun orang yang meragukan Gusdur. Tinggal dan besar dari kaum nahdiyin namun mampu berfikir ke depan dan punya visi kebangsaan. Gusdur adalah orang multidimensi. Hidup di berbagai dunia yang membuat pemimpin dunia mengaguminya. Perjalanan ke berbagai dunia. Mengunjungi berbagai negara dari Amerika, Cuba, Singapura, China, Arab Saudi membuat mereka takjub akan “kelihaian” diplomatik Gusdur.

Photo-photo kunjungan kenegaraan Gusdur membuat posisi Indonesia “berhasil” melewati pusaran demokrasi dari proses transisi reformasi. Di tangan Gusdur, ancaman rush berhasil dilewati. Gusdur salah tokoh peletak pondasi pilar demokrasi.

Gusdur berhasil melewati ancaman “islam dan demokrasi. Indonesia kemudian dikenal sebagai negara penduduk Islam terbesar di dunia. Namun Indonesia kemudian berhasil meletakkan demokrasi tanpa harus berbenturan dengan islam. Buah tangan Gusdur yang membuat kita dapat menikmati hingga sekarang.

Suara-suara yang disampaikan sang Ustadz muda dengan suara bergetar kemudian meyakini saya, keteladanan Gusdur sudah menjadi pandangan dari kaum nadhiyin.

Kembali ke pembahasan tentang ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru.

Entah bagaimana pula rangkaian itu terus dibombardir di medsos. Usia Republik Indonesia hampir mencapai 70 tahun dan keindonesiaan kemudian dipertanyakan.

Kita seakan-akan “berdosa” telah mengucapkan kalimat selamat natal dan Tahun Baru. Seakan-akan kita telah melakukan perbuatan yang dilarang agama dan kita diharapkan berdosa apabila meneruskannya ke depan. Sungguh aneh.

Penjelasan dari Quraish Shihab mampu dengna jernih menjelaskannya. Sebagai ahli Fiqh dan hadist dari Al Azhar, Kairo, Mesir, kejernihan Quraish Shihab menjelaskan tentang ucapan Selamat Natal dan Selamat Tahun baru dengna mengambil contoh dari perjalanan dan pandangan ulama besar dunia membuat saya yakin dengan pilihan saya. Saya tetap mengucapkan selamat Natal dan tahun baru kepada sahabat-sahabat saya yang nasrani. Saya tidak peduli karena saya juga mempunyai refensi tentang agama dan toleransi beragama.

Meminjam istilah yang disampaikan dari Ustadz dari Karawang, saya penduduk Indonesia. Indonesia mempunyai peradaban jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Indonesia mengalami peradaban baik peninggalan dari ajaran leluhur nenek moyang, Budha, Hindu, China, India, Eropa, Kristen, Islam. Semuanya masih tetap tumbuh dan hidup berdampingan saling menghormati. Saling menghargai.

Lihatlah di sekeliling kita. Hampir praktis kita pasti bertemu dengan teman-teman yang beraneka ragam suku dan agama.

Mulai dari sekolah dasar, tetangga, teman pergaulan, teman kerja, mitra kerja, teman berorganisasi. Hampir praktis semuanya tidak ada masalah dan tidak perlu dipermasalahkan.

Apakah dengan status abal-abal dan website/situs abal-abal kemudian kita harus bermusuhan. Rasanya terlalu mahal harga sebuah toleransi dan peradaban yang mesti kita terima dengan mendengar penjelasan picik kaum berpandangan sempit. Tentu saja kita tidak mau terjebak strategi yang gembor-gemporkan di medsos. Terlalu mahal harga yang harus kita terima.

Sudah saatnya, perdebatan itu dihentikan. Kalo anda tidak ingin mengucapkan Selamat natal dan tahun baru berdasarkan keyakinan. Saya akan menghormati. Sebagaimana anda juga menghormati saya yang tetap mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru.

Namun menggunakan kata-kata “kafir” dan “haram” kepada saya, tidak perlu diungkapkan di medsos. Biarlah itu menjadi diskusi yang tidak perlu saya ketahui.

Selamat Natal dan tahun baru kepada Teman-teman yang merayakan. Semoga cahaya kristus menerangi bumi.