14 Desember 2020

opini musri nauli : Politik Jambi 2020


Membaca status teman di FB yang menulis “Orang tua membuat politik menjadi kotor. Anak muda mengembalikannya menjadi bersih”. 


Saya tertarik dengan pernyatannya. Sebagai ide kreatif dengan jeli dia melihat dari pendekatan yang berbeda. 

Semula dengan “modal pas-pasan”, bukan orang berpengaruh dan sama sekali jauh dari pantauan public, politik di Jambi meyakini politik di Jambi dapat dimenangkan orang yang mempunyai sumber daya yang melimpah, mesin partai hingga pengaruhnya di publik. 


Baik sebagai pejabat yang telah berkuasa puluhan tahun, anak kepala daerah hingga partai-partai yang mendukungnya. Sehingga pesimis begitu kuat. Termasuk ketidakmungkinan terhadap pemenang pilkada di Jambi. 


Ketidakmungkinan kemudian menjadi konsumsi pembicaraan sehari-hari. Entah dengan pesimis, tim yang dibentuknya kemudian kecil, ramping. Bahkan jauh dari kesan glamour. 


Namun tahun 2020 tahun kebangkitan anak-anak muda. Tahun yang kemudian memberikan pelajaran penting bagi dunia politik di Jambi. 


Sebagai anak-anak muda, mereka mempunyai kemampuan jaringan yang kuat, stamina yang mumpuni hingga penguasaan jaringan dunia digital. 


Mereka mengolah data-data, menganalisis kekuatan sekaligus bergerak dengan semangat kolektifitas. 


Dengan “darah muda”, kebutuhan pribadi yang belum begitu banyak, motivasi politik yang kuat hingga energi dan adrenalin yang meledak-ledak, mereka bergerak dengan senyap. Mendatangi pintu ke pintu. Dari kampung ke kampung. 


Mereka main di pinggiran. Tidak terjebak dengan kesilauan nama besar partai besar ataupun para politisi yang mendukung. 


Kerja mereka kolektif. Sambil bersenda gurau mereka terus mendatangi basis-basis yang semula diremehkan. 


Dengan semangat dan adrenalin mereka bekerja dengan kolektif akhirnya mereka kemudian membangun strategi. 


Sembari membangun struktur, Mereka berkonsentrasi di kandang sendiri, memperkuat basis sembari mencuri suara. 


Dengan kolektif dan kebersamaan, mereka terus bergerak dengan senyap. Nyaris sepi dari publikasi. 


Dan ketika suara meledak di TPS, seketika mata politisi konvensional kemudian terbelalak. 


Basis mereka tidak tembus. Namun basis yang tidak bertuan akhirnya mereka kuasai. Sementara basis-basis partai besar pendukung kemudian mereka bongkar. 


Mereka membalikkan asumsi politisi dan sebagian kalangan. Hipotesis semula diyakini, Jambi dapat dimenangkan orang yang mempunyai sumber daya yang melimpah, mesin partai hingga pengaruhnya di publik berhasil mereka “jungkalkan”. 


Pernyataan ““Orang tua membuat politik menjadi kotor”  kemudian mereka bersihkan. Sehingga menjadi bermakna kalimat “Anak muda mengembalikannya menjadi bersih”. 


Bandul politik sedang bergeser. Makna politik sebagai “suara rakyat. Suara Tuhan (Vox populi. Vox dei) menemukan makna. Sekaligus memperkuat “kedaulatan rakyat” sebagai pemilik suara tertinggi. 


Selamat datang zaman baru. Selamat datang anak-anak muda. 


Engkau telah menebalkan makna politik sesungguhnya. 


Saya akan belajar darimu. 



Pencarian terkait : opini musri nauli, musri nauli, hukum adat jambi, jambi,