19 Mei 2015

opini musri nauli : SEKARANG PETRAL. BESOK BLOK MAHAKAM

Pemerintah sudah resmi membubarkan anak usaha PT Pertamina yakni PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Sebuah kabar yang sudah lama ditunggu. Sejak mulai diwacanakan tahun 2006, selalu gagal. Termasuk dari Menteri BUMN, Dahlan Iskan.



Bayangkan. Petral yang dianggap “anak emas” dan tidak pernah disentuh, namun penuh sarat dengan praktik gelap. Namun belum terhitung waktu lama menjabat. Jokowi kemudian menyiapkan tim tangguh dipimpin Faisal Basri untuk melakukan investigasi terhadap Petral.
Kepercayaan kepada Faisal Basri merupakan “signal” untuk mengungkapkan persoalan Petral secara serius. Sehingga ketika wacana pembubaran semakin menguat. Nyali Jokowi diuji. Tantangan membubarkan Petral dikukuhkan Jokowi. Jokowi berhasil membubarkan Petral. Sebuah kemandirian dan melihat persoalan ini secara utuh.

Menurut Faisal Basri, dengan dibubarkan Petral, maka Pertamina bisa hemat 250 milyar rupiah/hari. Pakar energi Darmawan Prasodjo menuturkan, kebocoran sebanyak 15 persen terjadi pada bahan bakar minyak bersubsidi. Dia mengatakan, jika subsidi BBM yang ditetapkan dalam APBN 2014 sebesar Rp 285 triliun, maka artinya ada Rp 42 triliun kerugian negara hilang akibat diselundupkan ke luar negeri.

Angka-angka fantastis untuk sebuah negara yang memberikan subsidi “minyak” kepada rakyat.

Sedangkan menurut Menteri ESDM, transaksi tiap hari mencapai 150 juta AS (1,7 trilyun rupiah/hari). Dengan dibubarkan Petral, maka Pertamina bisa menghemat 22 US$ (250 milyar rupiah/hari).

Tentu saja upaya membubarkan sudah lama diwacanakan berbagai kalangan melihat “gerahnya” kelakuan dari mafia migas. Dengan “kekuasaan kroni”, setiap rupiah mengalir ke kantong mafia migas. SBY sendiri tidak “mampu” melawan mafia migas. Entah apa sebab utamanya. Namun issu mafia migas sudah berurat akar. Sudah mengelilingi pemerintahan sehingga pemerintah tidak berani membubarkannya.

Dengan dibubarkannya Petral, maka “sedikit” persoalan migas mulai terkuak. Issu permainan “dibelakang layar', mulai dibaca oleh publik. Dengan dibubarkan Petral, maka Pertamina yang memiliki Integrated Supply Chain (ISC) yang mengurus pengadaan impor minyak tidak perlu lagi melalui Petral. Pertamina bisa langsung membeli bbm bersubsidi yang selama ini harus “mutar-mutar” dan tiap tetes minyak “ngendon” di Petral.

Cost yang selama ini “terbuang percuma” dapat dihemat. Angka yang tidak main-main.

Berita ini harus disambut gembira. Berita di tengah kegetiran “harga” BBM yang “terus naik”.

Janji Faisal Basri setelah dibubarkan Petral, maka nama-nama yang “menikmati” permainan kotor dari mafia migas di Petral diserahkan kepada penegak hukum. KPK sudah mengendus dan kita tunggu cerita tentang pengungkapan kasus ini.

Selanjutnya tinggal kita lihat langkah “piawai” Jokowi menghadapi Total Group, perusahaan migas asal Prancis Total dan perusahaan migas asal Jepang Inpex di blok Mahakam yang berakhir tahun 2017. Sikap tegas ini diperlukan, untuk mengambil alih 100 persen pengelolaan dan menyerahkannya kepada Pertamina. Langkah ini diperlukan karena Blok Mahakam tidak boleh berhenti beroperasi.

Dengan menguasai blok Mahakam, maka Pemerintah mempunyai cadangan 2P minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TC (SKK Migas.go.id). Blok Mahakam berpotensi menghasilkan pendapatan kotor sebesar 187 miliar Dollar AS atau sekitar Rp. 1.700 triliun.

Pengelolaan Blok Mahakam selain menguntungkan secara “bisnis” juga sebagai simbol kedigdayaan sebagai bangsa yang “Berdaulat” secara energi. Dengan menyerahkannya kepada Pertamina, “kekalahan sebelumnya” dari Freeport akan mengembalikan sebagai bangsa yang berdaulat.

Kita tunggu kabar baik selanjutnya.