18 Mei 2021

opini musri nauli : Datuk di Sulteng

Kebesaran Minangkabau di Nusantara tidak dapat dipungkiri. Berbagai ornamen, jejak hingga perjalanan hingga ke Timur Indonesia membuat, Minangkabau menjadi sorotan dalam histografi Islam di Nusantara. 


Didalam buku “Sejarah Datokarama (Abdullah Raqie) - Pembawa islam dari Minangkabau Ke Sulawesi Tengah”, yang dituliskan oleh Nurdin dkk, IAIN Palu, 2018 membuka tirai tentang sejarah Dato dari Minangkabau ke Palu.

Didalam buku diterangkan, masuknya Islam di Sulawesi Selatan hampir selalu dikaitkan dengan datangnya tiga ulama dari Minangkabau; Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro dan Datuk ri Patimang. 


Ini dapat dimaklumi karena titik pijaknya adalah ketika Islam secara resmi diakui sebagai agama negara oleh kerajaan Gowa. Kalau ini dijadikan dasar pijakan, maka Islam secara resmi masuk ke Sulawesi Selatan pada tahun 1605 setelah kedatangan tiga orang ulama tersebut. 


Kedatangan Jamaluddin al-Husaini di Tosora Wajo diperkirakan terjadi pada tahun 1320. Tahun ini kemudian dianggap sebagai awal kedatangan Islam di Sulawesi Selatan. 


Dia juga merupakan kakek kandung dari empat ulama penyebar Islam di Jawa yang lebih dikenal dengan wali songo yaitu Sayyid Maulana Malik Ibrahim, Sayyid Ainul Yaqin (Sunan Giri), Sayyid Raden Rahmatullah (Sunan Ampel) dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)


Namun Pelras  membedakan antara Islam tiba di Sulawesi Selatan dengan Islam di anut oleh orang Sulawesi Selatan. Islam di anut oleh masyarakat Sulawesi secara resmi pada tahun 1605 ketika raja Gowa memeluk Islam. Jadi tahun inilah yang dijadikan dasar masuknya Islam di Sulawesi Selatan, bukan tahun 1320. 


Menurut  Adriani, N., & Kruijt, A. C. Didalam dokumennya “De Bare'e-Sprekende Toradja’s”, 1912, keberadaan Dato Karama terkait dengan kedatangan Islam di Lembah Palu. 


Dalam kisah pengenalan Islam di Palu dan Parigi, mengatakan bahwa semua daerah di Bugis dan Makasar di Islamisasi oleh ulama Melayu yang berasal dari Manangkabo (Minangkabau) yang salah satunya adalah dikenal dengan nama Dato Karama. 


Ketika daerah-daerah tersebut di Islamisasi, Dato Karama kemudian juga pergi ke Boeol (Buol) yang kemudian masyarakatnya juga menerima Islam. 


Adriani dan Kruyt melaporkan langsung hasil explorasi mereka di Sulawesi Tengah pada tahun 1893 ada lima tokoh Melayu penyebar Islam yang dibahas yaitu :  Dato Ri Bandang, Dato Patimang, Dato Ri Tiro, Dato Karama dan Dato Mangaji. 


Dato Ri Bandang


Datuk Ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan di wilayah timur nusantara, yaitu Kerajaan Luwu, Kerajaan Gowa, Kerajaan Tallo dan Kerajaan Gantarang (Sulawesi) serta Kerajaan  Kutai (Kalimantan) dan Kerajaan Bima (Nusa Tenggara). 


Datuk Patimang


Datuk ri Bandang bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk Patimang yang bernama asli Datuk Sulaiman dengan gelar Khatib Sulung dan Datuk Ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu dan seorang temannya, Tuan Tunggang Parangan melaksanakan syiar Islam sejak kedatangannya pada penghujung abad ke- 16 hingga akhir hayatnya ke kerajaan-kerajaan yang ada di timur nusantara pada masa itu. 


Sementara itu Datuk ri Bandang yang ahli fikih berdakwah di wilayah tengah yaitu Kerajaan Gowa dan Tallo (Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng) yang masyarakatnya senang dengan perjudian, mabuk minuman keras serta menyabung ayam. 


Belakangan Datuk ri Tiro dan Datuk ri Bandang juga menyiarkan Islam ke Kerajaan Bima, Nusa Tenggara. 


Setelah Raja Luwu dan keluarganya beserta seluruh pejabat istana masuk Islam, Datuk ri Bandang pergi dari Kerajaan Luwu menuju wilayah lain di Sulawesi Selatan dan kemudian menetap di Makassar sambil melakukan syiar Islam di Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng. Dakwah Islam yang dilaksanakan Datuk ri Bandang akhirnya juga berhasil mengajak Raja Gowa, I Manga'rangi Daeng Manrabia dan Raja Tallo, I Malingkang Daeng Manyonri beserta rakyatnya masuk Islam. Dikemudian hari sang ulama itu-pun akhirnya wafat dan dimakamkan di wilayah Tallo. 


Sementara itu Datuk ri Bandang pergi dari kerajaan Luwu menuju wilayah lain di Sulawesi Selatan dan kemudian menetap di Makassar sambil melakukan syiar Islam di Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, lalu dikemudian hari sang ulama itu- pun akhirnya wafat di wilayah Tallo.