14 Januari 2019

opini musri nauli : KOSONG




Memasuki dunia baru, dunia asing atau dunia yang sama sekali berbeda dengan alam pikiran sebelumnya, membuat pikiran harus “dikosongkan”. Pikiran yang mampu menampung alam pikiran baru, cara pandang baru bahkan dunia baru.

Pikiran dipengaruhi nilai-nilai yang diyakini, pendidikan, pekerjaan, sejarah hidup, pengalaman bahkan pergumulan pemikiran sebelumnya.

Cara pandang petani berbeda dengan cara pandang pedagang. Cara pandang kelas menengah berbeda dengan cara pandang nelayan. Cara pandang politisi berbeda dengan cara pandang anak muda. Demikian seterusnya.

Namun untuk memahami cara pandang yang berbeda selain dibutuhkan “memahami” cara yang pandang berbeda, mendengarkan, juga dibutuhkan “kebeningan hati” untuk menerimanya. Cara inilah yang paling sulit dan sukar diterapkan.

Kelas menengah yang dibesarkan dalam tradisi “logis-sistematis” kemudian berhadapan dengan petani yang berangkat dari alam pikiran “irrasional-magis” cenderung untuk “berargumentasi” dan menyalahkan komunitas diluarnya.

Tuduhan seperti “masyarakat penyebab kebakaran hutan”, “masyarakat peladang berpindah penyebab kerusakan hutan”, “masyarakat tidak mampu mengelola hutan” adalah tuduhan-tuduhan yang sering kita dengarkan didalam berbagai kesempatan. Belum lagi mengangggap kelasnya sebagai “identitas” dan struktur social yang berbeda dengan masyarakat.

Bukankah dalam setiap kesempatan masih kita dengar untuk memulai pembicaraan selalu dimulai dengan “saya ini tamatan.. (sambil menyebutkan kampus-kampus terkenal)” untuk meyakinkan audience ?

Ditengah masyarakat, struktur social juga mempengaruhi relasi social. Bukankah segelintir elite Desa sering mendominasi pembicaraan, mengarahkan, menuduh masyarakat sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang sebuah persoalan ?

Dalam dimensi yang lain, revolusi Hijau kemudian mengajarkan pelajaran penting didalam pertanian di Indonesia. Dengan dukungan politik rezim Soeharto, berbagai bibit, pupuk, teknologi kemudian “memaksa” Indonesia masuk agrarian zaman modern. Mengabaikan bibit-bibit local, menghancurkan tradisi pertanian, mengabaikan pola pertanian yang menempatkan tanah sebagai “ibu”.

Secara Politik, Indonesia “memang berhasil” menjadi negara swasembada beras tahun 1984. Bahkan FAO menyerahkan penghargaan medali Emas dengan gambar timbul disatu sisi dan gambar petani sedang menanam padi beserta tulisan “From Rice Importer to Self Sufficiency” di keeping yang lain lain.

Apakah Indonesia kemudian memang menjadi negara yang mandiri untuk padi ?
Berbagai fakta kemudian membuktikan sebaliknya. Tidak hanya “lips servise” swasembada padi hanya sampai tahun 1986, peradaban pertanian Indonesia kemudian menjadi hancur lebur. Bahkan proyek mega raksasa “Sejuta hektar gambut” untuk mengembalikan swasembada Padi gagal. Meninggalkan luka mendalam akibat kehancuran ekosistem. Menyebabkan kebakaran yang sulit dipadamkan.

Selain itu, revolusi Hijau juga menyebabkan Bibit local banyak yang hilang dan tinggal nama. Cerita yang hanya bisa dituturkan ke generasi selanjutnya.

Bukankah kita juga mendengarkan cerita tentang “hilangnya” ikan-ikan khas didaerah tertentu. Atau hilangnya tanaman khas tertentu (Biodiversity).

Namun “daya lenting” masyarakat untuk menjaga “kekuatan” peradaban petani masih tetap dilakukan. Bibit-bibit local padi seperti Renik Kanal, Pulut Mantung, Silang Jambu, Silang Kudung, Pulut Turun Daun (Desa Tanjung Alam), Seringin Tinggi, Kuning Besar, Pulut Putih, Pulut Hitam (Desa Gedang), Padi rias, Padi Sunggut, Padi Dayang, Padi Lumut, Padi Seribu Naik, Padi Kasar (Lubuk Mandarsyah) adalah nama-nama padi local yang tetap dirawat hingga sekarang.

Masyarakat juga mempunyai pengetahuan tentang “ilmu perbintangan”, tentang membaca angin, tanda-alam alam, tanda memasuki musim hujan atau musim kemarau.

Bukankah ketika “banyaknya” ikan tertentu akan menanda datangnya musim hujan atau memasuki musim kemarau. Bukankah “laron” menunjukkan proses alam yang hendak dilewatkan. Bukankah “Putik buah-buahan” akan menanda kedatangan musim hujan ?

Bahkan masyarakat mampu menghitung kedatangan hujan, halilintar yang akan menerpa perahunya, membaca arah tanpa menggunakan kompas, bahkan mengetahui dimana tempat ikan yang hendak ditangkap.

Lalu mengapa kita begitu angkuh untuk mengakui kegagalan cara pandang kita melihat persoalan alam ?

Mengapa kita tidak malu, hutan yang dikelola oleh industry atau dikelola oleh negara malah tidak mampu menjaga kelestariannya ? Bukankah kita seharusnya malu dengan masyarakat yang mampu menjaga hutannya. Merawatnya hingga tetap terjaga baik ?

Sudah saatnya kita meninggalkan teori-teori usang yang memandang hutan, memandang alam, memandang bumi dan kembali belajar dari masyarakat.

Mari kita tinggalkan cara pandang kita. Kita kosongkan kepala. Kita dengarkan. Kita simak. Kita tundukkan kepala.

Sembari mendengarkan dengan tekun setiap tutur yang disampaikan. Sembari menuliskannya dalam lembaran-lembaran kita.

Kita tidak cukup mempunyai pengetahuan untuk menilai. Kita tidak mampu memotret “cara pandang” masyarakat apabila kita tidak mengosongkan pikiran kita. Meletakkan “otak” kita dirumah. Sembari menerima pengetahuan-pengetahuan baru yang dituturkan oleh masyarakat.

Mari kita kosongkan “pikiran” kita. Kembali belajar sembari menundukkan kepala. Seraya berkata. “Saya ingin belajar”. 

Dimuat di www.jamberita.com, 14 Januari 2019.