06 Agustus 2015

opini musri nauli : BABEL DALAM PUSARAN TAMBANG



BABEL1 DALAM PUSARAN TAMBANG

Ketika mendengarkan nama Bangka Belitung (Babel), maka yang terbayang adalah Timah, Laskar Pelangi dan dan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Semuanya tidak mudah dilupakan karena cerita yang mudah diingat dan paling sulit dilupakan. Babel merupakan nama Propinsi tahun 2001 setelah sebelum masih tergabung dengan Propinsi Sumatera Selatan. Terdiri dari 407 pulau namun hanya 50 pulau yang berpenghuni.
Timah tidak bisa dilepaskan dari pandangan kita tentang Bangka-Belitung.

Sedangkan Film Laskar Pelangi merupakan terjemahan novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang mengisahkan kehidupan sehari-hari 10 murid di Sekolah Muhammadiyah di Belitung.

Sementara Ahok membuat nama Belitung Timur menjadi perhatian nasional. Perjalanan politik Ahok dimulai dari Bupati Belitung Timur kemudian menjadi Anggota DPR-RI-Wakil Gubernur dan menggantikan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ahok di berbagai kesempatan selalu mengambil contoh di Belitung Timur tentang tolerasi, pengelolaan pemerintahan dan tentu saja tidak lupa menceritakan tentang keindahan pulau Belitung

Saya mendapatkan kesempatan untuk mendatangi Babel menghadiri acara Pertemuan Regional Walhi Sumatera tanggal 31 Juli – 2 Agustus 2015.

Perjalanan dimulai setelah mendarat di Bandara “Depati Amir2” di Pangkalpinang3. Tak lama kemudian kita menjumpai kata “Selamat Datang di Babel. Negeri Serumpun Sebalai4”. Kabupaten Bangka mengikrarkan sebagai “Sepintu Sedulang”. Ikrar penggunaan kalimat itu mengingatkan berbagai slogan nama yang mempunyai arti sama di berbagai kabupaten di Jambi5. Depati Amir merupakan pejuang melawan Belanda 1848-1851.

Membicarakan keberadaan Bangka-Belitung tidak dapat dilepaskan dari dunia Melayu Bangka-Belitung, Tionghoa. Namun yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan asli suku Lom6 dan Sengkak7.

Manuskrip Bangka dapat ditelusuri naskah Haji Idris, seorang guru di Mentok tahun 1861. Manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor-Taal, Land-en Volkenkunde (KITLV) di Leiden, Belanda dituliskan dalam bahasa Melayu aksara Arab8. Begitu juga manuskrip Arifin Tumenggung Kertanegara I dan M. Ali Tumenggung Kertanegara II. Ketiga manuskrip ini menceritakan tentang Sejarah Bangka.

Pulau Bangka pernah menjadi bagian dengan pulau Sumatera. Ditemukannya Geraham Gajah Elephas Sumatranus oleh F. Martin di lapisan endapan timah di Bangka tahun 1804 memperkuat Bangka pada masa Pleistosen9.

Cerita tentang keberadaan Bangka bisa ditelusuri dari manuskrip Haji Idris dan Raden Ahmad. Selain itu juga keberadaan manusia purba dapat ditelusuri dengan melihat migrasi suku bangsa dari daratan Asia ke Indonesia10. Suku Mapur di percaya sebagai ras pertama yang menempati pulau Bangka (40 ribu tahun yang lalu).

Sedangkan Antony Reid11 meyakini bangsa Asia yang bermigrasi ke Selatan sepanjang pantai Laut Tiongkok Selatan dan menempati sungai-sungai.

Menurut versi masyarakat Bangka Kota, Permisan dan Penyampar, Orang Bangka berasal dari Seekor burung Putih (dara petak)12 jelmaan seorang Raja Jawa dan bersumpah berubah menjadi burung. Mereka terbang ke Pulau Bangka. Ketika tuah sumpahnya hilang mereka kembali menjelma menjadi manusia. Cerita ini mirip dengan Suku Mapur yang menggambarkan orang Bangka bersaudara dari Jawa.

Orang Punggur sendiri mengaku berasal dari perjalanan rakit hanyut dari Banten dan terdampar di Bangka. Sedangkan versi orang Jering, mereka berasal dari keturunan dua orang putra dan putri raja Sumatera yang dibuang karena melanggar titah Raja. Mereka mendarat di kaki Gunung Maras.

Cerita ini juga dilengkapi cerita rakyat dari Mentok13, kisah Si Gading14, vesi rakyat Panji15, Belinyu dan Sekak, Versi cereita rakyat Nyalu, Bakung, Jeruk16 dan Bukit.

Falsafah hidup masyarakat dikenal dengan istilah “serumpun sebalai”, “jangan dak kawa nyusa Aok17”. Tradisi lain seperti Tradisi nganggung18, tradisi ruwahan (sedekah ruah), milang Ari19, Naber Kampung20, Ngeroh Aik Sungai21 hidup di Pangkalpinang. Di Kabupaten Bangka dikenal “Nganggung”, “ruwahan”, “rudat”, “Naber22”. Selain itu juga tradisi di Belitung dikenal seperti upacara-upacara mengerjakan ladang (maras taun), menangkap ikan (buang jong), menyelenggarakan perkawinan (gawai penganten).

Tradisi Nganggung merupakan cerminan dari sejarah Islam. Sedangkan lain tradisi seperti “naber kampung” lebih menunjukkan tradisi yang hidup dari pengaruh Hindu. Hindu mempunyai pengaruh di Bangka abad 7 dalam kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Islam masuk ke Belitung diperkirakan abad 17.

Bangka-Belitung tidak mudah dilepaskan dari Timah23 dan lada24.

Kedatangan China diperkirakan pada dinasti Tang. Dan diperkirakan besar-besaran pada pertengahan abad 19. Sultan Ratu Mahmud Badaruddin I, mendirikan kota Mentok dan diserahkan kepada Keluarga Besar Ence Wan Abdul Hayat25. Mereka kemudian mendatangkan ahli penambang timah, Bong Hu But. Kerjasama ini biasa dikenal dengan istilah “kongsi”.

Perebutan timah terjadi. Baik oleh Belanda26, Inggeris27 maupun Tiongkok sebelumnya. Termasuk Raja Bangka-Belitung yang datang ke Batavia dan meminta VOC untuk melindunginya dari Kesultanan Palembang28. Bangka kemudian diserahkan Inggeris kepada Belanda berdasarkan traktat London 181429. Tahun 1877-1887 Belitung kemudian diproduksi hingga melebihi Bangka.

Bangka juga merupakan tempat kepentingan menjaga laut ketika Sriwijaya menempatkan sebagai pusat armada untuk keamanan pelayaran di selat Malaka30. Sedangkan Majapahit menempatkan Bangka untuk menghadang kekuatan Sriwijaya di Palembang tahun 1293-1560 masehi. Bahkan Johor-Minangkabau juga pernah menduduki pada awal 1600-an. Bahkan Banten juga sempat menduduki bangka.

Di masa Kesultanan Palembang, kehidupan mulai terpengaruh. Kelompok orang Melayu mulai berdatangan31. Menetap sebagai pedagang.

Orang Melayu yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan Sultan, memegang peranan penting. Mereka berpangkat “Depati”, sedangkan pimpinan “orang darat” maupun “orang laut” disebut “bathin”. Istilah “Depati”, “Bathin” juga ditemukan di Jambi.

Penduduk sudah menguasahakan timah dengan menggali sumuran. Hasilnya kemudian dilebur dengan cara dibakar. Belanda sempat belum tertarik dengan timah32.

Zaman keemasan penambangan timbah terjadi pada pemerintahana Sultan Achmad Najamudin tahun 1870-1780. Pada pemerintahan Inggeris (1812-1816), Inggeris mengambil kebijakan untuk memodernkan pola pengerukan. Selain mendatangkan buruh dari Tiongkok, Rafles melakukan perbaikan managemen33. Pulau Bangka kemudian disebut “Duke of York”. Desember 1816, Inggeris kemudian mengembalikan Pulau Bangka kepada Belanda34.

Namun kegemilangan penambangan ternyata tidak memberikan perhatian kepada penduduk. Berbagai penyakit seperti beri-beri (1861-1862), Malaria (1919-1920), lumpuh kaki, typus, kolera, cacar, cacing tambang tidak serius ditangani dengan baik. Pada akhir awal abad XX barulah diberi perhatian dengan membuat rumah sakit yang berkualitas.

Selain itu hancurnya berbagai bekas pertambangan meninggalkan jejak hitam yang sulit diperbaiki oleh alam. Berbagai upaya reklamasi tidak sebanding hasilnya dengan hasil yang telah dikeruk.

Tinggal kita memilih mendengarkan cerita tentang Bangka-Belitung. Sejarah yang panjang dengan berbagai ornamennya atau kegemilangan tambang yang cuma dinikmati segelintir orang.













1 Petrus Plancius tahun 1594 didalam petanya menulis kata “BANCA”. Peta Spanyol yang disusun oleh Giacano Gartaldi tahun 1594. Pelaut Belanda Jans Huygens van Linschotten didalam bukunya “Reys Geschrift van de Navigatieen Portugaleysers in Orienteen mencatat adanya pulau Timur Jauh termasuk “BANCA” tahun 1959. Penyebutan nama “Banca” menjadi “Bangka diperkirakan abad 17. Tidak ada dokumen yang mendukung adanya perubahan nama tersebut. Nama “Bangka” berasal dari penamaan “Wangka” (vanca) berarti timah dalam bahasa Sansekerta
2 Menyebut kata “Depati” merupakan kata yang cukup familiar di telinga saya. Di Kerinci nama Bandara “Depati Parbo”. Depati adalah jabatan yang diberikan kepada pemangku wilayah setingkat Bupati. Nama yang diberikan jauh sebelum kedatangan Belanda.
3 Pangkal atau Pengkal berarti “pusat”, kota tempat pasar, tempat berlabuh kapal. Pinang adalah sejenis tumbuhan palm yang tumbuh di Bangk. Jadi pangkalpinang dimulai dari terbentuknya kampung kecil yang banyak ditumbuh pinang. Pohon pinang dijadikan menambat perahu ketika berlabuh. Sejarah dan Budaya Pangkalpinang, 2005
4 Serumpun Sebalai suatu bentuk etika kehidupan keseharian masyarakat Bangka-Belitung yang rukun damai dan dalam hubungan kekeluargaan walaupun terdiri dari bermacam-macam etnis dan agama.
5 Langkah Serentak Umbai Seayun (Bungo), Tali Undang Tambang Teliti (Merangin), Sailun Salimbai (Muara Jambi), Serengkuh Dayung Serentak Ketujuan (Tanjabbar), Sepucuk Nipah Serumpun Nibung (Tanjabtim), Serentak Galah Serengkuh Dayung (Tebo), Salahun Suhak Salatuh Bdei (Sungai Penuh)
6 Suku LOM (Suku Mapur) diyakini sebagai manusia pertama yang menempati Pulau Bangka. Mereka diyakini mempunyai kepercayaan asli seperti Titian Taber, Puri Adat, Mata kakap dan Penunjang Langit. Muhammad Arifin Mahmud, Pulau Bangka dan Budayanya I, II, III, tidak diterbitkan, Pangkalpinang, 1986, hal. 26. Orang LOM hidup di darat dan berpindah-pindah di dalam hutan untuk bertani dan berladang. Mereka memegang kuat adat dan ritualnya dengan istilah-istilah sehari-hari yang dimengerti oleh orang Melayu lain di luar lingkungan mereka bahkan dilakukan juga oleh orang Melayu luar. Selam cuma igamanya, adét lebih kuat; pantang suat cuma, pesumpah sumor hidup; salah omong; gawi yang bukan-bukan; pantun; dukun beranak; manjang; pekatak. Nothofer mengatakan bahwa “Selama lebih daripada seratus tahun terakhir ini, kajian tentang keadaan linguistik di Bangka difokuskan kepada isolek yang dikatakan ‘bahasa Lom’ Dan lanjutnya “Dialek Gunungmuda diteliti, kerana sangat mirip dialek Lom…” Dan “…Lom menunjukkan banyak unsur Melayu Semenanjung selatan (‘Riau-Johore’) yang dipinjam selama 500 tahun terakhir ini” (Blust 1994: 125)
7 Orang Sekak mendiami lokasi pinggiran pantai dengan mata pencahariannya nelayan. Suku Sekak lebih dekat dengan orang Moken dibandingkan dengan Bajo. Antropolog maritim Universitas Tokyo, Akifumi Iwabuchi, menyebutkan, Moken dan Sekak sama-sama punya ritual Buang Jung. Ritual itu biasanya dihelat saat laut mulai tenang selepas musim barat. ”Sama-sama membuat perahu kecil berisi aneka sesaji. EP Wieringa dalam ”Carita Bangka” (Rijksuniversiteir Leiden, 1990) disinggung asal-usul orang Sekak. Wieringa antara lain mengalihbahasakan catatan Legenda Bangka yang disusun Haji Idris tahun 1861 dalam buku itu. Dalam Legenda Bangka versi Haji Idris, di Pasal 26 disebutkan, orang Sekak adalah keturunan prajurit Tuan Sarah. Tuan Sarah adalah pedagang yang ditunjuk Sultan Johor memimpin pasukan penyerbu bajak laut di Bangka pada awal abad ke-17. Setelah bajak laut diusir, sebagian besar pasukan itu kembali ke Johor. Sebagian lagi tinggal di Bangka, dan menjadi cikal bakal orang Sekak. Di Bangka, orang Sekak tercatat tinggal di Kuto Panji, Jebu Laut, Kudinpar, Lepar, dan Pongok. Di Belitung, orang Sekak tinggal di Juru Seberang, Kampung Baru, dan Gantung.
8 Di Jambi biasa dikenal dengan istilah “Arab Gundul”. Tutur dan dialek Melayu tapi menggunakan aksara Arab. Tulisannya seperti Arab tapi bacaan Melayu. Dikatakan Gundul sebab tidak ada tanda bacanya (“a”, “i”, “u”)
9 Di zaman pleistosen (sekitar 1,8 juta – 11 ribu tahun yang lalu), mencairnya es mengakibatkan permukaan air laut menurun drastis hingga mencapai 150 m – 130 m. Sehingga banyak dasar laut mengering dan menjadi daratan kering.
10Dugaan sementara berasal dari ras Vedoid dan Austroloid.
11Anthony Reid, Soematera Tempo Doeloe. Dari Marcopolo sampai Tan Malaka, Komunitas Bambu, Depok, 1995, Hal. 22
12Cerita Dara Petak juga hidup Minangkabau dan Jambi
13Kedatangan kapal oleh Nahkoda Ragam.
14 Cerita Sri Gading jatuh cinta kepada saudara perempunannya bernama Dading. Riwayat Poelau Bangka Berhoeboeng dengan Palembang, KITLV, Leiden, 1925.
15 Menyambut kedatangan Gajah Mada dengan panji-panji. Sehingga dikenal dengna nama Desa “Panji”
16 Tumbuh pohon jeruk yang besar. Oleh Pangeran Tumenggung Dinata, utusan Majapahit, diangkat Kepala Kampung dan diberi gelar Patih Panjang Jiwa. Setelah pulang Tumenggung Dinata, Kepatihan Jeruk dipegang oleh Patih Raksa Kuning dibantu Hulubalang Selangor. Raden Achmad dalam manuskripnya.
17Dalam setiap keberhasilan memerlukan kerja keras.
18 Tradisi gotong royong di pangkalpinang dengan membawa makanan lengkap di atas dulang kuningan yang ditutup dengan tudung saji.
19 Pihak keluarga yang meninggal dunia mengadakan sedekah untuk mengenang yang meninggal dunia, baik hari pertama hingga ketujuh, keduapuluh (nyelawe), empat puluh hari, seratus hari (nyeratus) dan seribu hari (nyeribu).
20 Dilakukan bertujuan untuk mengusir roh jahat. Caranya setelah magrib, dipimpin pawang (dukun kampung), berjalan dari ujung desa ke ujung desa lainnya dengan membawa mayang pinang dan menaberkan air yang telah dijampi-jampi ke kanan dan ke kiri jalan.
21 Masyarakat secara serempak turun ke sungai dan mengeruhkan air sungai supaya ikan mudah ditangkap.
22 Naber berarti “tabur” atau menghamburkan. Berupa beras, air yang dibaturkan yang dipercaya membuang kesialan.
23Diketemukan dan dikelola sejak tahun 1710 Mary Schommers dalam Bangka Tin
24 Lada pertama kali diperkenalkan Demang Muhammad Ali akhir tahun 1860. Catatan Dagh-Register sering menyebutkan kedatangana kapal dari Bangka yang membawa hasil-hasil hutan seperti damar atau tikar, lada, kapur barus dan rempah-rempah lainnya. Timah Bangka dan lada Mentok – Peran Masyarakat Tionghoa dalam Pembangunan Pulau Bangka abad XVIII-XX, Mary Somers Heidhues, Nabil, Jakarta, 2008, Hal. 3. Sedangkan Sutedjo Sujitno menerangkan “produksi yang dihasilkan penduduk Bangka adalah kapas, lilin, madu, tempurung penyu, buah pinang dan kain katun. Sejarah Penambangan Timah di Indonesia, Sutedjo Sujitno, Legenda dalam Sejarah Bangka, Cempaka Publising, Jakarta, 2011, Hal. 91
25 Sutedjo Sujitno, Ibid, Hal. 160
26VOC sudah terlibat ketika Belanda mengambil alih Malaka tahun 1641.
27Pendududkan Inggeris terhadap Bangka (1812-1816)
28Sampoerna menyatakan diri sebagai Raja Bangka dan Belitung datang ke Batavia tahun 1668. Lihat Timah Bangka dan lada Mentok – Peran Masyarakat Tionghoa dalam Pembangunan Pulau Bangka abad XVIII-XX, Mary Somers Heidhues, Nabil, Jakarta, 2008, Hal. 3
29Sutedjo Sujitno, Ibid, Hal. 164
30Prasasti pasumpahan di Kota Kapur 686 masehi
31Sutedjo Sujitno, Ibid, Hal. 202
32 Konflik kerajaan dimulai ketika Depati Anum menyampaikan penawaran timah kepada Belanda Residen Belanda tahun 1717. Belanda belum menunjukkan minatnya. Selain karena timah bisa didapatkan di Malaka, timah ditawarkan masih berkualitas rendah.
33 Pola pembelian timah dari produksi tambang diubaha. Pembelian tidak lagi dilakukan lewat para TIKO di Palembang tetapi langsung kepada para kongsi tambang.
34 Belanda kemudian menetapkan perusahaan tambang timah dikelola oleh negara dengan membentuk Banka Tin Winnning Bedrif.