19 April 2019

opini musri nauli : SUJUD


Sudah dua hari terakhir, saya malas menonton televisi paska Pemilu serentak 2019. Selain dipastikan banyak sekali berita-berita yang akan memancing “emosi’, berita-berita yang ditayangkan “cuma” mengulang-ulang. Sama sekali tidak menarik perhatian saya. Kalaupun hendak menonton “paling-paling” film Hollywood. Film Action. Setelah serumah sudah pada tidur.


Saya kemudian melanjutkan membaca buku-buku yang belum sempat dibaca. Sembari menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.

Namun konsentrasi saya kemudian buyar. Ditengah asyik membaca buku ditepi kolam rumah, saya kemudian dipanggil putra saya. Sambil berteriak “Yah, Prabowo menang. Dia sujud tuh”. Akupun enggan menanggapi.

Sambil meneruskan membaca “Itu berita lama. Kenapa diulang-ulang”, kataku tidak peduli.

“Idak, yah. Sekarang !!!’, Kata putraku sambil menegaskan. Akupun bergerak menonton televisi.

Sambil melongo aku tidak percaya. Kukucek-kucek mata. Sembari memastikan. Apakah itu berita lama. Kuperhatikan seksama. Apakah ini kerjaan “netizen” yang canggih memainkan photoshop. Atau cuma rekaan adegan. Persis film Hitler yang sering diubah-ubah dialognya.

Melihat “siapa disampingnya”, akupun kaget. Ternyata. Tidak sama dengan tahun 2014. Sama sekali berbeda.  

Ya.. Prawobo sujud. Memastikan pemenang Pilpres 2019. Sungguh-sungguh aku tidak percaya. Dengan kekagetan dan keheranan, akupun meneruskan pekerjaan semula.

Ah. Dagelan politik apa lagi. Masa kayak 2014.

Akupun tenggelam dalam kesibukan semula.

Namun ketika aku berkomunikasi dengan teman-teman dari luarnegeri. Akupun mulai mengernyitkan kening.

Pertanyaan mengganggu yang membuat aku mulai berfikir.

“Nauli. What happened now ?”.

Waduh. Berabe. Saya kemudian menjelaskan tentang sujud secara sekilas.

“I see. I see football player’. Waduh. Ternyata dia sering memperhatikan pemain muslim yang berhasil mencetak gol dan kemudian sujud syukur.
“But. He isn’t win. Why prostrate. What happened ? He’is win ?

Nah. Semakin bingung saya. Iya. Mengapa tidak menang kemudian sujud ?

Ternyata saya mulai merasakan “Kegelisahan’. Mengapa orang yang kalah kemudian sujud ?. Mengapa orang bergembira merayakan kekalahan.

Apakah saya mulai dihinggapi “ketidakwarasan”. Menerima keadaan dan bertentangan dengan akal sehat ?.

Waduh. Kukucek-kucek mataku. Sembari memukul pipiku, aku bergumam. Apakah aku yang salah ?

Merayakan “kemenangan” dapat dilakukan dengan bersyukur. Termasuk sujud syukur. Dan itu lazim dilakukan oleh siapapun. Termasuk pemain sepakbola ketika usai mencetak gol.

Namun “memegang amanah” bukanlah dirayakan dengan cara bersyukur. Justru amanah adalah “tugas” yang maha berat. Yang tidak saja dipertanggungjawabkan secara hukum dan “urusan dunia”. Namun menjadi “pertanggungjawaban” yang berat diakherat. Diminta “pertanggungjawabkan”.

Bukankah Umar bin Khatab “pernah” mengeluarkan pedangnya ketika ditunjuk menjadi pengganti Abu Bakar. Dengan menghunus pedangnya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dia berujar “Aku lebih baik pergi 1000 kali perang daripada menjadi Khalifah’.

Bukankah setiap malam Umar bin Khatab “memikul” sendiri, karung gandum untuk dibagikan penduduk yang siang harinya tidak makan.

Bukankah setiap malam dia menangis ketika masih ada penduduk yang kelaparan. Bukan setiap malam dia sengaja mengasingkan diri dan terus meminta ampun terhadap amanah yang dipegangnya.

Begitu beratnya tugas yang diberi amanah, sehingga dipastikan “bukan” ucapan “Alhamdulilah” yang diucapkan. Apalagi sampai sujud syukur.

Tapi ucapan “innalilahi”. Ucapan “ketidakmampuan” untuk menjalankan amanah selain pertolongan dari-nya. Ucapan yang sering saya dengar ketika pemimpin agama yang diberi amanah.