22 April 2019

PERBEDAAN


Mari kita hentikan “perbedaan” pilihan Presiden/wakil Presiden disebabkan perbedaan pilihan. Bukankah “perbedaan” adalah fitrah sebagaimana manusia diciptakan memang dilahirkan berbeda.


Mari kita hentikan “permainan gila” terhadap bayang-bayang ilusi. Pemiliha Pilpres telah usai. Kewajiban telah ditunaikan. Jari telah dilumuri tinta ungu.
Hasil Quick count telah diumumkan. Tidak suka dengan metodologi pemilhan sampel (sampling randong), silahkan persoalkan. Perdebatan. Sampai tegang leher. Kalau perlu keluarkan kalkulator paling canggih untuk mempersoalkan metodologinya.

Kalau tidak puas silahkan buat lembaga survei. Daftarkan ke KPU. Gunakan metodologi yang baik. Silahkan paparkan hasilnya ke public. Jangan numpang mendafar sebagai “pengawas” atau pemantau pemilu malah menjadi lembaga survey, atau menghasilkan quick count.

Mari kita apresiasi KPU. Menemukan kecurangan, kumpulkan bukti-bukti yang lengkap. Laporkan kepada lembaga yang berwenang. Entah ke KPU atau Banwaslu.

Mari kita tunggu penetapan KPU. Tidak puas terhadap hasilnya, silahkan persoalkan di MK.  

Jangan kayak kemarin. Mengaku bukti 10 truck container ternyata cuma 10 kardus. Itupun banyak lembaran duplikasi.

Setiap jenjang telah disediakan kanal. Untuk menyelesaikan, mencari solusi dan jalan keluar.

Pemilu serentak diadakan di 17.000 pulau, melibatkan 5 juta orang, 800 ribu TPS, 190 juta mata pilih bukanlah mudah. Belum lagi 5 kertas suara untuk dihitung. Diteliti. Dibuatkan berbagai rekap. Hingga dipastikan tidak ada yang terlewatkan.

Setiap detik-detik penghitungan disampaikan secara terbuka. Dishooting kiri-kanan. Disaksikan oleh saksi, pemantau bahkan berbagai pihak. Tidak terdengar kericuhan didalam penghitungan.

Satu dataran Eropa saja tidak mampu mengadakan. Satu dataran Tiongkok atau Amerika tidak mampu mengadakan.

Apakah itu bukanlah sebuah prestasi besar yang harus diapresiasi.

Bukankah tidak sebaiknya menunggu penetapan dari KPU. Biarkanlah KPU tenang bekerja.

Lalu mengapa ada tuduhan “curang” ? Alih-alih mengikuti setiap tahapan proses, bahkan sudah ada yang sampai koprol salto menyatakan ikrar kemenangan ? Bukankah itu justru memberikan “amunisi” memperkeruh keadaan.

Mari kita hormati perbedaan pilihan. Mari kita tunggu kabar dari KPU.

Perbedaan pilihan – apalagi cuma pilpres adalah kodrat manusia. Jangankan urusan politik. Didalam rumah tangga – satu keluarga - satu darah, perbedaan tidak dapat dihindarkan.

Suami – istri saja bisa berdebat panjang tentang warna kain gorden. Suami – Istri saja bisa berdebat hebat tentang cat ruang depan.

Sekeluarga saja bisa berbeda pandangan. Antara satu anak dengan anak yang lain bisa bertengkar dirumah. Mempersoalkan pemain terbaik. Apakah Ronaldo atau Messi.

Atau satu keluarga bisa berdebat panjang. Siapa yang memegang remote TV untuk menonton televise. Apakah nonton “Upin-Ipin”, infotainment, film action atau Live Sepakbola.

Satu rumah bisa berbeda selera music. Ada penggemar Group music Rock. Ada penggemar Via Vallen. Ada pengagum Ariel Peterpan.

Satu rumah bisa berbeda selera film. Ada suka film horror. Ada suka film India. Ada suka film drama korea yang mendayu-dayu. Ada suka film action dengan adegan perang. Bahkan ada suka film romantic yang membuat tissue tidak pernah jauh darinya.

Bahkan agenda liburan juga menjadi arena perdebatan. Ada yang ingin ke pantai. Ada yang mau ke gunung. Ada yang ke kolam renang. Bahkan ada yang ke mall.

Bukankah kita diciptakan untuk berbeda-beda. Bersuku-suku. Berbangsa-bangsa. Agar kita saling mengenal ?

Perbedaan adalah fitrah. Perbedaan bukanlah untuk dipersoalkan. Perbedaan bukanlah untuk disatukan.

Marilah kita bergandengan tangan. Kembali untuk menjadi anak negeri.

Bukankah pelangi begitu indah karena perbedaan warna ?