16 Oktober 2013

opini musri nauli : MENGENAL EBA DARI PHILIPINE




Ketua, Ketua mesti berangkat !!!. Kalimat itu lebih bermakna “diperintahkan”  daripada himbauan dari Ketua Oslan Purba, Manager Kantor Eksekutif Nasional Walhi di Jakarta menjelang beberapa hari keberangkatan ke Philipine.

Untung saja ke Philipine tidak “mesti urus visa” dan passport belum memasuki masa  habis 6 bulan. Jadi tinggal go dan tidak perlu urus ini urus itu.
Didalam TOR yang dikirimi via email, model EBA (ecosystem based adaptation) bersinggungan dengan climate change. Dengan pemahaman bahasa Inggeris yang terpatah-patah, penulis menganggap bahwa bahwa model EBA yang sudah dipraktekkan masyarakat dapat menjadi pelajaran penting didalam melihat hutan.
Dengan semangat itu, maka penulis kemudian berkomunikasi dengna ketua Nego untuk memastikan sikap dan pandangan Walhi.

Kesempatan ini tidak disia-siakan. Selain mendapatkan kehormatan menghadiri forum internasional juga mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat dalam satu rumpun negara ASEAN.

Sebagai sebuah negara yang berdaulat tentu saja, pengamatan yang dilihat bagaimana kehidupan masyarakat, suasana kondisi psikologis dan tentu saja peradaban bangsa.

Utusan dari Indonesia terdiri dari Diky Kurniawan , Herbert, Carlo, Neni, Telly.  Penyampaian materi dari Indonesia disampaikan oleh Diky dan Telly.  Dalam pertemuan itu hanya pertemuan dari Indonesia dan Philipine dan peninjau dari IUCN Belanda. Seingat penulis peserta berjumlah lebih kurang 30 orang.

Pertemuan dilaksanakan tanggal 11 – 12 Oktober 2013. Tapi dua hari sebelumnya, penulis, Diki dan Herbert menghadiri kegiatan Workshop Nasional EBA Philipine dan persiapan pertemuan tanggal 10 Oktober 2013. Tanggal 10 Oktober pagi, barulah mas Ruwi datang dan Tanggal 11 Oktober pagi datang Carlo, Neni dan Telly.
Acara diadakan di Eugenio Lopez Center, Antipolo Rizal. 40 km dari Manila. Eugenio Lopez adalah seorang “Bapak bangsa Philipina”, seorang kaya dari Antipolo. Dia mempunyai berbagai perusahaan baik termasuk telekomunikasi, manufaktur, tekstil, perusahaan avtur. Tempat pertemuan merupakan miliknya. Diatas bukit yang dapat melihat Manila dari kejauhan. Seperti daerah puncak.
Dalam pertemuan di Workshop Nasional Philipine, penulis menyaksikan berbagai inisiatif masyarakat dan NGO Philipine didalam menghadapi climate change.  Secara umum, yang dijadikan basis program adalah masyarakat adat local. Penulis menangkap kesan, secara substansi, sebagai masyarakat adat, tentu saja mempunyai jiwa dan roh yang tetap menjunjung alam dan mempunyai pola dan tradisi panjang menjaga hutan. Pemahaman ini didasarkan baik kepada cara-cara didalam mengelola alam dan presentasi yang dipaparkan selalu diselipkan gambar-gambar penting yang akan mudah dipahami sehingga penulis berkeyakinan secara substansi tidak ada perbedaan mendasar.
Namun dalam beberapa hari pertemuan, sorotan tajam tentu saja menjadi tema yang menarik perhatian penulis. Pertama. NGO dan masyarakat local tetap menyoroti pandangan Negara dalam climate change. Kedatangan narasumber seperti National REDD of Philipine menjadikan diskusi menjadi menarik. Sama seperti di Indonesia, kedatangan utusan resmi dari Negara menjadi diskusi menjadi serius. Kedua. Teman-teman NGO sudah banyak bekerja di issu climate change. Ketiga. Model-model yang ditawarkan berangkat dari model-model yang dikembangkan dari masyarakat. Namun Issu seperti konflik, tambang kurang mendapatkan perhatian penuh.
Disela-sela pertemuan, penulis berkesempatan diskusi dengan Erwin, teman dari FoE (Friend of Earth, jaringan Walhi di Internasional). Erwin cukup baik menjelaskan bagaimana persoalan konflik kurang menjadi perhatian. Ini didasarkan kepada daerah-daerah yang menjadi sorotan, dominan militer masih kuat. Walaupun issu demokratisasi menjadi issu utama, namun dominan militer masih menjadi salah satu issu yang cukup hati-hati dirumuskan.
Dalam pengamatan sekilas, secara sederhana dimulai dengan istilah yang digunakan, makanan, kehidupan sehari-hari. Terlepas sebagai negara metropolitan yang sudah maju, Manila sudah berhasil menata kota metropolitan. Walaupun banyak yang memiliki kendaraan pribadi, namun dengan harga minyak yang cukup mahal, membuat orang harus berfikir untuk memakai kendaraan pribadi. Sebagai perbandingan, satu liter minyak solar dijual dengan harga p 43,00. Dengan asumsi US$ 1 dikurskan p 40 lebih. Maka, minyak solar Rp 11.000,- lebih./liter. Padahal di Indonesi masih Rp 5.5000,-.
Belum lagi makanan yang dihargai rata-rata diatas p 170 (US 4 $) membuat penulis harus berfikir ulang untuk membeli. Padahal dengan jenis yang sama-sama, paling-paling di Indonesia Rp 10.000,- (US 1 $).
Mengenai istilah, penulis kaget mendengar ada kata-kata "selamat", ketika pengucapan dari pramugari pesawat Philipine Airlines. Penulis pikir, karena pesawat dari Jakarta. Namun kemudian mengetahui setelah di tempat lokasi pertemuan, ternyata kata "selamat" artinya. Terima kasih.. Waduh. Kok jadi gini. Jadi setiap peserta dari Philipine habis presentasi, ada ucapan "Selamat", penulis selalu harus refresh dengan menggantikan istilah "selamat" menjadi "terima kasih".
Sampai dengan pulang, masih memerlukan konsentrasi tinggi, apabila teman-teman mengucapkan kata-kata "selamat"..
Secara pribadi, keterikatan penulis dengan negara Philipine sulit ditemukan. Baik dengan alasan kedekatan geografis, perjalanan sejarah maupun ikatan emosional. Berbeda dengan Malaysia atapun Singapura selain banyak ornamen, cerita para pejuang, ikatan emosional mudah terbangun.
Menurut penulis, secara emosional Philipina dekat dengan Sulawesi. Baik karena dengan alasan sejarah maupun ikatan emosional. Pengakuan mereka juga dapat dikonfirm. Selain itu juga, para nelayan Sulawesi sering sampai 4 perbatasan philipina. Belum lagi berbagai ornamen yang membuktikan Philipina merupakan hubungan baik dengan Sulawesi.
Berbagai rangkaian pertemuan kemudian disadari, secara emosional dalam satu rumpun bangsa ASEAN, issu climate change sudah menjadi pengetahuan masyarakat. Sudah seharusnya, ketika membicarakan tentang perubahan iklim, tidak semata-mata berangkat dari model yang ditawarkan berbagai konsep yang disusun para akademisi. Namun juga belajar dari pengetahuan masyarakat yang terbukti mampu menjaga alamnya. Dari sanalah kita belajar.