04 April 2017

opini musri nauli : RAKYAT PEMILIK PENGETAHUAN


Membaca dialektika tentang berbagai isu Lingkungan Hidup, saya kemudian bertanya. Siapakah “pemilik pengetahuan Lingkungan Hidup ?”. Kampus yang melahirkan berbagai teoritis atau analisis yang rumit. Atau pemegang kekuasaan yang menggunakan kampus sebagai pemilik pengetahuan. Atau rakyat yang merasakan setiap denyut alam dan perubahan.

Pertanyaan itu kemudian berkejaran disaat bersamaan Negara yang memulai berbagai proyek industry untuk menjadi “penyuplai” kebutuhan bahan mentah dunia.

Entah dimulai dari penamanan merica di pantai timur sumatera pada abad XVII-XVIII atau “penanaman pala dan cengkeh” untuk Indonesia Timur. Atau Lada yang ditanami di sepanjang pantai barat Sumatra.

Jalur rempah-rempah yang menjadi “madu” untuk memanggil “semut” dunia untuk mengelilinginya. Atau damar, rotan, gaharu, cendana, lilin untuk menjadi “budak” menghidupi dunia.

Indonesia tidak mau berkaca dan terus mengulangi kesalahan terus menerus.

Memasuki paruh kedua abad XXI, karet, kopi, teh kemudian dijadikan “sasaran” Pemerintah colonial Belanda untuk mengisi pundi-pundinya. Negara Belanda yang “luasnya seupil Eropa ” menjadi kaya dan mulai mengendalikan Eropa. Berbanding terbalik dengan derita yang hendak ditanggung Negara “inlander”.

Belum usai cerita rakyat tentang derita yang mesti ditanggung untuk menjadi “penyuplai” pasar dunia, memasuki rezim Soeharto, kayu gelondongan dan sawit kemudian “dipecut” berkejaran menjadi Negara “dermawan” mengisi pasar-pasar dunia. Berambisi untuk mengalahkan Negara Asia sebagai “produsen” dunia.

Semua derita itu diwariskan turun temurun. Dari generasi ke generasi. Derita rakyat belum juga berkesudahan.

Derita itu tidak saja meminggirkan rakyat dari tanahnya. Justru meminggirkan rakyat dari peradabannya.

Rakyat kemudian memasuki “lorong gelap” yang tidak tahu kapan lagi harus melihat cahaya.

Di Serampas, 200 tahun yang lalu masyarakat masih mengenal 240 model pengobatan. Sekarang untuk menghitung 40 jenis pengobatanpun susah.

Di Kumpeh sudah lama masyarakat tidak lagi mengenal padi benih local. Sedangkan Sungai Kumpeh yang bertaburan nama-nama jenis ikan local tinggal sejarah.

Petani kemudian membeli air gallon, membeli beras bahkan juga harus membeli ikan. Sebuah kutukan yang tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya.

Sementara ketika harga karet dan sawit jatuh terjerembab, “telinga” penguasa “seakan-akan” tuli dan abai dengan kenyataan. Padahal karet dan sawit menjadi “promosi” andalan setiap pemimpin yang berkuasa di Jambi.

Lalu apakah kemudian kita menerima “takdir” dan menyerahkan kepada alam. Mengapa kemudian kita tidak membuka kitab-kitab lama yang diberikan para leluhur yang menjaga alam.

Bukankah “ajaran” setiap leluhur menempatkan “alam” dengan cara menghormati.

Setiap prosesi selalu dimulai dengna permohonan kepada Sang Pencipta agar alam selalu menjaganya. Dimana setiap prosesi yang diajarkan leluhur dan kemudian “lebih tertarik” untuk bercerita tentang “alam” yang cuma dihitung dari “hitung-hitungan” ekonomi ?

Dimana ajaran leluhur yang telah diwariskan.

Alam selalu “memberikan” apa yang dibutuhkan manusia. Alam selalu ramah dan menempatkan manusia untuk mengaturnya. Namun alam tidak akan pernah memberikan tanda apabila murka. Alam selalu memberikan “bencana” disaat manusia tidak lagi mau merawatnya.

Apakah itu akan kita wariskan kepada generasi kita. Apakah kita mau meninggalkan cerita tentang kerbau yang cuma bisa kita gambarkan kepada dinding di rumah yang berposelen indah. Apakah kita bisa bercerita tentang bentuk durian sembari meninabobokan menjelang tidur. Atau kita memutar VCD bajakan untuk mendengarkan suara burung.

Banjir yang melanda tiga bulan terakhir di Jambi baru “alarm” kepada kita.
Alam baru memberikan isyarat. Alam belum memberikan murka.

Sudah saatnya fungsi alam dikembalikan. Air yang mengalir jernih melewati kampong untuk anak bermain di sore hari. Atau burung yang berkicau di pagi membangunkan tidur dari lelap mimpi.

Mari kita tinggalkan cerita indah kepada generasi. Agar mereka tidak menyesal karena kita meninggalkan mimpi.

Mari kita Tanya kepada alam tentang pengetahuan yang luput kita gali. Mari kita susun rencana dan bekerja kepada alam. Marilah kita bertanya kepada alam. Agar alam selalu memberikan pengetahuan. Dan kita kemudian “diwajikan” menjaga pengetahuan.

Sembari membangun mimpi, marilah kembali kepada alam. Marilah kita “bertaubat” kepada alam. Marilah kita ajak alam untuk bernyanyi. Agar alam kembali menjalankan fungsinya. Memberikan apapun yang kita butuhkan.

Refleksi Rapat Kerja Daerah Walhi Jambi 2016 – 2021.