20 Desember 2017

opini musri nauli : Kelirumologi





Yang kusuka Indonesia adalah "daya khayal",  "ilmu kelirumologi" dan ilmu "mencocokkan" dengan pemikiran sang penutur.

Mari kita mulai satu persatu.

Pertama. Dengan ditemukan kepingan mata uang, sang penutur kemudian berguling-guling kegirangan dan kemudian menyebutkan sebagai Kesultanan Islam. Dengan penyebutan “Gaj Ahmada” sebagai Patih.

Padahal dari pelajaran sejarah Indonesia, Kerajaan Mahapahit adalah Kerajaan Hindu yang dituliskan di daun lontar yang kemudian dibukukan didalam Kitab Negarakertagama. Kitab yang masih dapat dilihat sebagai sumber pengetahuan.

Lalu. Bagaimana dengan penemuan mata uang dengan lafaz Arab.
Kerajaan Mahapahit adalah lintasan perdagangan. Tentu saja ditemukan berbagai mata uang adalah sebuah keniscayaan. Namun dasar “logika jumping” ditemukan mata uang kemudian langsung menyebutkan sebagai Kesultanan Islam. Lengkap kemudian “menuduh” menyebutkan Kerajaan Hindu karena “orientalis” dan “jebakan” bangsa Barat dan tidak mau mengakui Majapahit sebagai Kesultanan Islam.

Apabila “logika jumping” mau dipakai, maka ditemukan porselen diberbagai wilayah di Indonesia maka Indonesia kemudian tidak disebut sebagai vassal dari Tiongkok sebagai pusat kebudayaan porselen ?

Atau mengapa tidak menuduh saja sekalian, Tiongkok sebagai Kerajaan Islam setelah kedatangan Laksamana Cheng ho yang menyebarkan islam di Jawa ?

Kedua. Mengajak boikot produk Israel. Wah. Kalau ini masalah serius. Namun mengapa tidak juga mau mengajak boikot produk perusahaan pembakar asap di Indonesia.

Perusahaan yang nyata-nyata menyebabkan kebakaran dan menghasilkan kerugian nyata semakin lucu ketika bibir kemudian kelu.

Ketiga. Mempersoalkan banjir di Jakarta dan mengutuk penyebab banjir karena tidak dipimpin seiman. Namun ketika banjir di Jambi atau Bandung tidak terdengar suaranya.

Dan sekarang ketika banjir mulai mengancam Jakarta, dasar “logika jumping”. Eh kemudian meminta Jokowi untuk membereskannya.

Apakah banjir mengenal agama ? Apakah karena sekarang dipimpin karena seiman maka “suara banjir” kemudian tidak disuarakan ?

Keempat. Mengajukan permohonan “tafsir” melebihi UU ke MK namun “mencak-mencak” ketika MK tidak mengabulkannya. Eh. Kemudian menyebutkan MK sebagai “mendukung LGBT” dan mendukung kehidupan seksual,

Padahal MK sudah memberikan solusi untuk “menyelesaikan” di parlemen (legislative review).

Yang membuat saya “bergembira”, logika jumping menjadi “agenda mainstream” sehingga setiap pandangan harus mengutip dari pandangan orang lain. Tidak berani atau memang tidak ada dasarnya sehingga pengutipannya juga keliru.

Sebagai manusia yang diberikan akal, maka memperbanyak bacaan adalah sebuah keharusan dan keniscayaan sebagai “perintah” dari agama. Namun karena “membaca” dari sumber yang keliru, maka ketika menyampaikan gagasan membuat “saya bisa menikmati” hari-hari dengan bergembira.