08 Agustus 2018

opini musri nauli : MAKNA DAN DIKSI


“Si Jago merah melalap hutan di California”
Pikiran.com, 11 Desember 2017

Judul provokatif dari media yang mengabarkan kebakaran hutan menggambarkan “keangkuhan” api yang membakar hutan di California akhir tahun lalu. Menghanguskan 180.000 ha dan menghancurkan 792 bangunan.

Secara sekilas berita yang diterima menggambarkan dahsyatnya api. Tidak terkendali dan mampu meluluhlantakkan hutan. Tidak terpikir kemudian si pengabar berita menggunakan kata “si jago merah’. Perumpamaan raksasa api yang tidak mampu dikendalikan dan menggunakan kata “si jago merah”.

Penggunaan “si jago merah” menggambarkan ketidakmampuan manusia mengendalikan api. Penggunaan kata “Jago” adalah kedigdayaan api yang membesar dan membuktikan api “lebih jago” dari manusia. Sebuah perumpamaan dengan padanaan kata dilekatkan “si jago merah’. Kitapun menerima berita tanpa “reserve”.

Penggunaan ungkapan “si jago merah” melambangkan penggunaan kata dengan efektif, terukur dan mampu menggambarkan imajinasi dari pembaca. Tanpa “reserver” dengan mudah kita menggambarkan bagaimana “ekor api’ kemudian menjalar kesana kemari. Dibawa angina dan melalap apa yang bisa dibakar. Ungkapan yang sering kita temukan dalam percakapan sehari-hari. Bahkan sering juga digunakan sebagai diksi kalimat untuk menggambarkan pikiran dari sang penutur agar mudah ditangkap pembaca.

Bangsa Indonesia mempunyai kekayaan istilah, perumpamaan, pepatah yang berjibun. Dari sabang hingga merauku. Masyarakat mampu bertutur dengan penggunaan istilah atau perumpamaan yang kaya makna.

Dengan jernih suara lirih pemangku adat dikampung mampu menjelaskan literasi dengan baik. Mereka mampu bertutur sembari mengambil sehelai daun dengan memberikan perumpamaan.

Lihatlah bagaimana sikap tawadhu dengan perumpamaan ilmu padi. “Semakin berisi semakin merunduk’. Atau “tetap menyebar kebaikan” dengan tetap menanam padi walaupun tumbuh rumput. Sebuah peradaban agung yang diwariskan turun temurun.

Ungkapan, istilah, perumpamaan, pepatah adalah tutur Bahasa yang menunjukkan derajat bangsa. Dengan penggunaan ungkapan, perumpamaan, pepatah merupakan sebuah kalimat yang singkat namun sarat makna. Tanpa “reserve”, pesan mudah ditangkap sekaligus mengukur daya khayal tinggi dari pemberitaan.

Namun akhir-akhir ini penggunaan ungkapan, istilah, perumpamaan kemudian “dipelintir’ menjadi makna “letterlijk” atau memaknai “apa adanya”. Jauh dari makna hakiki.

Lihatlah kata “Tapi, kalau diajak berantem juga berani”, yang diucapkan oleh Jokowi kemudian “dipenggal” dan kemudian “dipelintir” ajakan berantem. Bahkan “digoreng” sebagai perkataan “tidak nasionalis” dan tidak pantas diucapkan seorang Presiden.

Memenggal “Tapi, kalau diajak berantem juga berani”, tanpa melihat kalimat sebelumnya adalah pemiskinan dan pendangkalan makna. Penggalan kalimat tanpa menelusuri kalimat sebelumnya menggambarkan sang pembaca gagal menangkap esensi dari maksud dari sang pemberi kalimat.

Gaduh “Tapi, kalau diajak berantem juga berani” melengkapi polemic “Islam Nusantara”, seakan-akan membumbung ke angkasa. Menembus langit ketidakpahaman. Persis kisah Dodo yang pernah diceritakan. Kering makna.

Literasi, memperdalam pengetahuan, memperbanyak bertanya (tabayyun), berdiskusi sembari mendengarkan menjadi barang kemewahan. Praktis tidak hidup lagi untuk memperkaya sebuah tema.

Lihatlah. Dunia maya kemudian disesaki berjubel informasi sesat, sempit dan kering makna. Antara kabar kabur (hoax) bersileweran dan mengaburkan esensi berita. Provokasi membenarkan perbuatan yang bertentangan kemanusiaan “seakan-akan” mendapatkan pembenaran. Entah dengan mendukung terorisme atau cerita tentang wangi bidadari sebagai dukungan terhadap pelaku terorisme.

Setiap hari produksi sampah kebencian. Mengambil (capture) tanpa pernah melakukan klarifikasi kepada informasi resmi. Mengutip media abal-abal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Bahkan yang lebih ironis. Justru pelakunya adalah kelas menengah.  “Kaum’ yang mengenyam pendidikan tinggi, mengakses informasi dengan baik dan kehidupan keluarga yang terpandang. Tidak ada “akal sehat’ untuk menjadi “filter” dari kabar yang diterima.

Kengganan Memperbanyak literasi, memperkaya gagasan menyebabkan kemunduran peradaban agung bangsa Indonesia.

Sebuah anomali kelas di Indonesia. Dimana masyarakat yang tinggal-tinggal di kampong mempunyai literasi penggunaan istilah, pengungkapan, pepatah, perumpamaan yang agung didalam memaknai kehidupan.

Berbanding terbalik dengan kelas menengah di Indonesia yang justru terkungkung pemikiran sempit, dangkal dan jauh dari esensi sebuah peristiwa.

Setelah heboh “bumi datar’ dalam ilmu alam , angka 7 juta dalam penghitungan konyol matematika dalam aksi di kawasan monas maka literasi Bahasa juga mengalami titik nadir memalukan.

Atau inikah yang sering diingatkan para Guru ngaji. Tidak boleh durhaka kepada guru. Karena ilmu kemudian diangkat oleh Tuhan ke langit. Dan dunia kemudian menjadi gelap ?

Tau, ah. Gelap.