02 Juli 2018

opini musri nauli : Marga Peratin Tuo


Marga Peratin Tuo termasuk LUAX XVI. LUAK XVI terdiri dari Marga Serampas, Marga Sungai Tenang, Marga Peratin Tuo, Marga Tiang Pumpung, Marga Renah Pembarap dan Marga Senggrahan. Tideman menyebutkan “Luak XVI merupakan federasi. Luak XVI merupakan 10 Marga di Kerinci dan 6 Marga di Bangko. Bersama-sama dengan Serampas, Sungai Tenang, Peratin Tuo, Tiang Pumpung, Renah Pembarap mengaku berasal dari Mataram (Jawa).  Tideman kemudian menyebutkan “Senggrahan termasuk kedalam Sungai Manau”. Senggrahan bersama-sama dengan Pratin Tuo dan Mesoemai[1]. Dalam berbagai dokumen sering juga disebut dengan kata “Pratin Tuo”[2]. Istilah “Peratin Tuo” menunjukan tempat pemberhentian.

Masyarakat kemudian menyebutkan Depati Pemuncak Alam, tempatnyo di dusun Tuo.  Depati Karto Yudo, tempatnyo di dusun Tanjung Berugo, Nilo Dingin dan Sungai Lalang. Depati Penganggun Besungut Emeh, tempatnyo di dusun Koto Rami dan dusun Rancan dan Depati Purbo Nyato, tempatnyo di dusun Tiaro[3]

Didalam Peta “Scketskaart Residentie Djambi (Adatgemeenschappen (Marga’s). Marga Renah Pembarap berbatasan dengan Marga Pangkalana Jambu, Marga Tanah Renah, Batin IX Ulu, Marga Senggrahan, Marga Peratin Tuo dan Marga Serampas.

Puyang Marga Peratin Tuo mengenal Cerita tentang “mambang” tentang nenek yang berperang, sehingga disebut ‘perang gunung’. Salah satu contoh perang gunung terjadi antara Nenek Wali Mantring Baju Temago yang bersemayam di Gunung Sumbing dengan Nenek Serampu Alam Sati yang bersemayam di Gunung Sumbing. Akibat kesaktian dari Nenek membuat gunung menjadi sumbing. Gunung ini kemudian dikenal sebagai Gunung Sumbing[4].

Di Dusun Tuo mengenal Legenda Si Pahit Lidah. Legenda Si Pahit Lidah tidak dapat dilepaskan dari cerita tentang Batu Larung. Si Pahit Lidah mempunya kesaktian setiap perkataannya terbukti (pahit lidah) [5].

Sedangkan di Desa Tanjung Berugo sebelumnya dikenal nama “Talang Berugo”. Di Dekat Desa terdapat tanjung di dan banyak terdapat ayam berugo[6]..

Cerita di Nilo Dingin bermula “beumo jauh” ditempat “Pematang Lipai”. Kemudian pindah ke Tanjung Putih. Disebut “Tanjung Putih disebabkan ditempat tepian umum sebagai tempat pemandian umum. Selanjutnya pindah ke Renah Sungai Nilo Dingin[7]. Tempat yang dikenal sebagai Desa Nilo Dingin.

Sungai Lalang merupakan Dusun dari Desa Nilo Dingin. Disebut Sungai Lalang karena daerah ini semula sebagai tempat persinggahan lintasan pedagang dari Jangkat menuju Ke Bangko[8].

Di Tiaro dikenal cerita tentang “berdukun di Lipai Tuo di Dusun Tuo” [9].

Tambo Marga Peratin Tuo berbatas dengan Marga Senggrahan “hulu sungai Birun ke bukit Majo, terus ke napal takuk rajo (Dusun Sepantai).

Sedangkan Tiang Pumpung dengan Tambo “Renah kayu Gedang mendaki Bukit punggung Parang”. Terus Renah Bilut yang terletak di Badak Tekurung. 

Marga Pangkalan Jambu ditandai dengan Tambo “Bukit Sengak terus Renah Hutan udang. Terus Bukit Kapung Sungai Tinggi balek ke Belalang Bukit Gagah Berani

Marga Renah Pembarap ditandai dengan Hilir Bukit Kemilau Rendah terus ke Bukit Kemilau Tinggi terus bukit tepanggang. Terus ke Sri Serumpun Muara Nilo. Bukit tepanggang berbatas juga dengan Guguk yang termasuk kedalam marga Renah Pembarap[10].

Batas antara Marga Senggrahan dengan Marga Pangkalan Jambi merupakan keunikan. Marga Senggrahan menyebutkan Bukit Kapung Sungai Tinggi Bane Belalang Bukit Gagah berani”. Sedangkan Marga Peratin Tuo menyebutkan “Bukit berani. Sedangkan Marga Pangkalan Jambu menyebutkan “Bukit lipai besibak. Lubuk Birah juga menyebutkan “Bukit Lipai besibak”[11].

Dusun Tuo dengan Kotorami ditandai dengan Tembo “Muara Siau Tengah sampai ke Patok semen di jalan siau-jangkat terus ke Lesung Batu terus sampe ke Lubuk Resam Sungai Sisin terus Sampe Lubuk Melasih Batang Nilo[12]

Dusun Tuo dengan Nilo Dingin ditandai dengan Siau Kering Balik ke Sungai Tebal Durian Tiga batang  di Sungai Tebal terus kebawah lubuk kukup berenang terus ke telun Dempen ke sengak cipang duo terus ke sungai Ladi terus ke telun sungai sanda ketemu bukit belah duo

Dusun Tuo dengan Tanjung Berugo ditandai dengan “Dari Mudik Siau kering putar ke arah RT 14 Bukit Melintang terus pematang Aur terus ke hilir Muara Siau tengah

Sedangkan Desa Tanjung Berugo dengan Desa Tuo berbatas yang ditandai dengan
sungai penyinggahan. Dengan Desa Talang Asal yang ditandai dengan “Siau Duo Lubuk Inum Gelam, tungku rajo janting, muaro sungai telang renah pisang kayak, bukit sedingin, renah resam berduri di puncak bukit sedingin.

Desa Nilo Dingin ditandai dengan “sungai siau kering (sebagai batas denga Marga Sungai Tenang). Dengan Marga Tiang pumpung yang ditandai dengan sungai sipurak, gunung sumbing, gunung nilo sungai nilo gedang terus, kiaro bulan diatas batu terus, sungai lalang, bukit gamut  balik[13].

Desa Sungai Lalang berbatas dengan Desa Nilo Dingin yang ditandai dengan Kayu Aro Galai”, dengan Desa Ranah Alai yang ditandai dengan Bukit Merabung”. Sedangkan arah berbatasan langsung dengan Gunung Masurai yang ditandai dengan Bukit Merumbung” dan Gunung Nilo yang ditandai dengan Selipir[14]

Disebut Dusun Kotorami karena daerah ini merupakan tempat pemberhentian (Peratin Tuo) yang ramai dikunjungi orang[15].

Sedangkan batas antara Kotorami dengan Dusun Talang Asal ditandai dengan “Dari renah Pisang kayak teus sampai terus tungku rajo banting terus lubuk inum gelam Di sungai Siau terus mengilir Sungai Siau Bebelah duo terus sampai ke lubuk Muara Sungai Saung.

Kotorami dengan Rancan “Dari lubuk muara sungai saung hingga sungai empat jalan rancan sampai ke sungai kuning talang sekampil terus ke lubuk munta sungai sisin terus telun muara sungai tembang sungai mesa terus ke lubuk sungai resam di batang nilo”.

Kotorami dengan Durian Rambun “Dari aran yang empat terus ulu sungai kasen terus ke sampai ke pelayang pauh sungai lumpang terus ke sungai lumpen”.

Kotorami dengan Tanjung Berugo “Dari Muara Sungai Tengah ke renah bayam terus ke ranah pisang kayak terus tungku rajo banting terus lubuk inum gelam[16].  

Sedangkan Tiaro dengan Tiaro yang dditandai dengan Tembo “sungai tiaro. Dengan  disebelah utara dibatasi dengan sungai lirik, dan sebelah timur dibatasi oleh bukit mujo dengan Desa Lubuk Birah, dan sebelah barat dibatasi dengan sungai siau dengan Desa Sungai Ulas[17].

Berbatasan dengan Desa Rantau Macang yang ditandai dengan Sungai Tiaro. Dengan Desa Sepantai Renah yang ditandai dengan Sungai Lirik. Dengan Desa Lubuk Birah ditandai dengan “Bukit Mujo. Dan Dengan Desa Sungai Ulas ditandai dengan Sungai Siau

Pengaturan terhadap Hutan ditandai dengan “Pantang Larang”. Seperti areal yang ditempatkan sebagai daerah yang tidak boleh dibuka (Pantang Larang). Di Desa Tuo
Dan Di Desa Tanjung Berugo dikenal “Hutan daerah bukit sedingin dan gunung masurai”. Di Desa Nilo Dingin dikenal didaerah “nilo sensing” Batang Nilo-Nilo Dingin sampai sungai sengak, sungai ladi,  sungai lolo”. Di Desa Sungai Lalang dikenal “Bukit Merembang dan Bukit palipir”. Sedangkan di Desa Tiaro dikenal “Sepantai Renah”.

Selain itu dikenal Seloko “Sepenegak Rumah’. Menebang pohon hanya sekedar untuk bahan bangunan rumah. Betegak rumah dikenakan adat beras 20 gantang kambing satu ekor untuk mengundang dan meminta bantuan penduduk desa dalam mendirikan rumah[18].

Dengan pengaturan hutan yang mampu menyuplai air memberikan pemanfaatan sumberdaya air seperti PLTA/PLTA ada 2 unit yang berada di sungai nilo dan sungai nilo sensang sebesar 50.000 watt. Pemanfaatan air bersih dengan pipanisasi yang diambil dari berbagai mata air di hulu sungai-sungai kecil sekitar desa.

Desa Nilo Dingin, Desa Tanjung Berugo, Desa Sungai Lalang merupakan daerah yang termasuk kedalam HPT Bukit Sedingin dan HPT Bata Nilo-Nilo Dingin. Dikenal sebagai daerah penyangga Taman Nasional Kerinci Sebelat. Dikenal sebagai daerah “Siporak hoop”

Desa Tuo dan Kotorami kemudian telah mendapatkan pengakuan dari negara sebagai Hutan Desa. Dusun Tuo (2.105ha) dan Koto Rami (1.872ha).  

Baca : Istilah Marga di Jambi 

Dimuat di serujambi.com, 2 Juli 2018
https://www.serujambi.com/2018/opini-marga-peratin-tuo/


[1] Djambi, bewerkt door J. Tideman, met medewerking, Bruk de Bussy, 1938,  , Hal, 131
                  [2] F.D.E. van Ossenbruggen, 'Prof.mr. Cornelis van Vollenhoven als ontdekker van het adatrecht', in Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-IndiĆ« 90 (1933) I-XLI;, 323
                  [3] Desa Tuo, 21 Agustus 2010
                  [4] Tri Marhaeni S. Budisantosa, Megalit dan Kubur Tempayan Dataran Tinggi Jambi dalam Pandangan Arkeologi dan Etnosejarah, Balai Arkeologi Palembang, 2015
                  [5] Desa Tuo, 21 Agustus 2010
            [6] Profile Desa Tanjung Berugo, Kecamatan Lembah Masurai, PMKM – Pemkab Kabupaten Merangin, 2010
            [7] Profile Desa Nilo Dingin, Kecamatan Lembah Masurai, PMKM – Pemkab Kabupaten Merangin, 2010
            [8] Profile Desa Sungai Lalang, Kecamatan Lembah Masurai, PMKM – Pemkab Kabupaten Merangin, 2010
[9] Profile Desa Tiaro , Kecamatan Muara Siau, PMKM – Pemkab Kabupaten Merangin, 2010
[10] Samsuddin, Guguk, 16 Maret 2016. Guguk termasuk kedalam Marga Renah Pembarap.
[11] Pertemuan di Muara Siau, Muara Siau, Mei 2011
[12] Desa Tuo, 21 Agustus 2010
[13] Profile Desa Nilo Dingin, Kecamatan Lembah Masurai, PMKM – Pemkab Kabupaten Merangin, 2010
[14] Profile Desa Sungai Lalang, Kecamatan Lembah Masurai, PMKM – Pemkab Kabupaten Merangin, 2010
[15] Dusun Kotorami, 8 Oktober 2010
[16] Dusun Kotorami, 8 Oktober 2010
[17] Profile Desa Tiaro , Kecamatan Muara Siau, PMKM – Pemkab Kabupaten Merangin, 2010
                  [18] RIset Walhi Jambi, 2010