18 September 2020

opini musri nauli : Perempuan kurang kerjaan


Sebelum memasuki perkawinan, ketika masa “curhat-curhatan”, dibangun kesepakatan. Saya bertugas untuk menjadi Kepala Rumah Tangga. Bertugas untuk mencari nafkah. Dan menjadi tulang punggung keluarga. 


Namun sebagai orang yang dibesarkan dari tradisi demokrasi, hampir seluruh keluarga besar, para perempuan tetap bekerja. 


Ibuku bekerja di pemerintahan. Saudari Ibu tetap bekerja. Ada yang bekerja menjadi guru. Ada yang bekerja di perbankan. 


Sedangkan adikku sempat kuliah. Sehingga praktis, tradisi sekolah antara anak perempuan dan anak lelaki tidak pernah dibedakan. 

Istriku kemudian menjadi guru. Yang bertugas di diluar Kota Jambi. Semula 15-20 menit. Kemudian pindah di Desa yang cukup jauh. 78 km. Menempuh perjalanan 2-3 jam. 


Putriku juga menyelesaikan di perguruan tinggi ternama di Sumsel. Dan sekarang bekerja di Jakarta. 


Begitulah. Cara pandang keluarga besar ditanamkan sejak dini. Tidak ada perbedaan perlakuan. 


Sehingga praktis, tradisi sekolah antara anak perempuan dan anak lelaki tidak pernah dibedakan. 


Namun kerepotan mulai melanda keluarga saya. Ketika mulai awal-awal perkawinan, disatu sisi mempunyai dua bayi kecil, rutinitas kerja istriku membuat kami sempat berfikir. Istri untuk berhenti bekerja. 


Namun saran ayahku cukup menyentuh. “Tidak selamanya anak kecil. Nanti akan besar. Paling lama lima tahun kalian repot. 


Nasehat bijaksana dari ayah kemudian membuat tersentak. Kami menjalani kerepotan sembari saling mendukung. 


Terbayang kerepotan. Istri harus menaiki mobil angkutan umum. Dan pagi setelah sholat subuh. Setiap pagi saya mesti mengantar ditempat tunggu mobil angkutan umum. 


Belum lagi disela-sela bertugas, mesti mengikuti berbagai Pendidikan. Dan harus tinggal di asrama ataupun hotel. 


Disela-sela itu kemudian saya harus mengurusi dua putra-putri. 


Tidak terasa kerepotan kemudian menyita pekerjaanku. Selain banyak menghadiri sidang diluar kota juga sering harus bangun pagi mengantarkannya. 


Namun pelan-pelan waktu kerepotan mulai berkurang. Selain anak-anak kemudian mulai masuk ke sekolah, berbagai “kemudahan mulai terasa”. 


Entah diberi rejeki mempunyai mobil hingga berbagai kemudahan yang diberikan Tuhan. 


Ketika komitmen dibangun, maka praktis saya mulai memisahkan antara “urusan pekerjaan” diluar rumah dengan “urusan rumah tangga”. 


Sedapat mungkin, saya tidak “membawa pekerjaan kantor kerumah”. Bahkan “apabila dianggap penting”, saya lebih suka menerima tamu urusan kantor di Kantor. 


Bahkan berbagai persoalan “kantor” sama sekali tidak pernah bercerita dirumah. Selain dunia kami yang tidak sama, saya juga tidak mau membebani rumah dengan persoalan kantor. 


Begitu juga urusan rumah. Sedapat mungkin ketika “jadwal urusan rumah” saya berkonsentrasi untuk rumah. 


Entah dengan tidak membuka laptop. Atau sibuk berselancar didunia maya. Walaupun HP tetap aktif, tapi komunikasi melalui group WA ataupun cuma-Cuma browsing saya tinggalkan. Paling banter cuma membaca buku. 


Dirumah saya harus rela tidak menonton televisi. Selain “prime time” yang diisi sinetron ataupun entertainment, acara-acara ini adalah acara favorit dirumah. 


Saya bisa menonton televisi setelah semuanya tidur. Dan biasanya bersamaan dengan fim action disalah satu stasiun televisi.  


Selain itu, ketika dirumah, saya kadang harus juga mengalami kerepotan. Entah harus “gulung permadani” ketika yasinan bulanan jumatan yang sering diadakan di RT. Atau “arisan keluarga”. 


Atau “pagi minggu” harus menemani belanja di pasar tradisional. Kadang di Pasar Angso duo. Pasar tradisional masyarakat Jambi. Tapi lebih sering di pasar Simpang Pulai. Pasar yang terletak di Satlantas Polresta Jambi. 


Bahkan saya rela menjadi “driver”. Kadang menjadi “tukang angkut” apabila agenda mudik. 


Memisahkan “urusan rumah tangga” dan “urusan kantor” menyebabkan kadangkala menimbulkan keheranan bagi teman-teman istriku. 


Entah beberapa kali istriku bercerita tentang “sebuah kasus”. Namun dengan enteng istriku cuma berujar. “Tidak tau. Itu urusan abang di kantor”. 


Kadangkala juga menimpali. “Itu urusan diluar rumah”. 


Teringat ketika awal-awal menjelang kejatuhan Soeharto. Ketika intelijen pernah datang kerumah. 


Dengan keras istriku menghardik. “Cari abang diluar. Tidak ada urusan diluar rumah didalam rumah ini”. Sejak itu intelijen tidak pernah lagi datang kerumah. 


Sehingga praktis “urusan diluar rumah” tidak menjadi perhatian istriku. 


Makanya kami sering bergurau. “Ngapaian istri ikut urusan laki-laki. Apalagi urusan kerjaan. Kayak kurang kerjaan be”. 


Kadang juga sering mengomel. “Pekerjaan dirumah sudah bikin pusing. Masa ikutan urusan laki dikantor”, ketus istriku. Entah siapa yang disasar. Namun aku mengomel dalam hati. “Sialan”. 


Akupun tertawa. 


Teringat beberapa kisah teman-teman yang dekat dengan kekuasaan. Bagaimana istri “cawe-cawe” ikut urusan kantor. 


Entah “mengatur ruangan kantor”. Atau kadangkala seharian di kantor menunggu suaminya pulang. 


Kadang aku pengen jahil. Dengan enteng aku cuma bilang. “Nah, khan istri sayang sama suami. Jadi tidak boleh kayak gitu”. 


Belum selesai berujar, langsung disambar. “Ah. Dasar perempuan kurang kerjaan be”. 


Akupun tersenyum. Mengingat berbagai kisah temanku. 


Pencarian terkait : Musri nauli, opini musri nauli, jambi dalam hukum, hukum adat jambi, jambi, 


Opini Musri Nauli dapat dilihat : www.musri-nauli.blogspot.com