Ketika Dokter jaga Rumah Sakit Umum menyatakan “meninggal dunia”, seketika kaki tidak terinjak bumi, badan linglung, lemah dan mata tidak percaya
Orang yang Sudah menemaniku 34 tahun pergi. Tanpa memberikan tanda. Tidak memberikan kabar. Sama sekali tidak pernah memberikan isyarat.
Belum banyak upaya yang harus kulakukan. Menyelamatkan hidupnya yang sama sekali belum kulakukan.
Akupun tersandar jatuh. Dari tempat tidur di Rumah Sakit. Ingin berteriak dan menangis. Sembari bertanya “Apa salahku ? Mengapa Engkau pergi meninggalkan kami ?”.
Namun aku tersentak. Ketika 4 anakku kemudian meraung-raung di kamar Rumah Sakit. Berteriak histeris dan tidak menerima kenyataan.
Seketika akupun Sadar. Aku tidak boleh menampakkan kesedihan didepan anak-anak. Aku harus kuat.
Satu persatu aku peluk. Aku bujuk. Aku ajak mereka berdoa untuk melapangkan jalan ibu mereka.
Air mata yang hendak tertumpahkan harus kutahan. Ada pekerjaan yang harus kulakukan. Aku harus menjaga anak-anakku.
Seketika itu aku minta adikku untuk membawa anak-anakku pulang. Sembari mengurusi urusan yang “disegerakan” menurut ajaran agamaku.
Akupun terfakur. Berdua di kamar sembari menunggu proses administrasi dan segera akan dipulangkan.
Tiada henti-hentinya aku bertanya. Mengapa engkau pergi meninggalkan kami. Ditengah-tengah kebahagiaan yang hendak rencana mudik tahun ini. Merencanakan rute, lama dan segala persiapan untuk mudik. Ritual tahunan yang praktis kami lakukan.
Sembari menemani istri pulang dari rumah sakit akupun teringat kisah cinta kami. Kisah cinta yang tidak mudah dilewati hanya sekedar waktu.
Kisah Cintaku
Banyak novel yang kubaca. Banyak film drama yang kutonton. Namun kisah cinta kami bukanlah seperti “jalan tol”. Lebih banyak lika-liku perjalanan panjang.
Teringat kisah ketika mengikuti Lomba Lintas Alam. Di Palembang tahun 1992. Waktu itu Sudah kumpul di Sekre Wanala Elang Gunung. Menentukan peserta yang hendak ikut lomba.
Aku ingat persis. Hanya ada 4 orang yang Sudah menyatakan kesediaannya. Namun untuk melengkapi satu group harus 5 orang.
Kulihat ada “gadis tomboy”, Cantik, Kacamata” “merasa kecantikan” menjadi favorit teman-teman. Semua membujuk agar ikut. Waktu itu sama sekali tidak akan pernah menjadi Pacarku apalagi istriku.
Semuanya membujuk. Dan dia “merasa dibutuhkan” “banyak tingkah”.
Aku yang memang kurang suka “cewek betingkah” dan aku kemudian sering spontan. Pertengkaran kemudian terjadi. Entah apa kata-katanya. Namun yang pasti kami “seperti Tom and Jerry”. Lebih banyak “main kata-kata”.
Selama mengikuti Lomba Lintas Alam kami tidak sebelahan jalan. Lebih banyak “suasana kurang nyaman” kalaulah tidak disebutkan sebagai “perang Tom and Jerry”.
Usai Kisah perjalanan Lomba Lintas Alam, Aku juga sering mendengar kisahnya. Dia punya pacar di Padang. Sudah mapan. Tinggal hanya menyelesaikan kuliah dan tidak perlu lagi harus “Cawe-cawe”.
Bandingkan dengan aku. Cowok kerempeng. Khas Lupus. Baju planel, celana jeans, robek dan 2-3 hari dipakai. Sepatu dilipat. Sering demo dan bikin onar di kampus.
Jangan tanya rambut. Panjang tidak terurus.
Mandi ? Jangan tanya. Paling-paling pagi hanya gosok gigi.
Kalaulah diibaratkan “bak Langit dan Bumi”. Sehingga tidak salah kemudian setiap perkataannya “siapa yang mau dengan kau ?”. Akupun juga menjawab “Akupun juga dak mau dengan kau ?”. Demikianlah pertengkaran yang hingga kini banyak orang yang tidak percaya.
Kisah pagi hari
Entah mengapa penasaran akupun juga menempuh tantangan. Siapa sih cewek ini ?’. Ilmu telisik digunakan. Kost putri di Kambang kemudian kusamparin.
Bayangkan. Pagi-pagi. Jam 07.00. Celana pendek. Kusamperin.
Keluarlah teman-teman putri. Sembari heran. Dia memanggil “wita. Ada yang cari “ sembari kepo. Siapa sih yang datang. Bukankah yang datang biasanya pakai mobil. Perlente, berkelas.
Diapun kaget. Dan benar-benar marah. Tapi ditahan. Sembari menahan malu melihat teman-temannya cekikikan.
Entah apa rencananya, yang pasti aku agar cepat keluar dari kost.
“Jam 8 kesini. Mandi dulu. Nanti temani ke Bank BNI”. Hanya itu kalimatnya. Akupun pulang. Mandi dan kemudian menjemputnya.
Selesai urusan, hanya kalimat pendek. “Nanti jemput jam 11. Kita ke mendalo”. Katanya pendek. Sama sekali tidak menyuruh masuk ke kost ataupun duduk sebentar. Atau tawar minum kopi.
Tidak. Sama sekali tidak ada lakon drama yang romantis.
Entah berapa kali Aku jemput ke kost menuju Mendalo. Namun yang kuingat cuma satu.
Aku “nembak diatas motor”. Kalimat cuma pendek. “Mau dak pacar aku ?”. “Iya”. Dan itu tidak perlu lagi alasan apapun. Dan aku tidak perlu alasan apapun. Hingga kini jawaban tidak perlu kutemukan jawaban langsung. Hingga kini.
Kisah perjalananku kemudian semakin “jauh dari kampus”. Aku mulai menggeluti “dunia aktivis”. Menjadi demonstran jalanan. Membuat aku kemudian terbang kesana kemari.
Menggalang Buruh, petani dan mahasiswa untuk menolak Orde baru. Berbagai pertemuan dibubarkan, diangkut ke kantor polisi, rumah disantroni tentara dan polisi silih berganti.
Namun ada kalimat penegas “Kalau mau cari laki aku diluar. Dirumah ini tidak ada urusan laki aku”. Standing yang membuat aku “memilih urusan diluar dan dirumah”. Termasuk memisahkan urusan kantor dan urusan dirumah. Dan memilih menghindarkan “membawa pekerjaan kerumah”. Dan memilih hanya menjadi manusia biasa dirumah.
Berbagai pilihan politik yang “berbahaya” dan sering berhadapan dengan negara tidak membuat dia menjadi goyah. Kalimat yang selalu kuingat “Kalau bisa bantu orang banyak, bantulah. Kami ikut dengan putusanmu”.
Tidak lama kemudian dia diterima honor menjadi Guru. Diluar kota. Sehingga aktivitas kami menjadi sibuk. Dan praktis itu membuat kami harus tegar melewati hidup keluar Kecil.
Menjadi honor guru hanya dibayar Rp 300 ribu. Dan itupun dibayar 3 bulan sekali.
Sempat ragu untuk meneruskan. Sembari mengurusi 2 Anak Kecil sempat terbesit untuk berhenti.
“Jangan. Mama bekerja karena orang tua sudah susah payah kuliahkan. Sayang ijazah tidak terpakai”. Biarlah kita repot.
“Lagipula khan mama bukan tanggungjawab untuk dirumah. Ya. Kalaupun honor sering telat, khan masih ayah juga yang tanggung”.
Almarhum ayahku juga mengingatkan. “Anak tidak selama Kecil. Nanti akan besar sendiri. Repot hanya sebentar”. Kebetulan ayah dan ibuku Sudah pensiun. Sudah asyik menikmati cucu pertama dan kedua. Dan memang itu cucu kesayangannya.
Sejak itulah kulihat totalitasnya bekerja. Mengajar diluar kota. Hampir setiap hari. Dan itu tidak terhenti. Termasuk tidak memilih pindah kekota ataupun menjadi Kepala Sekolah. Dia hanya mau mengajar. Di sekolah yang jauh dari kota.
Pengabdian Total
Ketika seorang temannya yang Sudah menjadi pejabat di Provinsi Jambi dia berkata “Awak dak nyangka. Ita bisa jadi guru. Padahal dia tomboy”. Temannya yang sama-sama dari SD di Padang.
Ya. Dia sudah mengajar sejak 1997. Dan sejak 2005 di sekolah yang sama. Dan tidak pernah ataupun mau pindah.
Pernah aku membisikkan. “Mama mau pindah, dak ?”. Kasihan keluar kota terus.
“Dak, ah. Biarlah”. Akupun tidak pernah tanya alasan lagi. Sembari menghormati pilihannya.
Totalitasnya baik menjadi guru ataupun Wali kelas memang tidak diragukan. Ketika murid-muridnya mengikuti Pramuka ataupun ikut lomba, apakah ada atau tidak dukungan dari sekolah, dia mempersiapkan dengan baik.
Termasuk kami satu keluarga bisa “rempong”. Dia tidak mengeluh. Bahkan menikmati menjadi guru.
Kisah-kisah tentang bagaimana “dia nombokin” SPP murid yang nyaris tidak bisa ikut ujian ataupun sering membelikan buku-buku muridnya itu Sudah menjadi makanan sehari-hari. Entah dibelikan disela-sela kami berbelanja ataupun memang sengaja khusus membelikan.
Kisah ini yang kemudian membuat aku yakin. Pilihannya menjadi guru memang “hoby’. Kalaulah tidak panggilan jiwa.
Hangat dan Terbuka.
Kisah ramah, hangat dan ramah mungkin itu kisah tersendiri. Entah mengapa dia memang hobby masak. Apalagi hari minggu.
Jumlah masakkan tidak tanggung-tanggung. Bisa masak untuk sekampung. Dan praktis makanan itu sering dibagi-bagikan. Tradisi yang kemudian tetangga kami juga sering melakukannya.
Kisah masakannya juga sering membuat Aku repot. Entah mengapa ketika acara-acara di Walhi (waktu Aku Direktur Walhi), para staff (Tanpa sepengetahuanku) kerumah. Meminta istriku katering. Aku sama sekali tidak tahu.
Yang kutahu, istriku menelpon. Duit belanja kurang. Ya, ampun, kok Aku malah nombokinnya.
Disela-sela rapat pernah kutanyakan. Mengapa harus katering dengan ayuk.
“Sudahlah, bang. Itu urusan kami”. Ternyata selain memang masakan enak juga bisa banyak. Yang tidak mungkin dibiayai dengan budget normal.
Ah. Akupun tidak berkutik. Dikepung sana-sini.
Namun menjadi rempong justru kalau ada “sendok” yang hilang. Wah, bisa-bisa satu kantor repot harus mencari jenis dan merk yang sama. Padahal setiap seri dan edisi khan dicetak waktu tertentu. Jadi benar-benar repot.
Sehingga tidak salah kemudian teman-teman begitu dekat dengan istriku. Bahkan “gosip-gosip” mereka akupun sering kaget. Gosip yang Aku baru tau.
Namun terhadap fasilitas kantor, jangan coba-coba manuver.
Pernah suatu kali pulang dari lapangan. Tentu saja mobil Hiline Walhi masih dirumah. Aku masih tidur.
Tidak lama kemudian ditelp. Agar mobil Walhi diantar. Sembari kalimat “jangan bawa mobil Walhi kerumah. Antar”. Padahal hari ini rencana mau istirahat dulu.
Entah mungkin melihat aku belum juga bergerak. Ditelp adikku “bawa mobil hiline Walhi”. Akupun menghela nafas.
Perhatian “orang Kecil
Jangan coba-coba ada Klien datang kerumah. Aku pasti ditelp.
“Ini ada yang datang. Jangan hanya urus kasus orang besar. Orang Kecil juga diurus”. Akupun tersiap. Dan itu yang membuat aku sering kagok.
Entah berapa banyak orang dibawa kerumah. Sesudahnya langsung ditegaskan. “Untuk kasus ini, abang dak minta bayar”. Aku hanya diam.
Ataupun pernah kisah kami mau makan malam akhir pekan. Lagi OTW, aku di telp Penyidik. Ada pendampingan prodeo.
Langsung dia minta putar Kepala. Antar pulang. Dan sama sekali tidak kecewa ketika janji kemudian dibatalkan
Sang Bidadari
Bagiku, istriku adalah bidadari. Wajah cantik, bibir kecil, pipi lesung sedikit, kulit putih, rambut pirang dan badan tinggi semampai. Wajah dan postur ideal favorit untuk laki-laki.
Sebagai “idola” memang “lagaknya” minta ampun. Bak putri dikelilingi cowok yang berebut antar ke kost, memang “kembang kampus” yang menjadi rebutan. Sehingga tidak salah kemudian ketika dia menambatkan hatinya kepada diriku, aku kejatuhan “bidadari”.
Tidak salah kemudian ketika aku pernah menggendong putra bungsuku (waktu itu berumur dua tahun). Hampir seluruh penjaga toko sampai harus menggelengkan kepalanya. Tidak percaya.
Sempat juga terdengar “aku membawa Anak majikan”. Busyet. Emangnya aku supir.
Namun yang masih kukagumi ketika dia memilih diriku. Meninggalkan kemapanan yang sudah didepan mata. Keputusan “nekat’ yang hanya sekilas kudengar jawaban dari putraku.
“Mama memilih ayah karena ayah nekat. Kata mama “orang nekat” itu punya ambisi kuat. Dan itu bertanggungjawab”. Jawaban yang tidak pernah kudengar dari bibirnya langsung.
Disela-sela aku kongkow2 dengan 2 orang putra yang sudah memasuki remaja. Kadangkala ada pertanyaan iseng.
“Ayah bagaimana mendapatkan mama ?”. Terpikir. Bagaimana ceritanya ada cowok mendapatkan cewek Cantik. Ha.. ha.. ha..
“Laki-laki tuh pantang menyerah. Buktikan sayang kita dengan gigih untuk mendapatkan. Selama belum ada rencana cewek mau nikah, kejar terus. Buktikan keseriusan. Jangan mundur. Jangan kalah”.
“Kalau cewek tidak mau, yah”. “Kalau cewek ada cowoknya ?”.
Ya. Jangan menyerah. Buktikan. Jangan ragu. Kalau dia lihat semangat kita, tentu saja dia akan memilih”. Sang putrakupun terdiam. Mungkin sedang benar-benar Belajar. Bagaimana sih untuk mendapatkan cewek Cantik.
Cinta Kami dibawa sampai mati
Ketika “gong” dibunyikan”, “godam” ditabuhkan, tongkatkupun patah. “Tongkat” yang 34 tahun menopangku.
Sebagai “tongkat’, hampir pasti seluruh kebutuhkan disiapkan istriku. Seluruhnya.
Aku cuma tau harga buku dan tas. Sedangkan seluruhnya diurus oleh istriku.
Entah bagaimana kisah mulai istriku mulai mengurusi tetek bengek. Namun seingatku, mungkin karena aku tidak mau Ribet.
Lalu bagaimana “tongkat itu kemudian patah”. Apakah aku harus memulai dari nol. Harus tau berapa harga baju untuk sidang. Harus tau harga kaos yang pantas untuk menghadiri acara. Atau membeli baju batik untuk acara tertentu.
Ah. Membayangkan aku benar-benar “start dari nol”.
Seorang teman berbisik.
“Abang lebih tua dari aku dalam segala hal.
Tapi mohon diingat pesanku.
Tidak banyak lelaki yang mampu menghimpun anak2 ditinggal istri.
Tetapi aku yakin Ayuk memilih abang dulu karena tau abang akan bisa memandu anak2 mendapatkan tanggungjawabnya”.
Seketika meledak tangis dalam diam. menangis tertahan.
Mungkin itulah misteri yang selama ini masih kucarikan jawaban.
Dan bidadariku membawa cintaku sampai mati.
Terima kasih, cintaku. Terima kasih bidadariku. Engkau membawa cinta kita sampai mati.
Berikan kesempatan kepadaku. Untuk menjaga permata hatiku. Menjaga mereka sekuat cinta kita sampai mati.
Terima kasih, Tuhan. Telah memberikan bidadari terbaik untukku. Berikan kekuatan untuk aku menjaga permata hatiku.
Terima kasih kawan2 semuanya. Aku butuh dukungan kawan-kawan semuanya. Semoga aku bisa dan tegar melewatinya.


