27 Juni 2022

opini musri nauli : Kayu di Rimbo

 


“Capek-capek ambek kayu di rimbo. Dekat sini banyak jugo”. Demikian kata-kata yang terdengar dari sang penutur ketika menghadiri acara lamaran di sebuah acara. 


Kata-kata spontan yang terdengar sekaligus menunjukkan derajat penggunaan kata menggambarkan peristiwa yang terjadi. 


Secara sekilas, kata-kata itu menunjukkan makna harfiah proses pengambilan kayu. Dengan menggunakan kata “capek-capek”, para penutur sedang menunjukkan upaya yang berat untuk mendapatkan Kayu di Tengah rimbo (hutan lebat).  

Kata capek adalah istilah untuk menggambarkan kata lelah. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, lelah diartikan sebagai penat, letih, payak dan tidak bertenaga. 


Secara harfiah “capek-capek” adalah upaya yang luar biasa dari sang penutur menggambarkan peristiwa mengambil kayu. Ditengah rimbo. 


Lalu apabila kita hubungkan dengan kata-kata selanjutnya “dekat sini banyak jugo”, apakah upaya yang dilakukan sang penutur menjadi sia-sia. 


Lalu mengapa pula “harus mengambil kayu di rimbo”, padahal “dekat sini” ternyata banyak juga ? 


Kalau kita jeli mendengar kata “Capek-capek ambek kayo di rimbo. Dekat sini banyak jugo” bukan peristiwa sang penutur hendak mengambil Kayu di rimbo. 


Tapi makna kata yang digunakan sang penutur adalah kiasan. Dapat juga diartikan sebagai perumpamaan, ibarat, lambang, simbol, sindirian atau bisa juga cerita dari sebuah peristiwa ?


Penggunaan perumpamaan, ibarat, lambang, simbol, sindirian adalah cara ungkapan dari sang penutur menggambarkan peristiwa. 


Lalu peristiwa apa yang sesungguhnya terjadi ? 


Ternyata sang penutur hanya menggambarkan dengan kiasan, menggunakan simbol bahkan malah dapat dikatakan sebagai sindiran dari peristiwa yang terjadi ? 


Konon, ketika sang penutur bersama-sama dengan tetangganya hendak mengantarkan lamaran dari Keluarga besar Lelaki ke rumah sang Perempuan. 


Perjalanan cukup jauh. Memakan waktu seharian. 


Perjalanan yang cukup jauh kemudian membuat sang penutur cukup melelahkan. 


Setelah tiba di tempat tujuan, melihat sang Perempuan yang hendak dilamar, sang penutur kemudian menyampaikan kata-kata yang menggambarkan simbol dari kiasan dan pesan yang disampaikan. 


Lalu apa arti simbol dari sang penutur. 


Ternyata sang penutur hanya menyampaikan simbol ataupun pesan. 


Mengapa harus jauh-jauh melamar sang Perempuan yang ternyata di kampungnya sendiri cukup banyak Perempuan yang melebihi kecantikan dari sang Perempuan yang hendak dilamar ? 


Tentu saja kita boleh saja tidak setuju dengan kiasan atau simbol yang disampaikan dari sang penutur. 


Namun penggunaan simbol dan kiasan yang digunakan adalah cara sang penutur menyampaikannya  kata-kata yang menggambarkan Suasana hati sang penutur. 


Yang menarik adalah penggunaan simbol atau kiasan merupakan bagian dari bahasa Melayu Jambi untuk menutupi rasa gundahnya. 


Sekaligus pesan tersirat yang hanya ditangkap segelintir orang yang memahaminya. 




Advokat. Tinggal di Jambi