10 Juni 2022

opini musri nauli : Orang Gedang

 


Akhir-akhir ini, kata “orang Gedang” ternyata menarik perhatian orang banyak. 


Secara harfiah, kata “Gedang” dapat diartikan dengan “besar”. 

Mirip dengan dialek “Godang” untuk penyebutan di Batak. Atau “Gadang” yang sering disebutkan didalam dialek di Minangkabau. 


Mengartikan “orang Gedang” bukan berarti orang yang tubuhnya “besar”. Mempunyai otot kekar yang sehat, menonjolkan kejantanan semata. 


Bak binaragawan. 


Dalam tradisi tutur di Melayu Jambi, setiap kata tidak dapat dibenarkan ditafsirkan secara harfiah. Ada makna yang terungkap dibalik kata harfiah. 


Atau dengan kata lain, banyak makna dari setiap kata-kata yang cuma ditafsirkan harfiah semata. 


Namun “orang Gedang” diartikan “orang besar” yang dilihat pengaruhnya. Baik pemikiran, pengaruh sosialnya ditengah masyarakat maupun pengaruhnya yang dapat menggerakkan orang lain untuk bergerak. 


Tidak setiap orang yang mempunyai kedudukan sosial ataupun memegang jabatan sosial yang tinggi dapat dikatakan sebagai “orang Gedang”. 


Mungkin ketika dia memegang jabatannya, bisalah dikatakan “orang Gedang”. 


Namun apabila ternyata jabatannya tidak dipegang lagi, maka dapat dilihat apakah dia Masih mempunyai pengaruh atau tidak ? 


Baik pengaruh ditengah masyarakat maupun pengaruh yang dapat mencerahkan pemikiran. 


Kadangkala memerlukan waktu. Apakah pengaruhnya baik pemikiran maupun pengaruhnya masih diterima ditengah masyarakat. 


Apabila waktu yang panjang, pengaruhnya dapat memberikan “pencerahan” ataupun masih dapat mempengaruhi orang untuk bergerak dalam tataran nilai, maka orang itu dapatlah dikatakan sebagai “orang Gedang”. 


Ungkapan jujur dari masyarakat didalam lapisan struktur sosial yang kemudian menempatkan dia sebagai “orang Gedang” adalah bagian dari bentuk penghormatan terhadap perannya ditengah masyarakat. 


Bentuk penghormatan dari masyarakat adalah bagian dari cara pandang alam kosmpolitan didalam relasi sehari-hari ditengah masyarakat. 




Advokat. Tinggal di Jambi