02 Desember 2022

opini musri nauli : Menulis


Bung Nauli, bisa ya, kasih materi tentang menulis untuk mahasiswa Fakultas Hukum Unja ?, ujar suara di ujung Telephone. 


“Bisa, bu !!!, kata saya tegas. 


Tidak ada kepikiran sama sekali, mengapa saya diminta untuk mengisi materi tentang menulis untuk mahasiswa Fakultas Hukum. 

Namun memang bagiku agak aneh akhir-akhir ini. Tema menulis seringkali diminta menjadi pemateri. 


Padahal biasanya cuma diminta menjadi pemateri tentang hukum dalam PKPA (pendidikan untuk calon advokat), materi di HMI ataupun paling-paling didalam acara lainnya yang tidak jauh berkisar dari tema-tema lingkungan. 


Teringat beberapa waktu yang lalu, pernah juga mengisi materi didalam acara Bulan Bahasa yang biasanya diadakan setiap akhir Oktober. Disandingkan dengan para Penulis lain didalam acara besar. Langsung ke sasaran. Di Mall di Jambi. 


Tentu saja saya sampai sekarang tidak mengikrarkan menjadi penulis. Profesi saya Masih tetap seperti dulu. 


Menjadi seorang Advokat. Yang tenggelam dalam “pertarungan ilmu hukum” yang ribet, harus membaca dokumen yang tebalnya “Nauzubillah”. 


Selain itu juga, menulis bukanlah sebuah ilmu yang berat, rumit dan harus ditekuni bertahun-tahun. Tapi sebuah keterampilan yang harus selalu diasah terus menerus. 


Memang harus diakui, pelajaran menulis adalah salah satu pelajaran yang diajarkan sejak kelas 1 SD hingga tamat perguruan tinggi. Hingga harus meraih pendidikan paska sarjana. Baik untuk menulis tesis ataupun harus menulis disertasi. 


Bahkan seorang Profesorpun harus menuliskan pikiran-pikirannya. Ketika harus menyampaikan Orasi Ilmiah didalam pengukuhan Guru besar dalam sidang senat Terbuka. 


Namun disisi lain, karena pelajaran menulis telah diajarkan sejak Kecil hingga tamat perguruan tinggi, membuat orang menjadi kurang tekun untuk menjalaninya. 


Jadi menulis bukanlah ilmu yang khusus. Tapi adalah keterampilan. 


Sebagai keterampilan, suka atau tidak suka, maka harus senantiasa harus diasah. Tidak boleh terlewatkan waktu sama sekali. 


Bak “kendaraan”, otak yang sering diasah maka daya “kritis” akan senantiasa tumbuh. Bahkan menjadi “pisau yang tajam” apabila sering “diasah”. 


Disisi lain, hingga kini, saya hanya merasakan. Dengan menulis, daya pikir terus diasah. Kitapun
“dipaksa” terus Belajar, membaca sembari memberikan catatan kecil untuk menajamkan “pertanyaan demi pertanyaan” yang terus menghinggapi “rasa penasaran”. 


Namun disisi lain, dengan menulis maka kita menatap Hidup ini lebih optimis. Daya kreasi terus diasah. Sembari menjalani Hidup dengan tenang. 


Semangat Guru saya yang memberikan kesempatan kepada saya untuk memotivasi mahasiswa agar menulis semata-mata agar mahasiswa dapat menuliskan pokok-pokok pikirannya dengan baik. 


Dan  meninggalkan kampus dengan membuat skripsi sebagai “ujian terakhir” dapat memberikan bekal kepada sang mahasiswa. Agar dapat menjadi Intelektual yang kritis terhadap ketidakadilan. 


Sembari berbisik beliau kemudian berujar. 


“Rasanya saya berdosa melepaskan mahasiswa apabila tidak mempunyai kemampuan apa-apa ditengah masyarakat”. 


Ucapan itulah yang kemudian membuat saya paham. 


Begitu gelisahnya beliau terhadap mahasiswa agar dapat menulis dengan baik. 


Dan beliau berharap kepada mahasiswa agar dapat mengikuti materi menulis dengan baik. Ditengah “week end” yang lebih tepat untuk keluarga namun beliau masih bersedia untuk “menyisihkan waktunya”. 


Memecut motivasi mahasiswa agar dapat mengikuti materi dengan baik. 


Salut saya kepada beliau. 


Seorang guru teladan yang tetap gelisah terhadap mahasiswa-mahasiswanya.