20 November 2013

KERETA APIKU


Pagi hari yang indah di Jakarta.  Merasakan suasana menikmati perjalanan ke Bogor naik kereta. Pilihan menaiki angkutan massal (public transportasi) selain “murah”, merasakan ketepatan waktu juga ingin menikmati “promosi” dari Kereta api yang hendak berbenah.

Aku mulai menuju kearah stasiun Kalibata setelah diantar oleh DD Shineba (wuih. Keren banget diantar oleh Anggota Dewan Nasional Walhi).  Dengan tiket seharga Rp 3.000,- dengan jaminan kartu kereta api seharga Rp 5.000,- mulai merasakan perubahan dari suasana kereta api. Tidak ada lagi kios yang berjejer menjajakan jualan mulai dari pulsa HP, makanan dan minuman ringan, kios Koran dan berbagai pernik-pernik kebutuhan sehari-hari. Tidak ada lagi teriakan “aqua, aqua”, “Koran.. Koran”, “kue.. kue” dan berbagai teriakan di suasana stasiun kereta api. Suasana “seakan-akan berkelas”. Semuanya tertib.

Teriakan para penjual barang kemudian tidak terdengar selama perjalanan di kereta api.

Setelah 15 menunggu terdengar pengumuman kereta api menuju ke bogor datang. Semuanya tertib dan tidak berdesak-desakan memasuki kereta api.

Kereta apipun berjalan. Semua penumpang kuperhatikan dengan baik-baik. Ada seorang anak muda yang dengan santai duduk bersila di lantai. Dengan tenang dia mendengarkan music melalui earphone. Di tasnya tertulis “Pusdiklat Jur Bareskrim Mabes Polri. Mega Mendung”. Tak jauh berdiri seorang bapak yang berpakaian seragam TNI. Aku tidak memperhatikan dengan baik dari kesatuannya. Ada seorang mahasiswi yang berdiri. Dugaanku pasti mahasiswi Universitas Pancasila atau UI. Di sebelahnya berdiri seorang bapak-bapak yang kelihatannya sudah pensiun. Sudah tua. Tapi kulit dan mukanya kelihatan bersih dan dugaanku pasti tetap terawatt. “Baru mengambil gaji pensiun” ketika kami bercerita.

Setelah berhenti di stasiun UI, mahasiswi kemudian turun dan tak lama kemudian naik seorang perempuan dari Austria dan ditemani seorang pemuda. Mereka berbicara menggunakan bahasa Inggeris. Suara mereka cukup keras, sehingga ketika mereka berbicara hampir semua penumpang dari satu peron melihatnya. Dari nada pembicaraan, mereka tinggal di bogor. Pembicaraan mereka berkisar sekitar Antropolologi.

Pembicaraan kulanjutkan. Sang Bapak terus bercerita tentang nasionalisme, Pancasila, kebangsaan dan berbagai identitas bangsa.

Dengan bangga sang bapak bercerita. Bagaimana kelemahan kita ketika disadap oleh Australia. Aku bergumam. Bagaimana mungkin kita akan melawan, berbagai masalah kebangsaan sedangkan masalah penyadapan saja kita tidak berdaya.

Aku kemudian mengajukan pertanyaan. Mengapa Indonesia sangat lemah dalam penyadapan dan diplomasi internasional. Mengapa Indonesia sebodoh itu. Dengan iseng, penulis mengatakan “Apa yang harus kita lakukan ?

Dengan panjang lebar sang bapak bergumam. Bagaimana Presiden bisi mengurusi Indonesia, mengurusi Partai  saja tidak becus.

Waduh. Ternyata sang bapak bisa menceritakan dengan baik. Mengapa menghubungkan antara SBY sebagai Presiden dengan Partai yang sedang ditimpa masalah.

Tak lama kemudian masuk seorang ibu yang memapah seorang laki-laki tua. Penumpang kemudian menawarkan tempat duduk kepada sang Ibu dan Sang Bapak tua. Dari gayanya, kelihatan  mereka sepasang suami istri. Penampilan mereka sedikit berbeda dengan penumpang lain. Dari tampilan pakaian mereka cukup terpandang dan pandai mengikuti mode pakaian.

Walaupun tidak dinampakkan secara vulgar, kelihatan mereka cukup romantis. Seusia mereka masih tetap bersama merupakan peristiwa yang jarang penulis saksikan.

Penulis kemudian menggeser tema pembicaraan. Apakah kelemahan itu juga didasarkan posisi Indonesia dalam kancah internasional sehingga Indonesia tidak lagi diperhitungkan ?

Sang Bapak kemudian bercerita bagaimana Soekarno pernah menangkap mata-mata Amerika selama 4 tahun bahkan berhasil mendapatkan persenjataan canggih untuk melawan Belanda dalam merebut Papua.

Wah.. Wah.. Ternyata pengetahuan sang Bapak cukup baik. Penulis kemudian teringat  sang Pilot “allen Poppen” yang menjadi mata-mata dari Amerika dan mendukung pemberontakan melawan Soekarno. Soekarno tidak membebaskan hingga Amerika mengakui keunggulan diplomatic Soekarno dan kemudian menyuplai persenjataan tercanggih kepada Soekarno yang menggunakan sebagai “gertakan” kepada Belanda hingga Belanda hengkang dari Papua.

Pembicaraan berlanjut dengan berbagai tema terhadap seperti korupsi. Sang Bapak malah dengan ketus berujar. Apa lagi yang mereka cari. Semua sudah disiapkan oleh Negara. Tapi mengapa mereka masih mau melakukan ?

Ah. Pertanyaan itu tidak perlu jawaban. Karena tidak ada lagi relevansi antara fasilitas yang mereka dapatkan dengna keinginan mereka korupsi.

Namun suasana sedikit heboh ketika seorang ibu tua yang kehilangan tutup botol minyak angin. Bentuk tutup botol minyak angin yang kecil memaksa kami cukup sibuk mencari tutup botol minyak angin. Penumpang di sebelahnya malah berdiri dan melihat tempat duduknya.

Sedangkan penumpang yang lain melihat di bawah kursi. Ha.. ha.. Suasana seru.


Di Stasiun Depok, Sang Bapak turun. Dia dengan tegap turun dan kamipun berjabat tangan.

Perjalanan selama satu jam memberikan kesan kepada penulis. Angkutan massal ternyata digunakan oleh berbagai kalangan. Ketetapan waktu dan kepastian perjalanan merupakan salah satu pilihan menggunakan angkutan massal. Belum lagi perbaikan pelayanan dengan disedikan fasilitas AC sehingga gerbong sedikit sejuk, jaminan keamanan di perjalanan, murahnya tiket merupakan fasilitas yang pantas dinikmati berbagai kalangan.

Alangkah baiknya apabila pelayanan itu terus dijaga dan ditingkatkan. Ah. Sudah pasti, jarak tempuh Jakarta- Bogor yang ditempuh dengan mobil sering mengalami kemacetan akan “memaksa” penumpang beralih kepada angkutan massal.