01 Juni 2014

opini musri nauli : Branding Pilpres 2014


Dalam dunia yang begitu cepat, informasi begitu penting, maka trend dunia sudah berubah.

Dulu orang hanya mengenal produk. Kemudian bergeser mengenal mutu. Namun itupun tidak cukup. Kemudian beralih kemasan. Dan sekarang menjadi branding.


Begitulah dunia yang terus berubah.
Dengan mudah kita mengingat branding “apapun makanannya, minumnya tetap sosro”.

Atau mengingat pesan “sebelum makan harus cuci tangan”. Padahal branding yang dibangun adalah produk sabun.

Hiruk pikuk dunia politikpun tidak mau ketinggalan. Kemenangan Barrack Obama tahun 2008 berhasil sebagai “tokoh muda” dengan branding “Yes, we change”.

Dukungan mengalir. Obama kemudian berhasil memasuki branding “Yes. We Change”. Sebuah branding lintas partai, agama yang “memaksa” rakyat Amerika mengalihkan pandangan kepada senator muda bagian negara Illinois.

Padahal “serangan” kepada Obama “dibongkar habis. Ditelisik agama dan berbagai “issu tidak sedap”. Dianggap melawan “dominasi kulit putih”.

Namun branding “Yes, we change” terus mendapatkan dukungan. Bahkan dalam suasana Pilpres AS tahun 2008, berbagai teman saya di AS mengabarkan “bagaimana dukungan dari rakyat AS” menyisihkan 1 US$/bulan/orang. Obama kemudian berhasil menghimpun dukungan hingga 20 juta US$/perbulan.

Dengan dana sebesar itu, maka Obama salah satu Presiden yang keliling Amerika dengna menggunakan pesawat “carteran”. Sebuah upaya yang tidak bisa ditandingi oleh John Mc Cain.

Dengan branding “Golkar Baru”, Partai Golkar berhasil melewati masa krisis 1998, bertahan di pemilu 1999 dan berhasil menjadi pemenang pertama tahun 2004.

Dengan branding “terpercaya”, KPK terus mengasak koruptor yang membuat degup jantung penduduk Indonesia “berhenti sejenak untuk bernafas”. Satu persatu “diluar perkiraan” mulai dipreteli KPK. Djoko Susilo (Kakorlantas), Luthi Hasan Ishaq (Presiden PKS), Rudi Rudiandini (SKK Migas) dan Akil Mukhtar (Ketua MK).

Dengan branding “terpercaya”, KPK mendapatkan dukungan publik ketika “serangan ke KPK”. Kasus kriminalisasi Bibit – Chandra “mendapatkan dukungan sejuta facebokers” sehingga Presiden mengeluarkan “perintah” untuk menghentikan kasus ini ke pengadilan.

Begitu juga terhadap “penyerbuan” kepolisian untuk menangkap Novel Baswedan. Dukungan dari publik terus mengalir dan membangun “pagar betis” untuk memagari KPK.

Kontras melahirkan branding “melawan lupa” sebagai pengingat terhadap kejahatan HAM.

Partai Nasdem menggunakan istilah “restorasi Indonesia” sebagai branding partai baru dan berhasil meraih suara yang cukup signifikan.

Memasuki pilpres 2014, branding Prabowo dibangun. “Tegas”. Sedangkan Jokowi “Pemimpin rakyat'.

Keduanya kemudian memasuki pilpres 2014.

Dengan dua branding itulah, kemudian publik disodorkan apakah “tegas” dan “pemimpin rakyat”.

Lalu dengan branding yang sudah dibangun, apakah publik tidak diperkenankan untuk menilai ?

Ya. Silahkan menilai sendiri terhadap branding yang sudah dibangun. Silahkan dilihat apakah brandingnya sudah cocok dengan produknya. Sudah cocok dengan mutunya. Sudah cocok dengan kemasan itu.

Kalo tidak berkenan. Silahkan dilihat branding yang lain.

Begitu juga kita. Branding “apapun makanannya, minumnya tetap sosro” tidak mesti kita ikuti. Kita bisa saja pesan minuman kopi (terhadap penggila kopi) atau cukup air putih saja.