31 Mei 2014

opini musri nauli : Adian Napitupulu

 

Setelaha cara “Mata Najwa” dengan menghadirkan Ahmad Yani (PPP) mewakili Prabowo – Hatta dan Adian Napitupulu mewakili Jokowi –Jusuf Kalla, selain sorotan kepada Anies Baswedan dan Mahfud MD, publik juga menyoroti perdebatan antara Ahmad Yani dan Adian Napitupulu (Adian). 


Sorotan semakin tajam setelah Adian “merewitt”di statusnya tentang “pergeseran” perdebatan antara Adian Napitupulu dengan Fadli Zon. Semula diagendakan Adian akan dipasangkan dengan Fadli Zoen. Namun Fadli Zoen tidak bersedia dan hanya bersedia dengan Maruar Sirait. Sehingga Adian kemudian bertemu dengan Ahmad Yani.

Dikancah media sosial, dukungan kepada Adian mengalir. Publik masih ingat dengan gaya “nyeleneh” ketika diminta jawaban dari Najwa Shihab. Apa prestasi Prabowo ? Dijawab “Pengurus kuda yang baik”. Didesak dengan pertanyaan lanjutan. Apa tidak ada kebaikan dari Prabowo ?. Ya. Prabowo memberikan harapan... Harapan kepada perempuan Indonesia untuk menjadi Ibu Negara.


Sungguh. Jawaban cerdas, nyeleneh, menusuk namun tetap elegan. Adian menguasai panggung. Adian menjadi bintang dan “mengatur” Najwa yangkemudian akhirnya jenggah. Najwa membuktikan kepada publik “siapa sebenarnya Adian”. Publik kemudian akhirnya sadar, anak muda dari pinggiran jalan sudah memasuki medium di acara Najwa.

Entah penasaran atau memang publik ingin mengenal Adian, berbagai situs yang menampilkan jawaban Adian kemudian memasuki dunia maya. Berbagai tayangan youtube berseliweran dengan topik Adian. Berbagai situs menampilkan wajah Adian menjawab pertanyaan Najwa.

Saya tidak perlu menceritakan siapa itu Adian. Seorang aktivis Forkot(Front Kota), sebuah organisasi radikal di awal-awal kejatuhan Soeharto. Sudah banyak berita yang memuat diri Adian.

Namun yang sungguh-sungguh saya perhatikan kepada Adian, tipikal “organisator ulung yang mampu menguasai medan pertarungan.

Sebagai demonstran jalanan, ruang panggung semula di lapangan berhasil dikuasai Adian. Forkot kemudian menjadi organisasi yang paling ditakuti rezim orde baru. Tidak kenal kompromi, memimpin di depan ribuan mahasiswa dan bicara tanpa tedeng aling-aling.

Suaranya menggelar. Mengingatkan kepada rezim orde baru terhadap kejahatan militer di orde baru.

Dengan memobilisasi ribuan mahasiswa, nama Adian tidak dapat dipisahkan dari ornamen penumbangan rezim orde baru. Adian berdiri didepan organisasi paling radikal.

Adian berhasil menjadi “singa lapangan”. Yang melahap penghadang barisan demonstransi

Namun sejarah tidak berpihak kepada Adian. Dalam proses konsolidasi menumbangkan orde baru, masuk para penumpang gelap yang memasuki gerbong reformasi. Mereka yang paling teriak reformasi dan menghantam Soeharto. Mereka yang kemudian mengisi awal-awal reformasi

Nama Adian “sempat” menghilang dari peredaran jagat politik. Publik kemudian disuguhkan berbagai dagelan partai yang “merasar eformasi'. Publik dipertontonkan berbagai adegan jungkir balik daripenumpang gelap reformasi. Panggung kemudian diisi anak dalang yang sibuk bicara reformasi namun terus melakukan kekerasan dan korupsi.

Namun Adian tidak “cengeng”. Tidak meratap dan menyesali. Adian sadar “panggung” sedang diisikan oleh pemain akrobat yang menumpang agenda reformasi.

Adian terus menyaksikan satu persatu teman-teman yang kemudian menjadi “aneh”. Menjadi pengurus partai namun disisi lain melakukan cara-cara bertentangan dengan semangat reformasi. Satu persatu menjadi tersangka kasus korupsi. Satu persatu kemudian“berbaris” memasuki barisan yang dahulu ditentangnya.

Adianbertahan “ditengah masyarakat'. Adian terus menerus menjaga“asa” perlawanan. Adian terus mempersiapkan diri menunggumomentum. Adian terus berhitung.

Sebagai 'singa lapangan” dan orator ulung, Adian harus menyiapkan panggung baru. Adian tidak mungkin mengisi panggung yang sudah dipersiapkan orang.

Dan panggung 2014 merupakan isyarat akan kedatangan Adian. Memasuki senayan dari Jawa Barat, Adian menyentak publik. Adian menguasai panggung “podium”. Panggung yang semula dipersiapkan bagi pemain-pemain kawakan.

Adian sudah menghitung dan menguasai strategi menguasai panggung.
Adian masuk dari sudut “suara kaum muda”. Menertawakan persoalan rumit menjadi sederhana. Menertawakan politisi yang “gagap” berhadapan dengan gaya “nyeleneh”.

Sebagai Singa lapangan – panggung yang harus dipersiapkan Adian, Adian memasuki podium -panggung yang sudah dipersiapkan. Adian mudah memasuki panggung dan mudah menguasai podium.

Jawaban Adian “pengurus kuda yang baik” membuktikan Adian tetap konsisten dengan tema anti militer. Adian tidak berkompromi dengan agenda anti militer.
Adian merupakan “teropong” untuk selalu mengingatkan agar militer “pinggir” dari panggung politik. Adian merupakan“cermin” yang selalu mengingatkan kita akan “kebuasan ”militer masa orde baru.

Adian berhasil memainkan dua panggung berbeda. Dari panggung “singa lapangan” menjadi “panggung podium”. Adian berhasil menjaga “asa” perlawanan melawan militer. Sebuah upaya panjang yang berhasil dirawat Adian bertahun-tahun.

Sehingga kita bisa mengerti ketakutan Fadli Zoen berhadapan Adian. Dan itu menjadi hitungan tersendiri bagi siapapun yang bertemu dengan Adian.