09 Maret 2015

opini musri nauli : DIPLOMASI DAN ETIKA



Dalam sebuah proses mediasi yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri “yang”mempertemukan Gubernur DKI (Ahok) dan DPRD DKI berakhir dengan “deadlock”. Entah dengan alasan “gaya” Ahok yang “terus terang” sambil menunjuk dan mengangkat tangan sambil menunjuk jidat atau gaya anggota DPRD yang teriak-teriak, suasana mediasi yang panas kemudian tidak menghasilkan apa-apa.
Saya tertarik menyoroti gaya pertemuan yang berakhir deadlock. Ketertarikan selain melihat gaya memimpin Ahok juga “tidak” diplomasi anggota DPRD “memainkan forum”.

Dengan bekal data yang “mumpuni”, membuka akses publik dengan cara e-budgetting, mengabarkan setiap detail rapat melalui youtube, Ahok memainkan “gelanggang” dengan kepala tegak. Latar belakang Ahok dari dunia bisnis, menguasai detail dan rinci anggaran, membuat Ahok sulit ditandingi anggota DPRD. Ahok memasuki gelanggang dengan gaya “koboy”.

Gaya Ahok menguasai panggung membuat nafas anggota DPRD berdegub kencang. Lihatlah bagaimana dengan gaya “sedikit” menekan dari anggota DPRD mendorong “hak angket” kepada Ahok. Bukannya “melunak”, suara Ahok menggelegar. Dengan petantang petenteng, Ahok “roadshow” ke KPK, Kejaksaan Agung dan Mabes Polri. Dukungan publik kemudian menguat. Ahok kemudian mengeluarkan ancaman balik menggunakan senjata yang telah diledakkan anggota DPRD. Bahkan Ahok menantang anggota DPRD agar sekalian mengeluarkan “hak bertanya (interpelasi). Ahok ingin publik mengetahui bagaimana kejadian sebenarnya.

Melihat dinamika forum mediasi, kelihaian Ahok harus diacungi jempol. Dengan menguasai data-data, strategi forum, menguasai panggung membuat Ahok menjadi bintang. Dengan membawa punggawa yang membuktikan “mereka tidak mengusulkan” anggaran siluman. Anggota DPRD kemudian “tersengat'. Mereka dipermalukan di forum. Mereka “dikerjakan”. Sehingga tidak sadar mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.

Dengan “memancing' anggota DPRD menjadi emosi, Ahok kemudian “tersenyum” dan berhasil masuk perangkap kepada anggota DPRD dan terjebak dengan pola permainan yang dimainkan Ahok.

Padahal anggota DPRD bisa “menahan” diri dan mengetahui gaya ahok memainkan forum.

Dengan termakan umpan yang dikeluarkan Ahok, anggota DPRD kemudian terjebak dan “kesulitan” keluar dari perangkap. Anggota DPRD “merasa” dipermainkan Ahok.

Keterampilan (skill) memainkan forum merupakan keterampilan yang tidak mudah dikuasai. Keterampilan ini dikuasai setelah seseorang banyak berorganisasi, memegang jabatan posisi kunci dan keterampilan yang harus diasah terus menerus.

Organisasi-organisasi kepemudaan, organisasi kampus, kelompok studi merupakan “kawah candradimuka' yang baik. Hampir praktis, seseorang yang pernah memasuki organisasi-organisasi bisa menguasai dengan skill dengan baik.

Sebelum “menguasai” forum, dialektika harus disusun dengan logika (common sense). Logis dan bisa diterima dengan akal sehat harus disampaikan dengan baik. Tanpa itu, maka teriakan “hu.. hu.. huu..” akan mewarnai forum.

Cara penyampaikan harus “to the point”, runut, sistematis dan singkat. Penggunaan istilah asing “diusahakan dihindarkan”. Apabila terpaksa menggunakan istilah asing, carilah padanan atau perumpamaan yang mudah ditangkap forum.

Menggunakan kalimat yang bertujuan “menjelaskan dengan cara bertele-tele”, malah terjebak dengan kebosanan forum. Penyampaian yang dilakukan malah akan blunder.

Ahok berhasil keluar dari forum. Ahok membuat gelanggang yang dibuatnya sendiri. Ahok menguasai gelanggang.

Etika

Dengan gaya Ahok, anggota DPRD kemudian “terjebak”. Salah satu anggota DPRD kemudian mengeluarkan kata-kata yang rasial, tidak pantas dan sungguh-sungguh memalukan. Anggota DPRD kemudian tidak mampu mengimbangi gaya ahok menguasai forum.

Dengan mengeluarkan kata-kata rasial, angggota DPRD terjebak dengan persoalan “etika”. Kata-kata yang dikeluarkan menjadi persoalan. Gaya komunikasi untuk mengimbangi Ahok malah sungguh dipantas dilakukan. Harus ada mekanisme untuk menyelesaikannya.

Menggunakan mekanisme menyelesaikan persoalan etika merupakan ranah yang harus diselesaikan. Tanpa menyelesaikan persoalan etika, anggota DPRD “secara politik” tidak dapat dipertanggungjawabkan. Secara politik sulit diterima publik.