02 Maret 2015

opini musri nauli : In memoriam : INDRA PELANI - In Memoriam


Peristiwa tragis terhadap Indra Kailani, anggota Serikat Tani Tebo (STT) dalam “pembunuhan berencana” oleh Unit Reaksi Cepat security PT. WKS memantik kemarahan mendalam kepada saya. Mengenang gaya anak muda dalam setiap pertemuan kepada korban membuat isak tangis kamipun pecah. Kami terisak-isak mendapatkan kabar terbunuhnya dan proses mencari mayat yang dibuang jauh dari lokasi permulaan keributan.

Ya. Interaksi saya dengan almarhum sejak 2 tahun terakhir ini membuat proses advokasi Lubuk Mandarsyah, Tebo dengan PT. WKS menjadi lebih berarti. Tubuhnya biasa-biasa saja dengan kulit hitam namun bersih. 

Sebagai anak muda, tentu saja gaya rambut tidak pernah ketinggalan mode. Dengan rambut dilecek disisi kiri dan sisi kanan namun tengah rambut ditarik ke atas mengingatkan gaya rambut Becham ketika sedang berjaya-jaya di Manchester United.

Suasana senda gurau baik sebelum pertemuan maupun setelah pertemuan membuat suasana menjadi lebih santai. Padahal dipundak mereka, saya sadar mereka telah berjuang sejak tahun 1996, pecah koflik terbuka dan diikuti dengan pembakaran alat-alat berat PT. WKS dan kembali berjuang 2 tahun terakhir ini.

Sosoknya periang. Dinamis. Suka berkelakar. Ringan tangan. Dalam cerita-cerita di kampung, peran yang sering dilakukan oleh Indra lebih tepat disebut sebagai Kepak rambai Hulubalang. Entah terjemahan apa yang bisa disebutkan. Namun yang pasti. Dialah yang disuruh untuk mengundang dalam acara pertemuan, mendatangi rumah apabila yang ditunggu belum datang. Mengantarkan undangan, memanggil kepada undangan yang tertinggal. Peran ini tidak bisa diremehkan. Apabila waktu yang ditentukan, belum bisa dimulai pertemuan, sementara hari hujan. Maka dibutuhkan “kerelaan” menempuh hujan untuk memanggil yang diperlukan. Indra kemudian bangkit dari duduknya, mengambil kunci motor, jaket dan langsung menunaikan tugasnya dengan baik.

Dengan keriangan, kecerian di tengah konflik membuat “suasana” kekeluargaan lebih kental didalam membangun kebersamaan. Di saat itulah kemudian saya belajar bagaimana “sulitnya” menjaga irama perlawanan di tengah berbagai hambatan terhadap perjuangan mereka.

Pokoknya suasana “ribet” di kepala para pejuang memikirkan tanahnya, di kepala Indra hanyalah gurauan. Entah apa “energi” di kepala. Melihat konflik yang begitu rumit di Lubuk Mandarsyah namun bisa dibawa dengan tertawa sambil “mengejek” lawan bicara. Boleh dikatakan dengan tingkah laku yang dibawakan oleh Indra, membuat kami “sejenak” melupakan persoalan. Sehingga bisa dipastikan, Indra cukup dikenal oleh masyarakat Lubuk mandarsyah.

Dalam ujaran bijaksana. Kita harus belajar kapanpun. Dengan siapapun dan dimanapun.

Namun jangan tanya semangat kepahlawanan. Dengan berapi-api, dia akan bangkit dari duduk lesehan diskusi apabila adanya “issu” penyerbuan terhadap tanah di Bukit Rinting (lokasi yang sedang berhadapan dengan PT WKS), Lubuk Mandarsyah, Tebo. Dia akan teriak-teriak sembari mondar-mandir mengajak perang. Sikap kepahlawanan yang sering diperlihatkan oleh Indra membuat kami tidak berani bermain-main dengan Indra. Indra dikenal sebagai anak muda yang gigih dibarisan depan menuntut tanah berhadapan dengan PT. WKS. Keteladanan yang diperlihatkan oleh Indra membuat saya kemudian banyak belajar tentang arti kepahlawanan.

Dari diri Indra saya kemudian menemukan makna kepahlawanan.

Pertama. Tetap yakin dengan pilihannya. Dengan tetap mengepal tangan, Indra telah berhasil mengajarkan kepahlawanan. Kepahlawanan dibuktikan dengan tetap keyakinan di tengah proses mendapatkan hak. Itu pelajaran yang tidak perlu disebutkan oleh Indra.

Kedua. Konsistensi. Di tengah semakin apatisnya terhadap proses merebut hak, Indra berdiri dari setiap kesempatan. Tidak pernah dia mengeluh apalagi kabur. Dengan tetap gaya khas anak muda, dia selalu berdiri didepan sambil tidak pernah lupa tangan terkepal.

Ketiga. Memacu motivasi. Sebagai anak muda, di tengah sikap mulai jenuh, bosan, capek, Indra tampil dengan kocaknya. Dengan selalu menampilkan kekocakan, keriangan, dia berhasil menjaga asa perlawanan. Menjaga asa dalam waktu panjang memang memerlukan “energi” yang luar biasa. Sehingga tidak salah kemudian Indra sering dipercaya untuk mempersiapkan berbagai pertemuan.

Keempat. Rendah Hati. Walaupun banyak sekali pertemuan yang berhasil dipersiapkan dengan baik oleh Indra, namun dari Indra tidak keluar satu katapun tentang kesuksesan acara tersebut. Setelah selesai pertemuan, Indra malah menyisingkan lengan, mengangkat piring, gelas ke dapur. Indra tidak pernah mau dipuji. Sayapun mendapatkan jawaban ini setelah pengakuan dari Ibu Almarhum. Indra tidak pernah sama sekali berulah, patuh kepada Ibu dan selalu mengabarkan kepada ibu.

Rendah hati ini juga didapatkan oleh Indra selain memang ajaran ibunya yang bijaksana yang selalu mengingatkan Indra, juga bekal agama yang cukup baik kepada Indra.

Dengan melihat peran Indra sebagai Kepak Rambai Hulubalang dan kepahlawanan tidak salah kemudian saya merasa kehilangan. Dari Indralah saya kemudian saya banyak belajar tentang kepahlawanan.

Namun kepergiannya tetap memberikan keteladanan kepada saya.


Selamat Jalan pejuang sejati. Dari namamu kami mendapatkan sebuah makna.