05 April 2016

opini musri nauli : In Memoriam Karim hasan


Tiba-tiba saya mendapatkan kabar telah meninggal Karim Hasan (KH), seorang pejabat karier dan tokoh terpandang di Kabupaten Merangin. Dengan beragam jabatan karir baik Sekwan Sarko (sebelum menjadi Kabupaten Merangin dan Kabupaten Sarolangun), Kepala Bappeda Sarko, Asisten 1 Sarko hingga menjabat Ketua DPRD Sarko dan Ketua DPRD Merangin dan Ketua DPD Golkar Kabupaten Sarko dan DPD Kabupaten Merangin. Dengan jabatan karir di pemerintahan dan di politik membuktikan kepiawaian dan kematangan politik dari KH.
Secara pribadi, beliau adalah teman dari almarhum ayahanda penulis. Penulis pernah diceritakan oleh almarhum Ayahanda tentang kiprah KH. Bersama-sama dengan M. Ali (mantan Kepala SMP 1 Jambi), OK Hendrik (salah tokoh tari di Jambi), mereka merumuskan tarian yang berasal dari “lenggak-lenggok” gemulai dari alunan Sungai yang terkenal. Tarian Selampit Delapan. Tarian khas Jambi ini kemudian dijadikan mascot dan melambangkan muda-mudi Jambi dengan ceria dengan kain yang terikat di tiang. Tarian ini salah satu merupakan kekayaan Jambi yang masih sering dipagelarkan dalam tarian-tarian resmi protokoler Jambi.

Pertemuan dimulai ketika KH bersama-sama dengan petinggi Partai Golkar Jambi membuat laporan di Kepolisian. Penulis mendampingi proses hukum kemudian mengaku kepada beliau. Dan kekagetan dari beliau kemudian terucap dengan kalimat “Kau ananda. Kamu harus panggil om”. Sejak itu, setiap berkomunikasi KH tidak pernah memanggil nama tetapi selalu memanggil ananda.

Interaksi selanjutnya kemudian ketika proses hukum anggota DPRD Merangin dalam kasus di Pengadilan Negeri Bangko. Penulis kemudian direkomendasikan KH untuk mendampingi proses hukum kepada Sekwan. Sedangkan beliau sendiri telah menetapkan Pengacara (kalau tidak salah selain ada pengacara dari Bangko juga ada pengacara dari Padang). Selanjutnya proses hukum bergulir. Perkara di PN Bangko kemudian dilepaskan dari seluruh proses hukum (onslaag).

Praktis kemudian komunikasi terputus. Dan akhir tahun 2012, KH menghubungi penulis untuk membantu kasus tanah di Bangko. Komunikasi kemudian dilanjutkan.

Sembari mengurusi teknis perkara di PN Bangko, penulis kemudian berkomunikasi intensif diluar perkara. Dari diskusi dengan KH, ada beberapa ucapan beliau maupun sikap politik yang menjadi ingatan penulis.

Pertama. Mengenai kasus tanah, penulis pernah berujar. Mengapa ketika menjadi Ketua DPRD tidak diselesaikan hingga tidak berlarut-larut. Dengan tegas beliau menjawab. Selama menjadi ketua DPRD, beliau tidak mau menyelesaikan kasus tanah karena dikhawatirkan dapat menimbulkan persepsi negative kepada diri beliau.

Padahal dengan posisi ketua DPRD Merangin, beliau dapat meminta kepada Kapolres Merangin untuk membantu menyelesaikannya. Selain Kapolres sudah bersedia membantu, kasus ini dapat mudah diselesaikan.

Namun beliau menolak. “Nanti jangan mentang-mentang Ketua DPRD, menang melawan rakyat kecil”. Ucapan ini  dipegang teguh hingga beliau menyelesaikan tugasnya sebagai Ketua DPRD Merangin.

Kedua. Di sela-sela diskusi, beliau dapat bercerita dengan baik “suasana” Bangko ketika beliau bersama dengan almarhum ayahanda ketika masih bujangan. Beliau masih fasih bercerita pergaulan muda-mudi di Bangko yang berkumpul untuk menarikan tarian selampit delapan. Bahkan beliau juga bercerita kisah cinta ayahanda dengan Ibunda penulis. Kisah romantis yang tidak pernah diceritakan ayahanda penulis dan Ibunda selama ini.

Ketiga. Dalam setiap pertemuan, penulis selalu mengajukan pertanyaan. “Sehat om ?. Beliau dengna tenang menjawab. Iya. Seperti inilah”. Kadang sakit namun kadang sehat. Bahkan menurut pengamatan penulis, beliau masih diberi ingatan yang cukup baik menceritakan berbagai perjalanan hidup. Bahkan beliau dengan enteng bercerita tentang upaya pengobatan di Malaka (Malaysia).

Pilihan ke Malaka, selain biaya pengobatan relative lebih murah di Jakarta, namun pelayanan dari Rumah Sakit itulah yang membuat beliau betah berobat rutin. Dengan panjang lebar, beliau bercerita bagaimana pelayanan dari Rumah Sakit. Dimulai dari penjembutan dari bandara dan diperlakukan dengan menghibur diri beliau. Sepertinya beliau cukup puas dari pelayanan rumah sakit.

Keempat. Melihat interaksi yang panjang komunikasi dengan beliau, penulis sering iseng mengajukan pertanyaan disela-sela diskusi. Misalnya bagaimana pandangan beliau dengna kepemimpinan Kepala Daerah.

Dengan tenang beliau menjawab. “Orang gedang berlakulah gedang”. Kalimat itu bisa saja multitafsir. Bisa saja ditafsirkan sebagai otokritik. Namun bisa saja kalimat bijaksana dari seorang tua yang cukup dihormati di Merangin.

Kalimat “Orang gedang berlakulah gedang”, juga sering penulis temukan dalam berbagai pembicaraan dengan tokoh-tokoh adat di berbagai Desa di Merangin.

Kalimat “Orang gedang berlakulah gedang” selain bisa ditafsirkan sebagai nasehat bijaksana bagaimana seorang kepala daerah yang mempunyai amanat untuk memimpin daerah, mendapatkan amanah dari rakyat kecil juga bisa ditafsirkan antara perkataan dengan perbuatan haruslah sesuai dan dilihat oleh rakyat.

Kalimat “Orang gedang berlakulah gedang” harus tercemin seorang pemimpin tidak boleh sembarangan mengeluarkan kalimat yang bisa menyakiti rakyat. Seorang pemimpin haruslah dapat bersikap adil. Jangan seperti pemimpin “Belah bambu”. Satu dipijak namun satu diangkat. Harus adil dan tidak pilih kasih didalam memutuskan.

Kalimat “Orang gedang berlakulah gedang”, haruslah mencerminkan sikap kenegaraan dari pemimpin. Sehingga dihormati layaknya seorang pemimpin.

Kalimat “Orang gedang berlakulah gedang” bukanlah sekedar kalimat untuk koreksi. Namun sebagai pegangan dari rakyat melihat cara-cara pemimpin didalam menyelesaikan persoalan. Kalimat “Orang gedang berlakulah gedang” adalah kalimat dari beliau sebagai cerminan “orang tua” yang melihat bagaimana pemimpin di Merangin cara memimpin dan memperhatikan rakyatnya.

Kalimat “Orang gedang berlakulah gedang” adalah kalimat yang paling sering penulis ingat dan menjadi ingatan penulis kepada sosok dan kiprah dari almarhum.

Selamat Jalan Om Karim Hasan. Rakyat Merangin dan Sarolangun pastilah kehilangan sosok kebapaan yang cukup dihormati. Dan penulis kehilangan sosok kebapaan yang tetap sederhana menjalani kehidupan namun tetap memberikan mutiara besar untuk menatap hidup.