05 Juni 2016

opini musri nauli : TRADISI RAMADHAN


Sebelum saya menuliskan tradisi Ramadhan yang rutin digelar di berbagai daerah di Jambi,  Entah berapa kali saya harus menuliskan kesalahan penggunaan kalimat menjelang memasuki bulan Ramadhan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ucapan tahun ini tidak begitu banyak. Pemerintah daerah cuma memasang di tempat-tempat tertentu.


Ucapan “selamat memasuki bulan Ramadhan” pada tahun-tahun sebelumnya ramai sekali. Apalagi hendak memasuki Pemilu. Wuih.

Di setiap persimpangan jalan, setiap tiang bahkan mampu menampung 7 spanduk tulisan tersebut. Tentu saja tidak lupa “wajah senyum” mirip iklan pepsodent. Sang pengendara cuma “nyengir” melihat spanduk yang bertebaran mengganggu pemandangan indah kota Jambi.

Tahun 2016 tentu saja tidak begitu banyak tulisan. Selain tidak berkaitan dengan pemilu dan pilkada yang sudah usai digelar, kepentingan konsestan candidate juga tidak berkeinginan mengucapkan doa ikhlas memasuki ramadhan. Jadi. Jelas. Bulan puasa “Tetap” dijadikan ajang politik. Mengucapkan dengan pamrih.

Namun entah “teledor” atau “memang tidak tahu”, ucapan memasuki bulan ramadhan masih menyisakan persoalan dari tujuan dan makna ‘sang pemberi” ucapan. Masih latah kita temukan kalimat “Selamat memasuki Bulan Puasa tahun … Hijriah”.

Secara sekilas, tulisan itu tidak menjadi masalah. Namun apabila kita memaknai Puasa, maka di bulan Ramadhan banyak kegiatan keagamaan yang merupakan rangkaian dari ibadah di bulan ramadhan.

Ucapan “memasuki bulan puasa” dapat diartikan sebagai bulan ramadhan cuma “berpuasa”. Apakah betul di bulan ramadhan cuma “Berpuasa” ?

Padahal di bulan ramadhan, rangkaian kegiatan agama cukup banyak. Kegiatan bahkan dimulai sebelum subuh seperti arak-arakan anak kampong keliling rumah untuk membangunkan sahur. Mereka berkeliling sambil membawa panci, kaleng, bahkan beduk kecil yang didorong pakai gerobak. Sambil berkeliling mengitari perkampungan, mereka “berzanzi”, mengucapkan kalimat “allah hu akbar”. Bahkan sambil iseng, mereka juga menggedor rumah apabila sudah keliling kampong namun lampu rumah juga belum dihidupkan.

Perjalanan mengeliling kampong juga sembari “mengambil buah mangga” yang terletak didepan rumah. Keisengan anak-anak merupakan salah satu kenikmatan dunia anak-anak sembari mengeliling kampong.

Setelah makan sahur di rumah, mereka kemudian berlari ke masjid untuk “membunyikan speaker” mengingatkan orang kampong waktu imsa (Waktu menjelang sahur). Setelah itu berebutan “memukul bedug” subuh.

Setelah subuh, biasanya dilanjutkan dengna kultum (kuliah tujuh menit) ceramah tentang puasa dan keimanan. Biasanya kesempatan ini sering dipergunakan “anak-anak pesantren” memenuni tugas dari sekolah. Mereka berkeliling untuk “kultum”.

Kegiatan setelah subuh juga sering digunakan untuk pendidikan “pesantren kilat” sebulan penuh. Sehingga kegiatan anak-anak tetap terkendali dan mematangkan keagamaan.

Sore hari hari menjelang bedug magrib, anak-anak berlari ke masjid untuk “berebutan” memukul bedug. Setelah memukul bedug, mereka membatalkan puasa dan sholat magrib di masjid.

Dari magrib hingga habis sholat tarawih, rangkaian kegiatan tidak bisa dipisahkan dari masjid. Sehingga setelah sholat tarawih, anak-anak sudah kecapean dan tidur hingga menjelang memasuki waktu imsa.

Nah. Dari berbagai rangkaian kegiatan di bulan ramadhan tidak salah kemudian di bulan Ramadhan kegiatan tidak cuma “berpuasa”. Sehingga kalimat “selamat memasuki bulan puasa” menjadi tepat. Kalimat yang tepat seharusnya “selamat memasuki bulan ramadhan”.

Bagaimana ?