11 Januari 2019

opini musri nauli : GOSIP


Riuh, gemuruh, berdengung bak lebah. Itulah suasana dunia maya di Indonesia. Berbagai tema, issu, bisik-bisik terus mewabah, mewarnai bahkan menimbulkan polemic.

Berbagai tema, issu dimulai dari Raisa yang dilarikan ke luarnegeri, Via Vallen sedang umroh, gossip panas Ayu Tingting, Ariel Peterpan, Young Lex, Raditya Aditya.
Dunia politikpun tidak ketinggalan issu politik. Entah dimulai dari berbagai hoax yang kemudian ditertawakan, tracking pernyataan yang berbeda dengan yang diucapkan sebelumnya, counter hoax bahkan para netizen mampu membongkar berbagai kebohongan.

Tentu yang paling hangat issu hoax yang paling panas 2018. Operasi plastic (oplas) yang kemudian menimbulkan huruhara dan kemudian menjadi tema “pemukulan”.

Pembongkaran dimulai oleh Dr. Tompi. Dengan melihat keanehan dinding dibelakang Ratna Sarumpaet (Wallpaper), Dr Tompi mampu membuka mata public.

Dengan jeli, Dr Tompi mampu menguraikan, bagaimana mungkin wallpaper yang begitu rapi ada diruangan UGD sebuah rumah sakit.

Publik kemudian tracking. Pihak kepolisian kemudian turun mendatangi bandara di Bandung. Kemudian keliling Jakarta.

Akhirnya ditemukan. Ternyata wallpaper yang awal kecurigaan adalah dinding dari Rumah Sakit Kecantikan. Bahkan ditemukan daftar nama pasien. Ternyata Ratna Sarumpaet ternyata habis “oplas”. Bukan digebukin sebagaimana “dikoar-koar” di media massa.

Ratna Sarumpaet kemudian diseret ke kantor kepolisian. Dituduh membuat huruhara paling heboh Indonesia 2018. Sekarang sedang menunggu persidangan. Ratna Sarumpaet kemudian “Dicampakkan”. Menjalani proses hukum seperti Buni Yani. Sendirian. Tanpa ada supporter yang selama ini mendukungnya.

Begitu juga memasuki awal tahun 2019. Dunia politik dihebohkan dengan “hoax” 70 juta suara yang sudah dicoblos. Diteriakkan hingga memenuhi beranda dunia maya. Disambut politisi murahan di berbagai forum. Bahkan kemudian menjadi wacana public. Merusak mood memasuki tahun 2019.

Lihatlah. Hoax kemudian disambut para petinggi negeri distatus twitter. Entah yang mengaku “ulama” atau politisi yang langsung main sambar. Tidak melakukan verifikasi dilapangan (croschek), menanyakan kepada instansi yang berwenang, melakukan identifikasi kebenara hoax hingga memastikan kabar yang beredar.

Padahal “suasana” tahun baru masih begitu menggema. Menikmati “suasana liburan” panjang setelah jenuh tahun 2018. Menikmati hari-hari memasuki tahun baru 2019.

KPU dan Kepolisian bergerak cepat. Mendatangi TKP, membongkar sindikat dan mengejar mengejar pelaku. Dalam hitungan hari, Kepolisian kemudian menangkap pembuat hoax. Dan kemudian menggelandang ke kantor Kepolisian.

Nasib sang pembuat hoax semakin menggenaskan. Selain tidak diakui oleh Tim kampanye, surat pemecatan tertanggal 24 Juli 2018.

Tapi public mana percaya dengan “orang-orang” yang sudah sering melakukan hoax.

Dengan teliti, netizen memperhatikan detail surat. Membandingkan dengan antara surat yang “diakui” tertanggal 24 Juli 2018 dengan kop, membandingkan antara surat yang dibuat dengan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Membandingkan rangkaiannya. Kemudian akhirnya menemukan kejanggalan. Ya. Antara surat yang dibuat memang tidak sesuai dengan kenyataan.

Akhirnya “hoax” kemudian terbukti. Kop surat yang menggunakan symbol dengan tanggalnya tidak singkron (matching).

Padahal sudah jamak diketahui. Pengambilan nomor urut Pilpres tanggal 21 September 2018. Sedangkan didalam surat malah tertanggal 24 Juli 2018.

Masa tanggal 24 Juli 2018 sudah ada kop bersimbolkan nomor urut pilpres ?

Hoax ini yang membuat “rangkaian” untuk menyingkirkan sang pembuat hoax dari barisan kampanye, ternyata tidak matching. Lagi-lagi berbagai kejanggalan mampu dibongkar para netizen.

Kejelian dari netizen selain “rasa curiga” dari sang pembuat hoax dan koar-koar sang penyebar hoax mampu membongkar. Sehingga tidak salah kemudian. Teori klasik dalam ilmu kriminologi semakin kokoh. “Kejahatan apapun meninggalkan jejak”.

Rasa penasaran dari netizen di Indonesia berangkat dari sikap masyarakat Indonesia yang sering ngumpul, berdiskusi dan senang bercengkrama.

Lihatlah. Hampir semua tempat ditemukan warung kopi. Mulai dari kopi pinggiran, warung kopi, Café bahkan tempat-tempat mewah.

Warung kopi masih bertahan. Gerai-gerai terus bermunculan. Semuanya ramai. Baik di jam istirahat maupun hari-hari libur. Bergantian. Silih berganti pengunjungnya.

Warung kopi cuma disaingi warung tenda “nasi uduk dan pecel lele” dan rumah makan makan padang.

Selain itu tempat-tempat nongkrong juga tidak bisa dilepaskan dari suasana bergosip. Entah di pos ronda, tempat nongkrong secretariat organisasi ataupun rumah-rumah yang sering dijadikan tempat nongkrong.

Sebagai masyarakat yang senang bercengkrama, berdiskusi, rasa iseng, jahil, teliti, menyimak setiap tema membuat manusia di Indonesia begitu peduli. Begitu perhatian. Sehingga tidak salah kemudian, kesalahan kecil apapun mampu dideteksi oleh masyarakat.

Gosip merupakan menu sehari-hari. Manusia Indonesia memang senang bergosip. Entah gossip yang gayeng untuk berdialog menghangatkan suasana hingga mendiskusikan hal-hal serius dengna gaya guyon.

Istilah gossip merupakan istilah yang masih bertahan. Istilah gossip mengalami istilah pada kurun-kurun tertentu.

Dahulu istilah gossip sering dikemas menjadi istilah “ngerumpi”. Sehingga ada tayangan televise yang kemudian sampai membuat acara. “Lenong rumpi’. Namun istilah ini kemudian tenggelam bersamaan semakin bergeser generasinya.

Istilah gossip kemudian digantikan. Anak-anak muda sekarang mengenal istilah “Kepok”. Kepo kemudian dimaknai sebagai “keingintahuan” dari pihak yang dianggap tidak berkepentingan.

Istlah “kepo” adalah bentuk sikap dari “halangan” dari luar pihak yang tidak berkepentingan. Tidak termasuk kedalam komunitas yang tidak diinginkan.

Istilah kepo juga menggambarkan sikap  “tidak perlu tahu urusan kami”.

Berbagai peristiwa yang terjadi disekitar kita menjadi perhatian dari masyarakat. Entahlah peristiwa bom di Sarinah, kebakaran, kecelakaan bahkan berbagai peristiwa lainnya.

Masih ingatkan saat peristiwa bom sarinah. Belum 10 menit, para pedagang sate sudah berjualan ? Padahal, para teroris masih “tembak-menembak” dengan kepolisian.

Namun gossip, ngerumpi atau kepo adalah sikap “peduli” tipologi masyarakat Indonesia. Dengan gossip, ngerumpi atau kepo mampu menjadi penangkal hoax. Mampu membongkar berbagai “keanehan’ yang menjadi pembicaraan public.

Bukanlah warung kopi merupakan awal dari revolusi Perancis ? 

Dimuat di www.jamberita.com, 11 Januari 2019
https://jamberita.com/read/2019/01/11/5946930/gosip