17 Desember 2020

opini musri nauli : Dirijen

 


Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata Dirigen yang kemudian dialihkan dan menjadi dialek Bahasa Indonesia “dirigen” adalah pemimpin orkes Simponi, korps music atau paduan suara. 


Sebagai orchestra, jumlah pemainnya berbeda-beda. Orchestra kecil hanya terdiri dari 30-40 pemain. Sedangkan orchestra simfoni, skalanya lebih besar. Jumlah pemainnya mencapai 100 pemain. 


Alat musik yang digunakan dalam pentas orkestra simfoni biasanya berupa alat musik gesek atau strings, tiup (woodwind dan brass), dan pukul atau perkusi. Selain itu, ada beberapa alat musik tambahan yang tidak wajib digunakan, namun masih dapat dikatakan standar dalam orkestra, seperti harpa, kontrabasson, dan terompet.


Perpaduan alat music dapat menghasilkan suara yang menggema, menghentak bahkan membuat degub jantung berdebar-debar. Atau membangkitkan semangat menggelora. 


Namun dapat juga menghasilkan music yang menyayat hati. Menyentuh raga. Membuat renungan sembari membangun romantic dan suasana syahdu. 


Orchestra harus mampu berbagai langgam lagu. Mulai dari music “meraung-raung” Guns & Ross “Sweet Child of Mine” hingga langgam lagu Melayu seperti “Laksamana Raja di Laut”. 


Menguasai petitur lagu seperti “November Rain” atau “Hello”. Bahkan juga hapal bait “Orang Kayo Hitam” dan “Cik Minah”.  


Namun tidak sungkan membawakan “Selow” atau “Sayang” Via Vallen. 


Berbeda dengan panglima yang memimpin pasukan di lapangan yang bak komando maju terus pantang mundur, orchestra harus dapat mengatur ritme pasukan, menggerakkan motivasi prajurit, membangkitkan semangat adrenalin. Sekaligus menjadi “penyejuk” prajurit setelah Lelah berjuang di medan laga. 


Dalam memimpin orchestra, ritme dan mentalitas pemain harus senantiasa dijaga. Membangun kekuatan sekaligus juga mengatur irama perjuangan. 


Memasuki Pilkada, orchestra menentukan. Sesuai langgam Al Haris, music orchestra harus memainkannya. Dia harus cantik menjadi pengiring setiap langkah. 


Dengan berbagai multitalenta, Al Haris menggambarkan sosok dari berbagai sisi. Sudah jamak dia mampu menjadi Imam Sholat. Bacaannya Fasih. Tajwidnya ok. 


Namun disisi lain, ditengah keramaian, tangannya cekatan memainkan sendok garpu membuat martabak. 


Atau disela-sela pertemuan dengan ibu-ibu bakul jamu, Al Haris malah mempromosikan ramuan daun sungkai sebagai imun untuk menghadapi berbagai penyakit. 


Dengan tenang, dia mampu menerangkan berbagai khasiat daun sungkai. Lengkap dengan cara membuatnya. 


Di setiap waktu, malah Al Haris bergegas menuju lapangan sepakbola. Pemanasan dan peregangan otot sembari memasuki lapangan sepakbola. Memainkan bola dengan ciamik. 


Dribble bolanya cukup cantik. Fisiknya mendukung untuk memutar lapangan bola. Lebih sering duel didepan gawang dan kemudian melakukan “shoot”. 


Gol….


Berbagai aktivitas Al Haris adalah langgam lagu. Dan orchestra harus “ciamik” memainkannya. 


Orchestra harus mampu memainkannya sembari melihat langgam lagu. Kadangkala “suara menggelegar’ dimainkan dengan langgam lagu Rock. 


Atau bertemu ibu bakul jamu yang kemudian harus diterjemahkan dengan langgam Jawa. Anggap be keroncong atau “campursari”. 


Bahkan ketika booming lagu “Selow” atau “sayang” Via Vallen, orchestra tidak canggung memainkan ketika Al Haris bergembira dengan tim kru Jambi mantap. 


Semua perjalanan politik Al haris (roadshow) menjadi enak dinikmati dengan diiringi music orchestra. 


Dan tugas sang Dirijen hanyalah sekedar memainkan sesuai langgam lagu yang telah disusun.