24 November 2022

opini musri nauli : Asas Hukum Perdata (2)

 


Sebagaimana telah disampaikan pada edisi sebelumnya, berkaitan dengan asas “ne bis in idem”, terutama dihubungkan dengan putusan Mahkamah Agung No.650 K/Sip/1974, Sikap Mahkamah Agung tegas mengatur tentang asas ne bis in idem. 

Berdasarkan Surat Edaran MARI No. 3 Tahun 2002 tentang Penanganan Perkara Yang Berkaitan dengan Asas Nebis In Idem,  kemudian menentukan bahwa asas nebis in idem adalah pengulangan perkara dengan objek dan subjek yang sama dan telah diputus serta mempunyai kekuatan hukum tetap, baik dalam tingkat judex factie sampai dengan tingkat kasasi, baik dari lingkungan peradilan umum, peradilan agama dan peradilan tata usaha negara. 


Hakekat dari asas hukum ne bis in idem adalah bahwa baik para pihak yang berperkara (subject) maupun barang yang disengketakan (object) dalam gugatan perdata tersebut adalah sama (Putusan Mahkamah Agung No.1456 K/Sip/1967). 


Begitu juga adanya kesamaan dalam subyek dan Obyek serta status hukum tanah yang telah ditetapkan maka tetap dikategorikan sebagai ne bis in idem (Putusan Mahkamah Agung No.123 K/Sip/1968). 


Terhadap perkara yang dikategorikan sebagai ne bis In idem, maka sifat putusannya harusnya tidak dapat diterima Bukan ditolak (Putusan Mahkamah Agung No.588 K/Sip/1973). Begitu juga Putusan Mahkamah Agung No.497 K/Sip/1973. 


Namun apabila ternyata para pihak berbeda walaupun sudah diputuskan maka tidak dapat dikategorikan sebagai ne bis in idem (Mahkamah Agung No.102 K/Sip/1972). Putusan ini kemudian diikuti oleh putusan Mahkamah Agung No.1121 K/Sip/1973. 


Namun yang terpenting apabila adanya “kekurangan pihak” didalam putusannya, kemudian memasukkan pihak yang lain maka perkara dapat diteruskan. Perkara ini tidak dapat dikategorikan sebagai ne bis in idem (Mahkamah Agung No.1424 K/Sip/1975. 


Putusan ini juga diikuti oleh Putusan Mahkamah Agung No.878 K/Sip/1977. 



Advokat. Tinggal di Jambi.