Ketika sang istri meninggal dunia, saya kemudian menemukan arsip-arsip yang rapi. Di sela-sela dokumen yang tersusun rapi, tersimpan secarik kenangan — foto-foto lama yang terbungkus hening.
Seakan menemukan harta karun, foto-foto ini menggambarkan perjalanan hidup saya. Ternyata istri menyimpan semuanya dengan sangat rapi. Bagiku, itu bukan sekadar kertas usang. Itu adalah peta bisu dari setiap langkah yang pernah saya tapaki.
Harta karun itu sama sekali belum pernah saya unggah. Dan saya kaget, sekaligus terharu, melihat semuanya. Setiap foto kembali mengingatkan pada perjalanan panjang — dari ruang kuliah yang tenang, teriakan di jalanan yang membara, hingga hening mencekam di ruang sidang.
Inilah fragmen perjalanan Musri Nauli. Sebuah potret tentang konsistensi, keberanian, dan dedikasi tanpa kompromi. Yang kini kembali hidup, karena seorang istri memilih menyimpannya dengan cintanya
Akar Akademik: Awal dari Segalanya
Semua bermula dari bangku kuliah. Dalam potret klasik berlatar kanvas biru-ungu, Anak muda berdiri tegap dengan jaket beraksen unik, berdampingan dengan Erdewita Wati yang tampil anggun dalam toga wisuda lengkap dengan medali kelulusan.
Ini bukan sekadar seremoni akademik — melainkan simbol awal perjalanan intelektual. Erdewita hadir sebagai pendamping setia sejak fajar perjuangan, menjadi saksi saat idealisme masih berupa teori-teori hukum yang kelak diuji di dunia nyata.
Suara yang Menggema: Orator di Tengah Massa
Ijazah tak membuat Musri memilih jalan nyaman. Ia memilih turun ke gelanggang. Photo adalah saksi, saat tmpil dengan ikat kepala putih, berdiri di atas panggung menggenggam mikrofon. Di belakangnya dan kerumunan massa menjadi saksi keberaniannya menyuarakan hak-hak rakyat.
Api itu semakin membara di potret berikutnya: ia berdiri di lapangan terbuka di bawah langit mendung, tangan kanan menunjuk ke angkasa dengan gagah. Rambut gondrongnya diterbangkan angin — gambaran klasik seorang aktivis muda yang tak kenal gentar.
Pada fase ini, sang pemuda sekadar mahasiswa hukum. Ia adalah suara bagi mereka yang tak terdengar.
Dalam momen bersejarah bertajuk “Training For Trainer (TFT) SBSI Se-Sumatera” di Jambi, Oktober 1998 — tepat di jantung era Reformasi — keduanya terekam dalam diskusi intens.
Muchtar Pakpahan, Ketua Umum SBSI yang ikonik dengan peci hitamnya, tampak serius memeriksa dokumen bersama Musri.
Di sinilah pemuda itu menyerap ilmu langsung dari sang maestro. Di bawah bimbingan Muchtar, naluri “petarung” diasah — beranjak dari teriakan jalanan menuju strategi organisasi dan pembelaan hukum yang sistematis.
Waktu terus berjalan. Rambut yang mulai memutih menjadi saksi ribuan jam yang dihabiskan untuk membela keadilan. Kini ia tampil dalam balutan formal: kemeja krem, dasi bergaris, dan celana kain.
Ia duduk di bangku kayu panjang, menepi sejenak di lorong gedung yang seperti ruang pengadilan atau kantor hukum. Tatapannya tenang namun menyimpan kedalaman — wajah seseorang yang telah melewati banyak badai di persidangan. Tas kerja dan tumpukan berkas di sampingnya adalah senjata barunya.
Epilog: Dari Tangan yang Menyimpan, Hingga Langkah yang Terus Berjalan
Terima kasih, istriku. Engkau telah menyimpan harta karun ini dengan diam-diam, tanpa pernah kusadari. Dan engkau menjadi saksi bisu sekaligus penyaksi setia perjalanan panjangku — dari kampus, jalanan, hingga ruang sidang. Tanpa simpannya, mungkin aku sendiri lupa, pernah sebesar apa api ini menyala.
Terima kasih juga untuk teman-teman setia yang mengiringi setiap tahap perjalanan. Kalian adalah pilar-pilar tak terlihat yang membuatku tetap berdiri saat badai datang. Tanpa kalian, jejak ini tak akan pernah terukir sejauh ini.
Benang merah perjuangan tetap terjalin: dari fondasi pendidikan bersama Erdewita Wati, tempaan jalanan yang keras, berguru pada tokoh besar seperti Muchtar Pakpahan, hingga bertransformasi menjadi advokat dan petarung persidangan yang matang.
Sang pemuda itu membuktikan bahwa menjadi aktivis bukanlah fase sementara, melainkan sebuah jalan hidup. Dari kampus ke aspal, dari aspal ke ruang sidang — semangatnya tetap sama: berdiri di barisan terdepan untuk mereka yang mendambakan keadilan.
Dan kini, karena seorang istri memilih menyimpan harta karun itu dengan rapi, perjalanan itu tak akan pernah benar-benar usang. Ia hidup kembali, setiap kali dibaca, setiap kali dikenang.



