10 September 2010

opini musri nauli : MUDIK DAN SEPEDA MOTOR



Membicarakan mudik tanpa membicarakan sepeda motor serasa tidak lengkap. 
Sepeda motor menjadi fenomena yang tidak terpisahkan dari tradisi mudik 10 tahun terakhir. 

Sepeda motor digunakan selain lebih murah, tidak berdesak-desakan atau antri menggunakan transportasi publik lainnya. 

 Tradisi “mudik” disaat Idul Fitri membuat konsentrasi nasional begitu “rumit”. Disatu sisi Pemerintah ingin menunjukkannya dengan berbagai persiapan. Membangun posko mudik, mempercepat perbaikan jalan yang akan dilalui jalur mudik, menyiapkan berbagai sarana pendukung dan berbagai kebutuhan lainnya yang berkaitan dengan perjalanan mudik. 

 Disisi lain, transportasi yang digunakan untuk mobilitas “arus mudik” jauh dari kurang. Pesawat terbang, kereta api, kapal dan bis-bis tidak cukup untuk menampung jumlah perjalanan mudik. Belum lagi harga tiket yang menjulang tinggi (walaupun Pemerintah telah menetapkan tuslah). Kalangan menengah dapat menggunakan kendaraan roda empat atau menyewakan roda empat. 

Maka praktis tempat-tempat penyewaan mobil “laris manis”. Bahkan 2 minggu menjelang idul fitri, tidak ada lagi stock untuk penyewaan mobil. Lantas bagaimana dengan kalangan menengah kebawah atau ekonomi pas-pasan untuk melaksanakan tradisi “mudik” ?. 

Solusi menggunakan sepeda motor tidak terhindarkan. 

Kendaraan ciptaan Gottlieb Daimler dan mitranya, Wilhelm Maybach, dua pakar mesin empat langkah Jerman, lebih praktis, murah sebagai jawaban. Tradisi “mudik” pada tahun 2010 menggunakan sepeda motor mencapai 672 Ribu. 

Angka dilapangan dari angka resmi yang tercatat di berbagai instansi resmi. Padahal Setiap hari lebih dari 890 sepeda motor baru terdaftar di wilayah hukum Polda Metro Jaya. 

Hingga Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua di jalan Jakarta mencapai 8.087.118 unit. Fenomena mudik menggunakan sepeda motor adalah fenomena sosial yang harus diberi porsi yang cukup. 

Menyalahkan sepeda motor sebagai angka kecelakan tertinggi haruslah diberi ruang. Fenomena sepeda motor adalah bentuk perlawanan terhadap kelalaian negara yang tidak menyiapkan transportasi publik. 

Fenomena sepeda motor adalah sikap “pembangkangan” kaum urban migran terhadap negara yang nyata-nyata tidak memberikan perlindungan terhadap keselamatan rakyat. 

Fenomena sepeda motor juga harus ditafsirkan sebagai bentuk spontan dari kebutuhan transportasi publik. 

 Fenomena sepeda motor menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi mudik kaum urban-migran.