21 Mei 2012

16 Orang Dalang Perusak Mapolsek


16 Orang Dalang Perusak Mapolsek


MUARABUNGO - Kerja keras Polres Bungo mengungkap dalang kerusuhan dan pengrusakan kantor Polsek Tanah Sepenggal dan rumah anggota polisi di Desa Lubuk Landai menemui titik terang. Setidaknya ada 16 warga yang diduga menjadi otak kerusuhan tersebut. "Sudah ada beberapa yang mengarah tersangka,” ujar Kapolres Bungo AKBP Budi Wasono.
Namun karena masih dalam tahap penyelidikan, Kapolres belum bersedia mengungkap identitas 16 warga yang diduga kuat sebagai otak penyerangan itu. Namun ditegaskannya, penetapan 16 calon tersangka ini berdasarkan bukti-bukti yang kuat. "Selain bukti lapangan yang didapat anggota kita, juga diperkuat dari keterangan saksi. Hingga kini telah 20 saksi yang kita mintai keterangan," ujar Budi.

Polisi, katanya, tidak mau gegabah melakukan penahanan terhadap 16 warga tersebut. Pendekatan persuasif dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat setempat. "Malam tadi kita telah kumpulkan tokoh masyarakat, adat, pemuda dan lainnya," ujarnya. Ini dilakukan untuk teknis proses hukum yang akan dilakukan sehingga tidak menimbulkan konflik baru. "Warga takut kalau harus menjalani proses hukum dan juga disuruh mengganti rugi. Kita telah jelaskan dan bahas soal itu dengan tokoh masyarakat. Kita juga telah himbau agar menyerahkan diri secara baik-baik," ujarnya.

Yang jelas, katanya, dilakukan pendekatan dan pemahaman dulu, kalau tidak juga, maka akan diambil tindakan tegas dengan melakukan penangkapan.

Selain tindakan hukum terhadap warga yang melakukan tindakan anarkis, Budi juga berjanji akan memproses Asmawi, anggota polisi yang diduga melakukan penembakan terhadap warga.

Begitu juga dengan AKP Afrizal, Kapolsek Tanah Sepenggal yang dinonaktifkan. Selaku pimpinan, Afrizal harus bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan Asmawi itu.
Seperti diberitakan sebelumnya, Selasa (15/5) pekan lalu, ribuan warga melakukan aksi anarkis di Desa Lubuk Landai, Kecamatan Tanah Sepenggal. Massa merusak kantor polsek dan berlanjut dengan membakar rumah dan lima ruko milik anggota polisi, Asmawi yang terletak sekitar 800 meter dari mapolsek. Aksi brutal warga ini dipicu dengan tertembaknya paha Hamdan, warga Tanah Bekali yang diduga dilakukan Asmawi. Penembakan itu bermula dari razia PETI yang dilakukan Polsek.

Kades Tidak Tahu Keterlibatan Warganya

Kepala Desa Tanah Bekali Usman mengatakan, kondisi di desanya sudah kondusif. Dia mengatakan, setelah aksi massa tersebut tidak ada lagi gejolak.

Disinggung keterlibatan warganya dalam aksi massa itu, Usman mengaku tidak tahu pasti.

Soalnya, selain tidak ada informasi yang diterimanya, saat awal penyerangan hari Selasa (15/5) itu, dia tidak berada di Desa Tanah Bekali. "Saya di Bungo, sore sekitar setengah enam baru sampai rumah," katanya.

Dia mengaku terkejut begitu mengetahui aksi massa di Desa Lubuk Landai. "Kejadian itu (perusakan dan pembakaran) di Lubuk Landai, tapi nama desa kami yang jadi buruk," ujarnya.

Untuk proses hukum, dia menyerahkan sepenuhnya kepada polisi. "Kalau merusak, tentu salah, tapi biarlah polisi menentukan siapa yang salah," ujarnya.

Dia mengungkapkan Hamdan warganya yang tertembak sudah pulang ke rumah. "Kalau pengobatannya sudah ada yang menanggung dari Bungo (polisi, red). Ya sejak di rumah sakit itulah," katanya.

Usai tertembak, Hamdan dilarikan ke Puskesmas setempat, kemudian dirujuk ke RSUD H Hanafi Muarabungo. Dia mengalami luka tembak di paha kanan.

Polisi Periksa Puluhan Saksi

Di Sarolangun, sehari pascapembakaran basecamp perusahaan perkebunan PT Jambi Agro Wijaya (JAW) oleh masyarakat asal Pemenang, setuasi sudah membaik. Namun pihak kepolisian tetap berjaga-jaga di lokasi untuk mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan.


Kapolres Sarolangun AKBP Satria Adhy Permana melalui Kapolsek Air Hitam Aiptu Pujiarso mengatakan, sejauh ini, pihaknya telah memeriksa 10 saksi untuk mencari siapa dalang ataupun provokator kerusuhan dan pembakaran tersebut.

Seperti diketahui, kerusuhan akibat sengketa lahan terjadi di Kabupaten Sarolangun. Sedikitnya 62 unit base camp milik PT JAW, di dIvisi III Simpang Meranti Desa Mentawak Ulu, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, hangus dibakar massa.

Kejadian bermula saat massa yang berasal dari Pamenang, Kabupaten Merangin (perbatasan Sarolangun) yang tergabung dalam kelompok tani pada Sabtu (19/5) lalu, sekitar pukul 11.00, datang ke lokasi PT JAW. Massa menuntut lahan yang selama ini mereka klaim lahan kelompok tani. Namun, PT JAW juga mengklaim lahan itu adalah lahan HGU perusahaan.

Sempat terjadi pertengkaran antara massa yang menduduki perusahaan dan sekuriti PT JAW.

Massa akhirnya membakar base camp perusahaan setelah karyawan dan sekuriti perusahaan berlari meninggalkan lokasi.

Sementara itu, Humas PT JAW Matra candra berharap aparat kepolisian bisa menindak tegas pelaku pembakaran. “Kita dirugikan miliaran rupiah. Apapun alasanya ini tidak dibenarkan,” ujarnya.

Bom Waktu yang Dibiarkan

Bentrok yang kerap terjadi mendapat sorotan dari pengamat hukum Musri Nauli. Musri yang juga Advokat ini mengatakan bentrok atau penyerangan yang terjadi merupakan bom waktu.

Potensi konflik itu sudah lama ada, namun tidak diantisipasi pemerintah. “Saya sudah mengingatkan dari dahulu, potensi-potensi konflik itu suatu saat akan meletus. Penyebabnya ya masalah perebutan lahan, sumber daya alam, kemiskinan dan sosial,” katanya kepada Jambi Indepedent.

Saat ini, konflik yang ada sudah menyebar dan meluas ke daerah-daerah secara merata.


Ditulis oleh (swi/amu/pia)
Senin, 21 Mei 2012 09:35