26 Oktober 2012

opini musri nauli : JOKOWI, DAHLAN ISKAN DAN HIDAYAT NUR WAHID


JOKOWI, DAHLAN ISKAN DAN HIDAYAT NUR WAHID

Wabah “Jokowi” menjalar secara cepat. Meluas hingga ke ujung tulang sumsum. Semua berdecak, menunggu kabar terbaru dari berita Jokowi. Hampir praktis tidak ada hari tanpa berita Jokowi. Media online sengaja membuat tagline untuk mengabarkan isu terbaru Jokowi. Media cetak tidak mau kalah. Memberitakan “seakan-akan” mereka sumber utama mendapatkan berita Jokowi.

Demam “Jokowi” mewabah. Slogan “Jakarta baru”, “Jakarta Bersih” disimbolkan dengan baju kotak-kotak. Baju kotak-kotakpun mewarnai berbagai tayangan. Baju kotak-kotak dengan simbol mengacungkan tangan tiga jari menjadi simbol anti kemapanan. Simbol perlawanan. Terus menghantui mimpi-mimpi kita akan suasana demokratis.

Membandingkan style, performance dan gaya sederhana mengingatkan orang akan Dahlan Iskan. Seorang “bisnisment” yang paling berhasil. Dari media massa pinggiran kemudian menjadi “raksasa” pers. Tidak terbayangkan, mengelola media massa menjadi “raksasa” pers yang kemudian hadir di setiap pelosok daerah.

Masih ingat akan “sepak terjang” teatrikal Dahlan Iskan yang “mengamuk”, membanting kursi keluar ruangan di pintu tol. Masih ingat gaya Dahlan Iskan yang “rela” antri menunggu jadwal kereta api dan berdesak-desakkan di antara penumpang yang naik kereta api.

Style dan performence Jokowi juga mengingatkan Hidayat Nur Wahid. Ketua MPR yang kemudian diliput media massa “tidur” di ruangan kerja. Menampakkan “kesederhanaan”. Teladan yang mampu memberikan inspirasi akan pemimpin yang mau “mengenyampingkan” urusan pribadi diatas kepentingan negara. Seorang pemimpin yang berhasil menjadikan MPR sebagai lembaga negara yang sangat dihormati.

Namun dalam perkembangannya memberikan pelajaran penting. Style dan performance dari Dahlan Iskan tidak diimbanging dengan prestasi “tockernya”didalam mengelola Kementerian BUMN. Kementerian yang “konon kabarnya” harus mengelola BUMN yang assetnya mencapai ratusan trilyunan rupiah malah sibuk mengurusi berbagai kasus di berbagai daerah. Meledaknya kasus PTPN VII di Palembang yang kemudian menyebabkan konflik yang berkepanjangan. Belum lagi masih adanya “trend” pasukan keamanan didalam areal perusahaan BUMN “menghadapi” berbagai sengketa yang terus menerus mempersoalkannya.

Begitu juga dengan Hidayat Nur Wahid. “Kepemimpinan” Hidayat Nur Wahid tidak dimbangi dengan “kinerja” anggota parlemen. Dalam berbagai tayangan di media massa, secara kasat mata “diperlihatkan” bagaimana tingkah pola anggota parlemen. Menaikkan fasilitas negara, studi banding, kelakuan pribadi anggota parlemen, membolos, telat menghadiri rapat dan berbagai tingkah laku lainnya yang “justru” menampar wajah parlemen. Inspirasi dari Hidayat Nur Wahid tidak mampu memberikan warna anggota parlemen sehingga tidak salah kemudian, keteladanan dari Hidayat Nur Wahid cuma “sekedar” membangun diri teladan kepada Hidayat Nur Wahid. Namun tidak mampu “merubah” keadaan dan memperbaiki parlemen yang dapat dirasakan oleh rakyat.

Berbeda dengan Jokowi. Terlepas prestasi yang akan diraihnya saat memimpin Jakarta, prestasi dalam kinerja di Solo telah menjawab semuanya. Solo telah menjawab semuanya. Kartu Pintar, kartu sehat dan berbagai kemajuan yang dirasakan rakyat Solo selama dipimpin oleh Jokowi selama 8 tahun tuntas dikerjakannya. Ada perubahan yang sangat nyata apabila dibandingkan sebelum dipimpin oleh Jokowi dan sesudah dipimpin Jokowi. “Pemindahan” pedagang kaki lima yang digagas oleh Jokowi “menjadikan” inspirasi berbagai persoalan yang sama di berbagai daerah. Belum lagi metode dan cara yang digunakan Jokowi yang menjadi perhatian berbagai kota-kota besar dan Jokowi pernah mempresentasikan di forum PBB.

Namun membandingkan antara Jokowi, Dahlan Iskan dan Hidayat Nur Wahid tidaklah sederhana. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing, catatan penting yang menjadi perhatian rakyat Indonesia terletak bagaimana kekuasaan kemudian digunakan dan dijadikan inspirasi terhadap perbaikan ke depan. Dan bagaimana kemudian kekuasaan digunakan untuk memenuhi amanat konstitusi. Kesejahteraan masyarakat.

Dimuat di Posmetro, 26 Oktober 2012.
http://www.metrojambi.com/v1/home/kolom/11284-jokowi-dahlan-iskan-dan-hidayat-nur-wahid.html
.