11 November 2012

opini musri nauli : LANGKAH DAHLAN ISKAN DAN JOKOW


LANGKAH DAHLAN ISKAN DAN JOKOWI

Dahlan Iskan dan Jokowi merupakan sosok yang paling fenomenal dan paling ditunggu publik setiap langkah-langkahnya. Meminjam Istilah Effendi Gozali. Keduanya sedang menjadi “media darling”. “Blusukan” Jokowi seakan-akan menjawab publik bagaimana “keinginan” publik yang setiap langkah dan keputusannya ditunggu rakyat. Keputusan yang berasal dari bawah dan dapat mewakili suara rakyat.
Sementara setiap “langkah teatrikal” Dahlan Iskan seperti melempar kursi di depan pintu tol, membersihkan WC di toilet, naik kereta api, atau naik ojek mengejar waktu sidang di Cendana juga merupakan “ekspresi” kegeraman publik terhadap berbagai “sumbatan” birokrasi yang panjang di Indonesia.

Terlepas dari apakah kedua langkah yang ditempuh oleh Jokowi dan Dahlan Iskan lebih sering dipandang sinis oleh sebagian kalangan dengna menganggap sebagai “pencitraan” apalagi sering dikait-kaitkan menjelang Piplres 2014, kerinduan publik akan setiap langkah yang dilakukan oleh Dahlan Iskan dan Jokowi merupakan “kerinduan” publik akan hadirnya memimpin alternatif didalam “mengurus” negara. Pemimpin yang lebih serius mengurusi negara daripada pemimpin formal yang lebih banyak dilihat dalam pidato-pidato, pemimpin yang lebih banyak diperlakukan seperti dalam forum-forum resmi, pemimpin yang lebih sering tampil diiklan televisi.

Memang harus diakui, stok pemimpin formal untuk melihat Indonesia dan berharap “membenahi” Indonesia bisa dikatakan sedikit. Pemimpin tua yang sekarang memegang posisi penting, pemimpin partai “tidak rela” memberikan kesempatan kepada kaum muda. Sementara kaum muda lebih senang menikmati “kemapanan” dengan “mengekor kepada kekuasaan kaum tua. Mereka menjadi Hedonisme”, larut dengan dialektika tanpa substansi. Mereka kemudian berteriak “seakan-akan” reformis, ketika diserang dari berbagai lini. Namun tidak juga menjawab tantangan zaman.

Dengan melihat kejadian akhir-akhir ini, kehadiran Dahlan Iskan dan Jokowi kemudian menjadi “obat pelipur rindu”. Sekedar “memuas dahaga” akan lahirnya pemimpin yang mau “mengurusi” mereka. Dalam kosmopolitan Jawa. Lebih dikenal dengna istilah “Satri Piningit”. Ratu Adil.

Namun apakah semuanya akan menjadi selesai dengan kehadiran kedua tokoh itu. Belum tentu dan belum pasti juga jawaban yang akan kita terima. Terlepas dari apapun hasil yang akan kita raih, aksi-aksi teatrikal Dahlan Iskan ternyata tidak juga mampu membuat dan membenahi BUMN sebagai perusahaan yang sehat (good corporate). PTPN VII masih menggunakan cara-cara “kekerasan” dalam peristiwa di Palembang. Berbagai indikator di berbagai daerah kemudian meyakini kita, BUMN (yang digawangi oleh Dahlan Iskan) masih menggunakan cara-cara orde baru didalam “menyelesaikan” berbagai perselisihan dengan pemilik tanah.

Begitu juga “kereta api'”. PT. KAI masih semrawut. Tidak ada perubahan pelayanan terhadap penumpang. Jangan berharap agar dapat menyelesaikan persoalan, kenyamanan kereta api dengna tarif untuk AC, kita serasa tidak menikmati fasilitas itu. Orang masih banyak merokok. Di gerbong cuma ada tulisan “AC” tanpa pendingin ruangan.

Tanpa evaluasi dari media, kemudian kehadiran Dahlan Iskan berlanjut ke pernyataan Dahlan Iskan terhadap adanya “pemerasan” oleh anggota parlemen. Degup publikpun menunggu siapa saja nama-nama anggota parlemen yang “memaksa” meminta upeti. Ekspetasi publik kemudian anti klimaks disaat bersamaan Dahlan Iskan “cuma“ melapor kepada Badan kehormatan DPR. Berbagai inisial nama-nama yang beredar di media massa kemudian tidak memiliki makna. Entah kartu truf apa yang hendak digunakan oleh Dahlan Iskan. Entah mengalihkan konsentrasi media massa (smoking green) ke issu lain setelah sebelumnya media massa merilis inefisiensi PLN hingga puluhan trilyunan. Atau dugaan permainan “kongkalilong” antara keluarga Dahlan Iskan dengan petinggi PLN.

Sementara Jokowi dengan berbagai “manuvernya” kemudian mulai menggiring keinginan publik terhadap fasilitas-fasilitas publik yang “harus” disediakan oleh pemerintah. Jargon seperti “kartu pintar”, “Kartu sehat” sudah mulai menui hasil (succes story). Masyaraka menjadi sadar, ternyata persoalan hak-hak mendasar seperti kesehatan dan pendidikan “mudah” dan bisa diselesaikan oleh negara. Masyarakat kemudian menjadi paham, ternyata fasilitas yang selama ini sulit diakses hanya dijadikan komoditas politik tanpa mau menyelesaikannya. Janji Jokowi tertunai.

Nah, dalam kacamata media, penulis beranggapan bahwa langkah-langkah sukses yang diraih oleh Jokowi tidak diimbangi dengan “prestasi moncer” dari Dahlan Iskan. Sehingga Dahlan Iskan mulai digugat keberhasilan kinerjanya. Dahlan Iskan kemudian “terjebak” dengan aksi-aksi “teatrikal”. Dahlan Iskan “mulai dipertanyakan prestasinya”. Dahlan Iskan kemudian “terjebak” dengan slogan-slogan akan “membenahi” BUMN tanpa satupun succes story yang bisa dibanggakan.

Dahlan iskan kemudian tersadar ketika media massa “memalingkan” wajah ke Jokowi dan mulai mengait-kaitkan dengan Pilpres 2014. Dahlan Iskan mulai panik sehingga melontarkan wacana “upeti' BUMN kepada anggota parlemen. Namun Dahlan Iskan terkecoh. Lontaran kepada media massa cuma dianggap sebagai “permainan politik tinggi” tanpa strategi yang kuat. Sehingga kedatangan Dahlan Iskan di parlemen hanyalah sekedar “news” tanpa dukungan publik yang kuat. Sehingga lontaran itu kemudian “sepi” tanpa substansi.

Dalam keadaan seperti ini, Dahlan Iskan sebagai “orang media” menjadi sadar, ternyata kekuasaan yang diberikan oleh negara ternyata tidak dapat mampu membenahi BUMN. Terlepas dari berbagai tulisan yang disampaikan di Jawa Post, tulisan rutin Dahlan Iskan, berbagai strategi dan succes story yang disampaikan tidak mampu menghentikan “palingan” media kepada Jokowi. Magnet Jokowi terlalu kuat. Magma message begitu menggema. Pekerjaan sederhana ternyata menghentakkan dahaga publik. Sehingga tidak salah apabila meminjam istilah Effendy Gozali, justru Jokowi yang mampu sebagai “media darling”. Jokowi (tidak perlu analisis lagi) mampu menjaga “emosi” publik dan “mengemasnya” secara perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit diuraikan namun dalam setiap peristiwa selalu “diselipkan” succes story. Upaya yang tidak berhasil dilakukan oleh Dahlan Iskan.