19 Januari 2013

opini musri nauli : Diduga Ada Unsur Pembiaran terhadap Tiara



KASUS meninggalnya Anggara Tiara dan bayi yang dikandungnya terus mendapat perhatian dari sejumlah kalangan. Adanya dugaan unsur kelalaian dan pembiaran menjadi sorotan publik.

Kemarin (18/1), praktisi Hukum Jambi, Musri Nauli mencurigai ada unsur pembiaran terhadap pasien, Tiara. “Ini bisa saja masuk dalam kategori malpraktik,” tegasnya. Di dalam hukum, ada tiga kategori malpraktik.

Pertama, melakukan yang seharusnya tidak dilakukan, kedua tidak melakukan yang seharusnya dilakukan. Ketiga, tidak melakukan sama sekali yang harus dilakukan. “Nah, dalam kasus ini (Tiara), masuk kategori kedua, yaitu tidak melakukan yang seharusnya dilakukan,” tegas Musri Nauli, kemarin (18/1).

Menurut dia, keluarga korban harus berani melaporkan kasus ini ke polisi. “Biarkan polisi menyelidiki siapa yang bertanggung jawab,” ujarnya. Ditambahkannya, kasus ini bisa saja mengarah ke dalam kasus pembunuhan berencana dan hukumannya bisa hukuman mati. “Polisi pun bisa menyelidiki ini meski tidak ada laporan dari korban, saya siap menjelaskan ke polisi,” ujar Musri Nauli. “Hasil penyelidikan polisi, nanti akan ketahuan siapa yang bertanggung jawab,” pungkasnya.

Sementara itu, keluarga Anggara Tiara, nampaknya tidak akan tinggal diam. Ayah korban Bujang Atori akan menuntut Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher, jika tidak ada kejelasan dan tidak ada komitmen dari rumah sakit untuk memperbaiki pelayanan untuk kedepannya.

Dia mengaku kecewa dengan pihak rumah sakit yang mengatakan pelayanan dan pertolongan yang diberikan pada anaknya sudah maksimal dan ditangani dengan dokter. 

”Saya sangat kecewa mendegar pengakuan dr herlambang di media, katanya dia sudah tangani, sekarang saya mau nanya dia nangani seperti apa, sampai anak saya pulang saja batang hidungnya tidak ada,” kesalnya kemarin saat Jambi Independent mendatangi di kediamannya.

Pascatiga hari meninggalnya anaknya tersebut dirinya dan keluarga lainnya akan berupaya bertemu dengan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus. Dia mengatakan, dirinya dan beberapa keluarga lainnya dan juga saksi akan menceritakan kronologis kejadian yang membuat anak beserta cucunya meninggal. ”Kalo soal mati itu memang tuhan yang mengatur, akan tetapi dari segi pelayanan rumah sakit itu tuidak mencerminkan layaknya rumah sakit milik pemerintah dan masyarakat. Kita akan ceritakan semuanya,” sambungnya.

Ditegaskannya, pasca pertemuan dengan orang nomor satu di Jambi yang akrab disapa HBA, pihak rumah sakit tidak juga menyadari keteledoran dari segi pelayanan, tidak menutup kemungkinan masalah ini akan berlanjut ke ranah hukum. ”Selama kami di sana, pihak rumah sakit tidak ada komunikasi dengan kami mau diapakan anak saya dengan kondisi seperti itu. Bahkan mereka sibuk dengan sendrinya baik itu bercanda dan main Hp, jika ditanya baru dijawab,” katanya.

Anehnya lagi, lanjut Bujang yang didampingi keluarga yang lainnya, setelah diketahui anaknya meninggal pada waktu itu, dokter yang ada pada waktu itu dengan ciri tubuh sedikit gempal melarikan diri melalui pintu belakang tanpa memberi keterangan. ”Dokter yang ada pada waktu itu, kalo dak salah pakai baju cokelat, lari lewat belakang dia, lewat taman-taman larinya,” ungkapnya dengan mengatakan, jika bertemu dia masih sangat ingat dengan dokter itu.

Dalam kesempatan itu, Bujang juga berharap banyak kepada DPRD yang membidangi masalah ini untuk dapat menjadi penyambung lidah masyarakat dan menyelesaikan permasalahan ini. Dia mendesak anggota dewan untuk bertindak, agar tidak ada lagi masyarakat kecil atau tidak mampu dibuat seperti yang mereka alami. “Cukuplah kami, jangan ada lagi korban lain yang menyusul, kita semua tahu nyawa itu Tuhan yang mengatur, akan tetapi yang namanya pelayanan dan juga penanganan itu adalah tanggung jawab rumah sakit,” tegasnya.

Jambi Independent, 19 Januari 2013

http://www.jambi-independent.co.id/jio/index.php?option=com_content&view=article&id=17990:diduga-ada-unsur-pembiaran-terhadap-tiara&catid=7:sosial&Itemid=9