05 Oktober 2013

opini musri nauli : MEMBACA SKENARIO TERTANGKAPNYA KETUA MK


Sudah bertubi-tubi pemberitaan tentang tertangkap tangan Ketua MK (KPK memberikan istilah “operasi tangkap tangan. KUHAP memberikan istilah “tertangkap tangan. Sedangkan kita biasa mengenal dengan istilah “tertangkap basah), Akil Muchtar dalam kasus “gratifikasi”. Nilainya tidak tanggung-tanggung. Apabila dikurskan dengan rupiah sekitar 3 milyar lebih.
Desain scenario dalam membaca peristiwa tertangkap tangan ketua MK coba disoroti putusan MK yang berkaitan dengan Pilkada. Terlepas dari “issu” terhadap pemeriksaan UU yang untuk sementara kita eliminir, pemeriksaan pilkada memerlukan panel hakim yang terdiri 3 orang. Tentu saja hakim panel hanya berkonsentrasi terhadap pemeriksaan pilkada.

Dalam pengamatan saya (saya sengaja menggunakan istilah kata “pengamatan” sekedar melihat dari kejauhan), ada beberapa scenario yang bisa dijadikan bahan untuk “membaca” kasus ini.

Skenario 1

Memang ada “modus”, desain, pola yang terorganisir (crime organize) yang dimainkan. Modusnya, sebelum putusan dijatuhkan, ada tim yang khusus mengatur scenario. Tim kemudian “merapikan” didalam MK, baik melalui panitera, tim khusus yang mempunyai interaksi dengan “akses” kedalam maupun tim-tim yang mempunyai “link” langsung dengan pengambil keputusan.

Penulis mencoba melihat apakah rangkaian ini bisa dilakukan dengan melihat berbagai peristiwa demi peristiwa untuk memastikan scenario pertama berjalan.
Fakta pendukung bisa dilihat, apakah Ketua MK menjadi pemain penting dan penentu terhadap berbagai putusan.

Melihat komposisi Hakim konstitusi, penulis kurang meyakini scenario pertama. Apakah terlalu berani dan teledor, Ketua MK menyodorkan pandangannya untuk memutuskan perkara dalam Rapat permusyarawatan Mahkamah.

Tinggal tugas KPK memastikan apakah terhadap pilkada Garut dan pilkada Gunung Mas ada hubungan antara Akil Muchtar dengan hakim dalam panel yang sama. Apakah ada pembicaraan  “tertentu” untuk memenangkan perkara sebelum diputuskan didalam rapat permusyawaratan mahkamah.

Melihat dari “penggeledahan dan penyitaan” yang dilakukan KPK di MK, maka dapat dilihat untuk sementara, ruangan yang digeledah baru ruangan ketua MK, ruangan ajudan/sekretaris dan ruang administrasi umum.

Selain itu juga, dengan datangnya Patrialis Akbar dalam konferensi pers di KPK, sekedar memastikan kepada public, memang desain pertama kurang kuat sehingga untuk sementara kita abaikan.

Namun apabila kemudian KPK menggeledah dan menyita ruangan lain, maka penyidik dapat memastikan, crime organize sudah berlangsung.

Skenario 2

Akil Muchtar “hanya” memaparkan pandangannya mengenai sebuah perkara pilkada. Akil Muchtar kemudian melihat pandangan dari anggota majelis hakim lainnya. Apabila ternyata banyak hakim yang sepakat dengan pemikirannya, maka barulah pihak yang menang dihubungi.

Berbagai peristiwa sebelumnya, seperti nyanyian “twitter” sebelum tertangkapnya AM, isu tidak sedap dari tuduhan Refly Harun di Kompas setidak-tidaknya mendukung desain scenario 2. Apalagi “upeti” langsung diserahkan kepada AM.

Skenario ini lebih tepat dengan melihat berbagai peristiwa yang terjadi. Selain, uang diserahkan setelah sidang pemeriksaan panel pilkada Gunung Mas baru selesai, AM juga menerima pilkada Lebak yang sudah lama diputuskan.

Untuk membuktikan scenario 2, maka dilihat apakah ada hubungan baik maupun sesudah putusan Pilkada Lebak maupun hubungan sebelum putusan Gunung Mas.
Berita kompas hari ini cukup menarik. AM yang mendatangi ruangan media center “kelihatannya bingung’. Entah beberapa kali AM mondar-mandir apakah akan pulang atau masih ingin mengobrol.

Padahal apabila melihat waktunya, maka AM sudah menerima dana dari Pilkada Lebak dan sekarang hendak pulang mau bertemu dengan tim yang mau menyerahkan dana dalam pilkada Gunung Mas.

KPK sudah mempunyai informasi yang cukup untuk menentukan bagaimana scenario ini disusun. Melihat semangat “pembenahan” dari KPK untuk membersihkan MK, maka pernyataan “memberikan pelajaran” yang disampaikan dalam konferensi pers di MK ketika meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan, maka scenario kedua lebih tepat.

Skenario 3

Keterangan resmi dari AM tidak kenal dengan pelaku merupakan scenario yang harus juga diberikan perhatian. Terlepas apakah pernyataan ini benar atau tidak, namun yang menarik, desain ini cukup rapi dipersiapkan oleh AM.

Beberapa fakta pendukung juga harus diberi porsi untuk melihat scenario ini. Pertama. Pernyataan dari AM yang menyatakan tidak kenal menarik untuk dilihat langkah ke depan. Apakah AM memang tidak mengetahui dan tidak kenal dengan kedua orang yang telah datang ?

Selain itu ketenangan AM menjawab pertanyaan wartawan setidak-tidaknya harus juga diberi porsi untuk melihat skenari itu.

Sebelum saya mengkonfirmasikan scenario ini, tentu saja banyak pertanyaan yang timbul. Pertama. Apakah bisa datang ke tempat kediaman ketua MK dengan tingkat keamanan cukup tinggi. Sebelum datang ke tempat kediamanan, harus melalui pintu utama yang dijaga cukup ketat. Tamu-tamu tertentu yang bisa masuk. Apalagi selain sudah kenal juga harus janjian ketemu.

Kedua. Setelah melewati pintu utama maka harus melewati penjagaan cukup ketat di pintu rumah AM. Selain ada penjagaan yang standar VVIP seperti pengamanan melalui protokoler ajudan, penjagaan yang standar high level,  maka tentu saja melalui telephone memastikan kepada AM apakah tamu yang datang bisa diterima atau tidak.

KPK tentu saja sudah mempunyai informasi yang cukup untuk menangkis sikap dari AM. Tinggal kita melihat perkembangan selanjutnya. Apakah sikap yang diambil AM memang kejadian sebenarnya atau Sikap yang diambil AM sebenarnya justru akan menggali lebih dalam

Skenario 4.

“Pembunuhan karakter”  AM setelah berbagai putusan ternyata banyak menyakiti pihak-pihak yang selama ini mendukung AM sebagai hakim di MK dan ketua MK. Skenario ini sempat terlintas setelah melihat berbagai putusan MK tentang Pilkada ternyata banyak tidak sesuai dengan pihak-pihak selama ini mendukung AM.

Banyaknya gugatan yang dikabulkan padahal sebelumnya pemenang petaha berasal dari partai-partai yang besar yang dikalahkan di MK.

Selain itu juga, dalam periode AM sebagai ketua MK, putusan telak Gubernur Sumsel menarik juga diperhatikan. Padahal Gubernur Sumsel merupakan pilihan Golkar. Sementara AM ternyata mengalahkannya di MK.

Sebagai sebuah scenario, bisa saja AM digulingkan sebelum memasuki Pemilu. Karena AM tidak bisa “dikuasai” sehingga AM harus disingkirkan.
Fakta yang ada dapat dilihat dari pertanyaan wartawan yang menggali keterangan dari AM mengenai upaya penggulingan.

Berbagai scenario yang coba disusun “cuma” pengamatan dari berbagai pandangan yang dilihat di media massa. Penulis tidak mendapatkan informasi yang cukup untuk menentukan scenario yang tepat.

Namun yang pasti, semua scenario tidak akan berhasil, apabila AM tidak terlibat dalam “urusan tidak sedap”. KPK tentu saja sudah memegang informasi penting sehingga KPK berani “menyambangi” langsung ke kediaman AM.

Sebagaimana sering kita saksikan dalam kasus-kasus besar, semakin berkelit tersangka, KPK akan mengeluarkan segalanya untuk menangkisnya. Termasuk berbagai pembicaraan yang tidak perlu seperti dalam kasus Presiden PKS yang terkenal dengan pembicaraan Pusthun atau Kakorlantas dengan istilah “peluru sekian selinder”.

Justru yang harus dilakukan seperti Nazarrudin dari “orang yang paling dicari”hingga kemudian nyanyiannya ditunggu setelah sedikit demi sedikit dia mengeluarkan kartu “jokernya’

Atau seperti Susno Duaji yang pernah terlibat dalam kasus “kriminalisasi” KPK “Cicak Buaya” namun justru menjadi “hero” yang akan mengancam akan membongkar di kepolisian. Setelah ditetapkan tersangka, Susno malah dianggap “hero”.
Atau dengan cara yang dilakukan Ketua SKK Migas yang “hanya diam” tidak mau berpolemik dengan KPK.

Kita menunggu adegan selanjutnya. Apakah penangkapan AM hanya permulaan dari terbongkar berbagai tuduhan yang serius di MK atau baru dimulainya “goro-goro” yang akan diakhiri tampilnya “Satria Piningit